blank
Narasumber diskusi, Drs. Hadi Priyanto, M.M. Ketua Yayasan Kartini Indonesia serta Dr. Hj. Efa Ida Amaliyah, M.A., Ketua PSGA UIN Sunan Kudus bersama panitia dan peserta diskusi. Foto: Dok Panitia

KUDUS (SUARABARU.ID) — Semangat perjuangan Raden Adjeng Kartini kembali dihadirkan secara aktual di tengah kehidupan kampus. KORPS Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus bersama Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Kudus menyelenggarakan Diskusi Publik bertema “Surat dari Kartini: Refleksi Perjuangan Kartini sebagai Pelopor Gerakan Pemuda dalam Sejarah dan Inspirator Generasi Masa Kini,” pada Jumat, 22 Mei 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Laboratorium Terpadu Lantai 3 UIN Sunan Kudus ini berlangsung mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai dan diikuti oleh sekitar 60 mahasiswa dari UIN Sunan Kudus dan Universitas Muria Kudus. Hadir sebagai narasumber,  Drs. Hadi Priyanto, M.M. penulis dan sekaligus Ketua Yayasan Kartini Indonesia serta  Dr. Hj. Efa Ida Amaliyah, M.A., Ketua PSGA UIN Sunan Kudus. Sedangkan Dr. Muhammad Shohibul Itmam, S.Th.I, M.H. , Ketua Majelis Pembina Rayon (MABINRA) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus , tampil sebagai keynote speaker

blank
Dr. Muhammad Shohibul Itmam, S.Th.I, M.H. , Ketua Majelis Pembina Rayon (MABINRA) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus , tampil sebagai keynote speaker

Kegiatan ini hadir sebagai ruang refleksi dan dialog, membaca perjuangan Kartini dalam dua perspektif sekaligus: sebagai pelopor gerakan pemuda sebelum kemerdekaan, dan sebagai inspirator yang relevan bagi generasi masa kini. Di tengah tantangan globalisasi, disrupsi informasi digital, krisis identitas, dan melemahnya semangat kebangsaan, warisan pemikiran Kartini dinilai semakin mendesak untuk dibaca ulang dan diimplementasikan secara nyata oleh generasi muda.

Acara dibuka secara resmi pada pukul 13.30 WIB dengan rangkaian prosesi opening ceremony, meliputi pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yalal Wathon, dan Mars PMII, sambutan-sambutan, serta doa pembuka.

blank
Hadi Priyanto saat menerima piagam penghargaan dari Ketua KOPRI  Asmi Hilmiyati. Foto: Dok Panitia

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia, Dina Rizki Fitriani. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa diskusi publik ini diselenggarakan sebagai wujud nyata kepedulian KOPRI Rayon Ushuluddin terhadap isu-isu perempuan dan kebangsaan. Dina berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengenal Kartini sebagai sosok historis, tetapi juga menyerap nilai-nilai perjuangannya sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua KOPRI Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus, Asna Hilmiyati. Ia menegaskan bahwa diskusi publik “Surat dari Kartini” ini merupakan langkah konkret KOPRI dalam menghidupkan kembali api inspirasi Kartini , bukan sekadar sebagai peringatan historis, melainkan sebagai nyala yang harus terus menerangi setiap langkah gerakan pemuda Indonesia ke depan. Asna juga mendorong seluruh peserta, khususnya mahasiswi, untuk berani tampil sebagai intelektual yang aktif berkontribusi bagi masyarakat, sebagaimana Kartini lakukan di zamannya.

Memasuki sesi inti, Sahabat Dr. Muhammad Shohibul Itmam, S.Th.I, M.H. , Ketua Majelis Pembina Rayon (MABINRA) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus , tampil sebagai keynote speaker untuk membuka diskusi, membedah tema, dan memberikan landasan inspiratif kepada seluruh peserta sebelum sesi pemaparan materi oleh para narasumber.

blank
Ketua panitiaDina Rizki Fitriani  saat menyerahkan piagam penghargaan kepada Dr. Hj. Efa Ida Amaliyah, M.A., Ketua PSGA UIN Sunan Kudus. Foto: Dok Panitia

Narasumber pertama, Drs. Hadi Priyanto, M.M., Budayawan sekaligus Ketua Yayasan Kartini Indonesia, memaparkan materi berdurasi sekitar 60 menit dengan mengupas secara mendalam pemikiran dan perjuangan Kartini dalam konteks sejarah Indonesia pra-kemerdekaan. Sebagai sosok yang telah lama berkecimpung dalam pelestarian dan pengkajian warisan Kartini,  Hadi membawa perspektif yang kaya akan data historis dan analisis sejarah dan budaya yang jarang diketahui masyarakat umum.

