
SATU orang seribu rambut, satu orang seribu tingkah laku . Tidak ada orang tidak bertingkah, sekali pun orang itu bahkan sudah tidak berambut lagi. Itulah ciri khas setiap individu, yakni bertingkah.
Ada tingkah laku yang di mata umum dipandang positif, ada pula yang dipandang sebaliknya. Ada tingkah laku yang bermanfaat bagi sesama, ada yang dapat merugikan atau sekurang-kurangnya membuat jengkel pihak lain.
Salah satu tingkahlaku yang menarik dan kontekstual saat ini ialah banyaknya wong-wong aleman. Berakar dari kata alem, berikutnya diberi panambang (akhiran) -an, terbentuklah kata aleman, sebagai penunjuk kepada pelaku atau orangnya.
Baca juga Asari, Tan Arisa, dan Tan-Tan Tuman
Terlalu sering dialem, lama-kelamaan terbentuklah sikap dan sifat seneng dialem, dan orang seperti itulah yang kemudian dapat disebut wong-wong aleman, orang-orang yang suka bahkan minta harus selalu dialem, dipuji-puji.
Dampak berupa sikap atau tingkahlaku paling nyata pada diri wong-wong aleman ialah tersinggung atau bahkan marah manakala ora dialem; malahan hal itu dapat menjadi-jadi bila bukan aleman yang muncul, melainkan kritikan.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari, kritik sebenarnya tidak atau kurang disukai oleh banyak orang, karena mereka lebih senang tidak dikritik, melainkan dialem.
Kok tersinggung?
Mengapa kritik sering dirasakan menyinggung? Salah satu sebabnya telah dikatakan, yakni karena orang tidak terbiasa mendengar celaan, kritik; sebaliknya ia terbiasa dialem-alem. Karena terbiasa dialem-alem, satu kali saja dikritik, orang itu sudah tersinggung, boleh jadi marah (marah). Berlaku sebaliknya, karena terbiasa dicela, diejek atau dikritik, begitu suatu kali dialem, orang itu merasa justru diejek.
Kritik dirasakan menyinggung perasaan karena pada umumnya kritik yang terlontar secara langsung sering menyangkut orangnya, bukan sekedar masalahnya atau kekurangannya. Dalam ungkapan lain, kritik dapat sangat kontra produktif karena menyerang orangnya, ad hominem.
Jadi wong-wong aleman itu sebetulnya bukanlah antikritik, melainkan hanya selalu minta, kalau akan menyampaikan kritik, sampaikanlah asal jangan menyinggung perasaan. Maklum wong-wong aleman itu umumnya berperasaan halus.
Rentan korupsikah?
Pertanyaan sangat menarik terkait dengan wong-wong aleman ini, ialah apakah orang-orang yang tergolong wong-wong aleman itu rentan korupsi? Jika yang tergolong wong-wong aleman itu pejabat, di birokrasi atau pun instansi lainnya, apakah mereka itu rentan korupsi? Jawabannya, sangat besar kemungkinannya untuk bertindak korupsi apalagi kalau peluangnya besar.
Baca juga Tanpa Tepi
Wong-wong aleman, apalagi sudah mendarahdaging, pasti ada kecenderungan untuk mempertahankan “prestasi” baiknya dengan berbagai cari. Dalam rangka “membentengi” dirinya dari berbagai serangan kritik itulah, wong-wong aleman pasti membutuhkan pasukan pendukung, berlapis mungkin. Semua itu pasti membutuhkan biaya.
Ada pepatah berbunyi: “Setiap orang punya harga sendiri.” Wong-wong aleman jelas punya harganya sendiri yang pasti mahal. Karena itu harus dilindungi, dibetengi, dijaga ketat. Bahkan sangat mungkin, harga wong-wong aleman tergolong harga mati: Sekali dialem, kudu dialem terus. (Catatan: Tidak perlu ditanyakan, siapa tergolong wong-wong aleman itu?)
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng













