
BAPAK Presiden, bacalah tulisan pendek ini sekedar sebagai selingan kesibukan, meskipun mungkin dapat menjadi masukan berkaitan dengan “perilaku budaya kerja” para pembantu Bapak.
Ratusan pembantu Bapak, -orang pada umumnya menyebut “orang istana” -, pasti tidak semuanya Bapak kenal perilaku budaya kerjanya. Mereka terbagi ke dalam tiga golongan perilaku kerja menurut kajian budaya Jawa, yakni perilaku asari, tan arisa, dan tan-tan tuman.
Ketiga kosa kata itu berhulu dari bahasa Kawi kuna dan bermuara pada perilaku kasat mata, ditatap seksama oleh masyarakat.
Baca juga Tanpa Tedheng Aling-Aling
Tanpa perlu menyebutkan nama masing-masing pembantu Bapak, masyarakat pasti langsung membuat pemilahan, siapa termasuk sebagai asari, tan arisa, dan tan-tan tuman.
Asari
Perilaku asari adalah orang yang bersikap sareh (bacalah seperti mengatakan “Ia orang saleh”), namun tumuli nyambut gawe. Perilaku asari tergambar dalam pribadi orang yang penyabar namun cepat dan segera bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Ada sejumlah pembantu Bapak tergolong asari ini, terutama tanpa menuntut ini-itu, tanpa mengeluh itu-ini mereka segera bekerja. Perilakunya tidak mengutamakan yang serba seremonial, melainkan lebih terpanggil untuk segera bekerja.
Pertanyaannya, berapa orang tergolong berperilaku asari ini dalam kabinet Merah Putih saat ini?
Tan arisa
Seseorang tergolong berperilaku tan arisa manakala orang itu cenderung dalam hampir segala hal maunya serba cepat, serba tergesa-gesa; dan ikutannya ialah orang ini mengesankan sarwa kasar, keras, dan tidak mau kompromi. Siang ini memberi perintah, besok pagi semuanya sudah harus tahu dan siap melaksanakan; sore harinya siap melaporkan.
Baca juga Tanpa Tepi
Perilaku tan arisa tidak sabar menunggu, sebab orang ini melandasi pemikirannya bahwa semua orang (anak buah??) harus seperti saya, secepat saya, sesigap saya.
Perilaku tan arisa cenderung mengambil keputusan sendiri, tetapi haeus dilaksanakan oleh semuanya segera. Nyaris tidak ada atau tidak membuka ruang untuk bertanya karena yang terpenting laksanakan, laksanakan, dan laksanakan.
Berbahagiakah orang berperilaku tan arisa seperti ini? Ukuran kebahagiaannya terletak pada: Bahagia jika segala sesuatunya cepat, cepat dan cepat. Idiom Jawa sebenarnya telah memberi peringatan kepada orang bertipe tan arisa ini: Age-age sing dioyak apa, rendhe-rendhe sing dienteni sapa.
Anda serba tergesa itu mengejar apa atau siapa; namun berlambat-lambat mau menunggu apa/siapa? Maknanya, wajar-wajar sajalah dalam bekerja itu. Kalau pun memiliki target yang segera harus dicapai, seyogianya dibicarakan bersama, bukannya hanya diputuskan sendiri, selanjutnya diperintahkan saja. Jangan begitu.
Tan-tan tuman
Kelompok ketiga disebut tan-tan tuman, -ada juga tantuman; gambaran orang yang melaksanakan pekerjaannya tanpa perlu melakukan penyesuaian berhubung sudah terbiasa atau mengetahuinya.
Bagaikan keluarga yang tempat tinggalnya berada bersebelahan dengan rel kereta api; awalnya keluarga itu pasti terganggu suara kereta api setiap kali lewat. Namun lama-kelamaan, karena sudah beradaptasi sedemikian rupa, sering suara kereta api lewat tidak diketahuinya. Itulah tan-tan tuman atau tantuman.
Sejumlah pembantu Bapak tergolong berperilaku tan-tan tuman ini, sudah sangat fasih untuk menerjemahkan apa maunya Bapak. Perilaku kerja ini bukan saja sudah cepat beradaptasi, bahkan sudah tahu persis pada pukul berapa “kereta api akan lewat.”
Namun, pada sisi lain, karena sudah terbiasa, orang sangat mungkin kurang kreatif dan cenderung menunggu perintah (baru).
Bapak Presiden, satu pegangan agar ketiga tipe perilaku kerja itu optimal sesuai dengan masing-masing tipenya, Bapak hendaknya menggariskan apa yang disebut dengan tan kena ora. Inilah garis keharusan yang sepantasnya dimaknai jelas-tegas oleh mereka yang tergolong asari, tan arisa, dan tan-tan tuman..
Bapak Presiden, salam hormat saya:
JC Tukiman Taruna, pemerhati pendidikan dan budaya Jawa













