blank
Ilustrasi. Rka: SB.ID

blank

PERNAHKAH terlintas dalam benak kita untuk tertarik membedakan makna holydays dan holy days? Tulisan dari kedua kata itu mirip saja, hanya beda dalam spasi saja. Holydays tanpa spasi sebagaimana holy days. Di tangan seorang bernama Sidney Greenberg, dua kata itu dimaknai sangat mendalam, sebagai berikut: Holydays, hari libur, holy days, hari suci

Kesatu, pada hari libur kita pergi dan menanggalkan tugas-tugas kita; pada hari suci kita justru menghadapi tugas-tugas. Kedua, pada hari libur, kita mencoba mengosongkan pikiran kita; pada hari suci kita kontrol pikiran-pikiran kita. Ketiga, pada hari libur kita mengumpulkan semangat baru; pada hari suci kita mengisi penuh-penuh semangat kita.

Keempat, sewaktu libur kita merenda keinginan-keinginan kita; sedang pada hari suci kita menyukuri dan memasrahkan segala cita-cita. Kelima, hari yang satu, membawa perubahan pikiran dan cara pandang; hari yang satunya membawa perubahan dan ketenangan hati. Keenam, hari yang satu memanjakan tubuh ini; hari satunya menguatkan semangat, jiwa, dan nurani.

Baca juga Tanpa Sapa-Aruh

Dan ketujuh, (tambahan saya, nih) baik hari yang satu maupun hari yang satunya, Allah semata-mata yang selalu memberkati. Berkahe Gusti tanpa tepi.

Tepi dan Tanpa Tepi

Tembung tepi itu artinya pinggir, bambing; dan dalam bahasa Indonesia tepi bermakna pantai. Bambing itu artinya pinggir jurang, mengandung bahaya longsor, jatuh, roboh, dan lainnya. Tepi juga bermakna wates, dalam bahasa Indonesia disebut dengan kata batas. Kalau ada tempat atau kota bernama wates, kemungkinan besar dia berada di pinggir(-an), di perbatasan, atau bisa juga  dianggap sebagai daerah terbelakang.

Berkahe Gusti tanpa tepi menggambarkan kesadaran nurani manusia betapa berkat Allah tiada batasnya: Tak berbatas, tak terbatas, dan tidak pernah ada habis. Itulah tanpa tepi. Kesadaran semacam itu disuburkan pada saat kita menghayati holy days  Semakin holy days dihayati dan diharap-harapkan seperti mengharap-harapkan holydays kita semakin dicerahkan oleh berbagai pengharapan.

Besarnya pengharapan itu semakin membara manakala atine terus bungah awit berkahe Gusti tanpa tepi; hati senantiasa riang gembira karena berkat Allah tiada berbatas.

Tanpa tepi bukan hanya soal berkat Allah, karena apa pun yang tidak mengenal batas, ungkapan tanpa tepi dapat dipergunakan. Bahkan terkait kondisi duka pun tanpa tepi sangat pas. Jika di sana terjadi ada anak-anak keracunan, di sini juga ada; di sono juga terjadi; lalu media mengabarkan kejadian itu terus-menerus; ungkapannya menjadi: Wahhhh, jan…..tanpe tepi kabare.

Artinya, berita itu  terus-menerus, sambung-menyambung sesuai kejadiannya. Apakah dalam hal ini dapat disama-artikan dengan berlebihan, lebay? Rasanya tidak. Namun dapat mengarah ke berlebihan jika kabar itu dibesar-besarkan padahal senyatanya tidak sebesar yang dibesar-besarkan itu. Ini pasti tidak dapat menggunakan ungkapan tanpa tepi.

Tanpa tepi dapat juga secara terbatas dipakai untuk mengungkapkan wis ora kurang-kurang.; sudah tidak ada kekurangan suatu apa pun.

Contohnya: Orang tua yang sudah sampai ke rasa bosan yang memuncak karena belum berhasil menasihati anaknya agar tidak suka keluyuran, ia akan berucap: Wis ora kurang-kurang aku nuturi; sudah sangat sering aku nasihati, tanpa tepi esuk sore awan bengi.

Baca juga Tanpa Rikuh-(Rikuh)

Orang tua itu menegaskan betapa baik pagi, siang, sore maupun malam ia sudah memberi tahu anaknya. (Padahal, semakin anak diomelin, semakin ia tidak tunduk atas apa pun omelan ortunya.)

Dalam sebuah lokakarya tentang “Memahami Gerakan masyarakat membangun masyarakatnya” muncul pertanyaan: Mengapa masyarakat dewasa ini cenderung serba ngeyel(-an)? Sampai-sampai pengaruhnya di tingkat rumah tangga: Suami mengeluh, istri dan anak-anaknya serba ngeyel; sebaliknya istri juga mengeluh: Suami dan anak-anaknya ngeyelan.

Jawaban paling gampang memang: Tanpa tepi, ngeyele………….!!!!

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng