KATA welas, –dibaca seperti Anda mengucapkan gelas retak lalu pecah- , semakna dengan kata melas atau pun memelas. Artinya ialah mesakake, kasihan banget, memrihatinkan (sekali).
Mengapa (seseorang) mesakake? Apa yang mendorong seseorang perlu diberi belas kasihan? Ada banyak lagi pertanyaan dapat dimunculkan terkait dengan mesakake ini, namun intinya hati ini tergerak oleh belas kasihan ketika melihat ada orang sedang mengalami penderitaan, sakit atau kesakitan, kelaparan, bingung, dan lain sebagainya. Mesakake!!
Tergerak hati oleh rasa belas kasihan adalah perasaan sangat manusiawi dan dapat dialami oleh siapa pun manakala berhadapan dengan suatu kondisi yang menyedihkan. Justru aneh jika ada orang tidak tergerak hatinya ketika berhadapan dengan kondisi menyedihkan yang sedang dialami oleh pihak/orang lain. Tumpul hati, orang semacam ini.
Dan dewasa ini, lagi-lagi jika tidak sedang tumpul hati kita, ada saja orang yang sedang berada dalam kondisi menyedihkan karena permasalahan ekonomis, kena bencana, dan lain sebagainya. Ada yang mengalaminya hanya sebentar karena segera teratasi; namun tidak mustahil ada yang bertahun-tahun berada dalam kondisi menyedihkan dan belum memeroleh solusi. Nah…….kondisi semacam inilah yang dapat disebut dengan welas tanpa alis.
Tanpa alis
Semua orang tahu apa itu alis, yaitu rambut melintang horizontal di atas mata setiap orang. Bagi hampir semua perempuan, alis adalah bagian penting dari wajahnya dan harus dipertebal jika merasa tidak tebal. Alis juga dapat diperpanjang sedikit agar menambah daya-ayunya.
Baca juga
Bahkan ada yang mengerok alis aslinya, lalu diganti dengan alis palsu yang lebih trendy. Pokoknya, berbagai upaya dapat dilakukan terhadap alis untuk (merasa) tambah ayu. Maka, bayangkanlah jika ada seseorang (perempuan lagi) tampil tanpa alis. nJur piye, iki?
Jadi, kosakata welas tanpa alis dapatlah dikaitkan dengan kondisi seseorang yang “memrihatinkan” banget karena tidak percaya diri tampil jelek. (Ehhh, benarkah jelek??).
Baca juga Tanpa Rikuh-(Rikuh)
Tetapi tentang ungkapan tanpa alis ini, ada juga yang menyebutkan jangan-jangan kata alis itu berupa mlesetake, sebutlah memelintir kata asih. Ungkapan “aslinya” sebenarnya welas tanpa asih, lalu entah disengaja entah pula salah pendengarannya, ungkapannya berubah menjadi welas tanpa alis. Kemungkinan perubahan semacam itu sangat terbuka terjadi.
Mesakake banget
Kembali ke awal tulisan, welas tanpa alis menunjukkan keberpihakan perasaan, empati dan simpati, kepada orang/pihak lain berhubung kondisinya yang menyedihkan. Tentang simpati dan empati inilah, kisah berikut menjelaskan. Seorang pengusaha bersama istrinya terkesan sekali menyaksikan pementasan drama kolosal yang mengisahkan penyaliban Almasih.
Bukan saja mereka berdua terisak-isak ikut sedih, bahkan setelah selesai pementasan, suami istri itu pergi ke belakang panggung. Mereka menemui aktor pemeran pemanggul salib untuk mengucapkan selamat dan terima kasih. Sang suami tiba-tiba melihat kayu salib tersandar di tembok, dan segera ia meminta istrinya mengambil foto manakala ia memanggul salib itu.
Baca juga Tanpa Tepi
Ia berusaha meletakkan kayu itu di pundaknya, tetapi gagal karena beratnya. Ia menyerah tidak mampu, lalu berkata kepada sang aktor: “Kukira salib ini ringan, dan Anda berpura-pura saja memanggulnya seolah-olah berat.”
Sang aktor tersenyum sejenak, baru memberikan jawaban: “Jika ringan dan saya hanya berpura-pura berat; saya tidak mungkin dapat memerankannya dengan baik. Tergerak hati itu tidak mungkin berpura-pura.”
Welas tanpa alis tidak mungkin seolah-olah atau serba berpura-pura. Memang ada, orang yang berpura-pura penuh belas kasihan, atau selalu berkata: “Saya bantu doa untuk meringankan penderitaanmu,” tetapi ia tidak pernah benar-benar mendoakannya.
Ada juga maksud hati menerapkan welas tanpa alis, tetapi ketika namanya tidak ditulis atau disebutkan, orang itu marah, mutung, lalu tidak mau berurusan lagi. Di sinilah rupanya ungkapan welas tanpa alis ini dapat dikembangkan menjadi welas tanpa asih, atau bahkan welas tanpa pamrih.
Ada saja tindakan apa pun dipenuhi pamrih, termasuk tindakan berbelas kasihan. Wong akeh, memang macam-macamlah maunya.
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng













