Oleh: MG Westri Kekalih Susilowati

ESKALASI Timur Tengah, tidak boleh hanya dipandang sebagai gejolak geopolitik saja. Eskalasi Timur Tengah memilki dampak ekonomi yang sangat besar melalui gangguannya pada rantai pasok komoditas, terutama minyak.
Gangguan rantai pasok minyak berpotensi mengarahkan perekonomian global pada situasi krisis, inflasi yang tinggi, dan kontraksi pada sektor industri.
Eskalasi Timur Tengah: Dampaknya Terhadap Perekonomian
Musim Dingin Kondrafieff mencerminkan perekonomian yang rapuh. Perekonomian global belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi COVID-19, pertumbuhan mengalami kontraksi, utang negara menggelembung, tingkat pengangguran tinggi, dan inflasi keran membajirnya likuiditas saat pandemi Covid-19. Jika tidak dimitigasi, eskalasi Timur Tengah adalah “shock” yang berpotensi mempercepat gerakan menuju depresi global.
Eskalasi Timur Tengah yang ditandai konflik Israel-Iran dan konfirmasi media pemerintah Iran atas gugurnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei, tak lagi dapat dilihat sebagai gejolak geopolitik. Dari kaca mata gelombang panjang Kondratieff, eskalasi Timur Tengah seolah-olah “membekukan bahan bakar” yang bisa mempercepat datangnya musim dingin.
Sebagaimana diketahui, negara-negara Timur Tengah merupakan negara-negara penghasil minyak terbesar dunia, Iran merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar ke tiga setelah Venezuela dan Arab Saudi. Iran mampu memproduksi minyak sebanyak 2,55 juta barel per hari yang setara dengan 3,5 persen dari total produksi minyak global (OPEC, 2024).
Oleh karenanya, konflik Israel-Iran sangat berdampak pada jalur perdagangan terpenting di kasawan tersebut, terutama jalur minyak mentah yaitu Selat Hormuz. Akibatnya, dapat terjadi kelangkaan energi yang dipaksakan secara geopolitik melalui ganggunan rantai pasok dunia melalui di Selat Hormuz.
Hal tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak dunia dan memicu inflasi yang menyebabkan kontraksi pertumbuhan global. Harga minyak mentah akhir Desember 2025 adalah USD 60.850 per barrel. Di awal tahun 2026, harga minyak mentah merangkak naik, akhir Januari USD 69.230 per barrel, akhir Februari USD 72.879 per barrel, pada saat penutupan Selat Hormuz tanggal 2 Maret USD77.740 per barrel, dan pada tanggal 3 Maret 79.559 per barrel.
Minyak mentah adalah sumber energi utama bagi industri di dunia. Lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi dari sisi penawaran melalui dorongan biaya produksi (cost push inflation) serta inflasi dari barang-barang impor (imported inflation).
Inflasi yang diebabkan oleh dorongan biaya sangat berbahaya pagi perekonomian karena dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan berpotensi mengarah pada kondisi stagflasi (petumbuhan ekonomi terhenti namun inflasi semakin tinggi Tidak berhenti pada dampaknya terhadap inflasi, lebih jauh naiknya harga minyak mentah akan menyebabkan tekanan fiskal dan moneter.
Di banyak negara melalui dampaknya pada beban subsidi minyak jika harga melampaui asumsi dalam APBN, risiki defisit anggaran semakin melebar. Tekanan moneter terjadi melalui jalur nilai tukar mata uang, terutama untuk mata uang lemah yang cenderung akan terdepresiasi.