Hadi Priyanto  menekankan bahwa Kartini bukan sekadar simbol emansipasi perempuan, melainkan seorang pemikir progresif yang melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya yang dikompilasi dalam buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), Kartini menorehkan gagasan-gagasan besar tentang pendidikan, kesetaraan, kebebasan berpikir, dan pembangunan peradaban bangsa. Korespondensi intelektual yang dijalin Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Belanda menjadi bukti nyata bahwa perjuangan Kartini bukan semata urusan domestik, melainkan sebuah gerakan pemikiran yang berskala luas.

blank
Sedangkan Dr. Muhammad Shohibul Itmam, S.Th.I, M.H. , Ketua Majelis Pembina Rayon (MABINRA) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus bersama narasumber dan peserta diskusi publik

Ia juga mengulas bagaimana surat-surat Kartini menjadi manifestasi perlawanan intelektual terhadap kolonialisme dan feodalisme yang mengakar kuat di masyarakat Jawa kala itu. Diskusi-diskusi Kartini menyentuh ranah teologi, kritik sosial, hak asasi manusia, hingga pentingnya pendidikan bagi perempuan, sesuatu yang sangat berani di tengah struktur sosial yang sangat patriarkis pada masa itu.

Lebih jauh, ia  mengungkapkan bahwa pemikiran Kartini tentang identitas kebangsaan, harga diri pribumi, dan cita-cita kemerdekaan menjadi benih yang menyulut api nasionalisme, sebagai inspirasi bagi gerakan kebangkitan pemuda jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945.

blank
Sedangkan Dr. Muhammad Shohibul Itmam, S.Th.I, M.H. , Ketua Majelis Pembina Rayon (MABINRA) PMII Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus bersama narasumber dan panitia

Kartini disebut sebagai mata rantai penting dalam sejarah yang menghubungkan semangat perjuangan menuju Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928. Kontribusi gagasan Kartini, menurut Hadi, turut membentuk fondasi gerakan pemuda pra-kemerdekaan Indonesia yang kelak menjadi tulang punggung perjuangan bangsa.

Sesi berikutnya disampaikan oleh narasumber kedua, Dr. Hj. Efa Ida Amaliyah, M.A. , Ketua PSGA UIN Sunan Kudus , sekitar 45 menit. Ia membawa peserta pada refleksi kontemporer dengan judul materi “Meneladani Kartini untuk Generasi Masa Kini.”

Efa memaparkan bahwa esensi perjuangan Kartini berporos pada semboyan Habis Gelap Terbitlah Terang, sebuah ikhtiar menemukan kembali dimensi pemikiran intelektual yang melampaui zaman. Menurutnya, nilai-nilai perjuangan Kartini meliputi empat pilar utama: (1) kesetaraan gender, (2) kemandirian dan keberanian, (3) pendidikan, serta (4) keteguhan dalam prinsip.

Lebih lanjut,  Efa menguraikan tiga pilar perjuangan Kartini yang harus diwujudkan generasi modern, yakni: literasi kritis (menghidupkan budaya membaca, menulis, dan berdiskusi kritis), kemandirian berpikir (memiliki kedalaman epistemik agar tidak mudah terombang-ambing doktrin usang), serta advokasi sosial (menerjemahkan dialektika pemikiran keislaman dan kemahasiswaan menjadi aksi nyata pendampingan masyarakat).

Ia juga mengidentifikasi dua hambatan utama gerakan perempuan di era kini: domestifikasi pemikiran , yakni stigma sosial yang membatasi ruang kontribusi intelektual perempuan hanya pada fungsi reproduktif dan domestik , serta dangkalnya ruang dialektika, di mana media sosial kerap menjebak diskursus perempuan pada aspek permukaan semata, mengabaikan kajian mendalam dan analisis sosial kritis. Nilai-nilai Kartini, tegasnya, perlu diintegrasikan dalam kebijakan pendidikan dan sosial demi menciptakan masyarakat yang inklusif.

Jalannya diskusi dipandu secara dinamis oleh Sahabati Jazilatul Amna selaku moderator. Sesi tanya jawab yang berlangsung memperlihatkan antusiasme tinggi peserta dalam mengajukan pertanyaan dan mengaitkan pemikiran Kartini dengan realita yang mereka hadapi sehari-hari sebagai mahasiswa.

Sekitar 60 mahasiswa dari UIN Sunan Kudus dan Universitas Muria Kudus yang hadir menunjukkan keterlibatan aktif sepanjang acara. Diskusi ini menjadi ruang dialog konstruktif yang menjembatani perspektif historis dan konteks kekinian, sehingga warisan Kartini tidak berhenti sebagai simbol semata, tetapi menjadi energi gerakan nyata bagi pemuda.

Diskusi ini selesai pada jam 16.30 WIB dan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada narasumber berupa sertifikat dan plakat, serta tak lupa sesi foto bersama seluruh peserta, narasumber, dan panitia. Ketua KOPRI Rayon Ushuluddin, Asna Hilmiyati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen KOPRI untuk menghidupkan kembali api inspirasi Kartini , bukan sekadar sebagai peringatan historis, tetapi sebagai nyala yang terus menerangi langkah gerakan pemuda Indonesia ke depan.

Diskusi Publik ini merupakan kolaborasi antara KOPRI Rayon Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus dengan PSGA UIN Sunan Kudus, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam mendorong kesadaran gender, literasi intelektual, dan semangat kebangsaan di lingkungan kampus.

Septiana W –  Ozza Ainunajib, Pengurus Rayon PMII Ushuluddin Komisariat Sunan Kudus.