blank
Ilustrasi. Reka: wied SB.ID

Si anak buah super sibuk itu bertanya: “Apakah tempat tujuan raja hendak bepergian jauh ini, semuanya sudah dikontak, sudah disiapkan segala sesuatunya?”

Raja menjawab: “Belum. Memang perlu disiapkan?” Prajurit itu menjawab, sangat perlu untuk sebuah kepastian. “Raja mau ke mana, berapa lama, apa saja yang dibutuhkan di sana? Bukankah semuanya harus dipersiapkan, raja?”

Raja terdiam cukup lama, namun tiba-tiba si sersan itu klepat bergegas pergi keluar ruangan. Tidak berapa lama lagi ia datang lagi membawa sebuah bungkusan. Diserahkan bungkusan itu kepada raja, ucapnya: “Untuk bekal di perjalanan.”

Ketika dalam perjalanan sehari, raja minta kereta putar balik ke kerajaan, setelah raja membuka bungkusan itu. Ternyata tongkat komandonya yang dulu pernah dititipkan kepada si sersan. “Wah……. aku ora paja-paja katimbang kowe,” kata raja kepada prajurit rendahan itu

Ora paja-paja

              Arti ora paja-paja ialah “ora ……..…….. babar blas    Titik-titik itu harus diisi sesuai konteksnya. Dalam contoh kata-kata raja: “Wahhhh………aku ora paja-paja katimbang kowe,” itu maknanya: Aku ora sebanding karo pintermu, babar blas aku kalah. Intinya memang ora sebanding, tidak imbang untuk dibandingkan. Bahasa gaulnya ada yang mengatakan pedhot, atau adohhhhh. Kalau si Tini dibandingkan dengan kecantikan si Luna Naya, wahhhhh pedhotttttt, adohhhhh Djum…..babar blas ora imbang.

Ora paja-paja berlaku untuk membandingkan apa saja atau siapa saja. Untuk membandingkan harta benda kekayaan, silahkan; mau membandingkan kecantikan, boleh. Pun bisa saja untuk  membandingkan hasil korupsi zaman now dengan tahun 70-an. Sekali lagi, intinya untuk menggambarkan betapa tidak sebandingnya, dan ungkapan khasnya ………babar blas .

Mau membandingkan antarpejabat? Silakan. Misalnya, bagaimana model korupsi di zaman Orde Baru dibandingkan dengan di zaman sekarang. Pasti ada yang berkata: “Wouwwww………. adoh babar blas. Dulu hitungannya hanya jutaan, sekarang triliun-an. Ora paja-paja.

Baca juga Ora-Orane Yen….

Suatu sore, raja memanggil si “sersannya” dan berucap: “Tongkat mbokbalekake aku. Tegese kowe luwih pinter katimbang aku.” Si prajurit itu menjawab agak penuh ketakutan: “Boten ngaten, sinuwun. Tongkat saya kembalikan kepada pemilik resminya, inggih punika sinuwun,  agar raja tidak kehilangan wibawa.”

Dosen pascasarjana dalam mata kuliah Pengembangan Masyarakat (UNS, Surakarta), dan Filsafat Ilmu (SCU, Semarang)