Clarissa Martina Yovita Fallo
Di Antara Roti yang Terpecah dan Sunyi Salib
Malam turun tanpa suara,
dan sebuah meja sederhana menjadi saksi
roti dipecah dalam keheningan,
anggur dituang seperti cinta
yang memilih habis demi tinggal.
Ada tangan-tangan yang gemetar,
bukan karena dingin, melainkan karena sadar:
kasih sebesar ini tak pernah benar-benar layak diterima,
namun tetap diberikan.
Lalu jalan menjadi panjang dan sepi,
jejak langkah terasa berat oleh luka,
dan dunia seperti menahan napas
ketika kayu salib dipanggul
oleh kasih yang tak melawan.
Di sana,
di puncak sunyi yang paling perih,
langit pun seakan enggan berbicara
hanya ada penyerahan yang begitu dalam
hingga maut pun tak mampu menahannya.
Segala menjadi gelap,
segala seolah selesai
harapan dibaringkan dalam diam,
dibungkus duka yang tak bersuara.
Namun justru di kedalaman itulah,
sesuatu bekerja tanpa gemuruh
kasih yang tak terlihat
sedang menembus batas yang mustahil,
menyulam hidup dari kehancuran.
Dan ketika fajar akhirnya berani datang,
ia tidak berteriak,
ia hanya berbisik lembut:
bahwa yang mati
tak pernah benar-benar kalah,
dan yang terluka
tidak ditinggalkan selamanya.
Maka di antara roti yang terpecah
dan sunyi salib yang setia,
aku belajar percaya
bahwa dalam setiap kehilangan,
Tuhan sedang menyiapkan kebangkitan
yang tak pernah sia-sia.
Clarissa Martina Yovita Fallo, seorang suster di Biara Susteran SND Salatiga yang sedang menjalani studi di Prodi Ilkom UKSW Salatiga













