blank
PMKRI Semarang. Foto: Dok/PMKRI

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Di tengah riuhnya aksi massa Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) yang digelar di Kota Semarang, terdapat satu momen yang mencuri perhatian publik.

Ketua PMKRI Cabang Semarang, Ramanda Bima Prayuda membuka orasinya bukan dengan teriakan perlawanan ataupun yel-yel massa, melainkan dengan membacakan doa “Saya Mengaku” bersama para peserta aksi yang beragama Katolik, baru-baru ini.

Doa yang dalam tradisi Gereja Katolik biasa digunakan sebagai sarana refleksi dan pengakuan kesalahan itu sengaja dipilih sebagai pembuka orasi. Bagi Bima, bangsa ini sedang menghadapi krisis keberanian untuk mengakui kekeliruan, terutama di kalangan pemegang kekuasaan.

“Doa ini bukan untuk mengkatolikkan massa aksi. Tradisi refleksi dan mengakui kesalahan ada dalam semua agama dan keyakinan. Saya mengawali dengan doa ini karena saya melihat pemerintah hari ini lebih sering menghadirkan “gimmick politik” daripada keberanian untuk mengakui kesalahan di hadapan rakyat,” ujarnya di hadapan massa aksi.

Menurutnya, pengakuan kesalahan merupakan fondasi penting dalam kehidupan berbangsa. Tanpa keberanian untuk mengevaluasi diri, kebijakan yang keliru akan terus dipertahankan dan pada akhirnya semakin membebani rakyat.

Dalam orasinya, Bima juga menyinggung kenaikan harga BBM non-subsidi yang belakangan menuai keluhan masyarakat. Ia mengajak massa merefleksikan dampak kebijakan tersebut melalui sebuah pertanyaan yang langsung disambut respons peserta aksi.

“Siapa yang merasa diprank oleh pemerintah? Kita bangun tidur, tiba-tiba harga BBM non-subsidi sudah melambung tinggi,” serunya.

Pertanyaan itu sontak disambut riuh peserta aksi yang mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga tersebut terhadap kehidupan sehari-hari.

Selain menyoroti persoalan ekonomi, Bima juga mengkritik susunan Kabinet Merah Putih yang menurutnya lebih tepat disebut sebagai “Kabinet Balas Budi”.

Menurutnya, sejumlah posisi strategis di lingkaran pemerintahan saat ini masih diisi oleh figur-figur yang memiliki kedekatan politik dan loyalitas kuat terhadap Prabowo-Gibran.

Ia juga menyinggung kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN). Menurut Bima, Dadan yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BGN dikenal sebagai sosok yang loyal kepada Prabowo-Gibran. Menurutnya, hal serupa juga terlihat pada Nanik yang kini memimpin lembaga tersebut.