
Beberapa waktu lalu beredar informasi bahwa angka pengangguran di negeri kita termasuk tinggi, bahkan ada yang mengatakan termasuk ranking tertinggi.
Mereka ini justru harus benar-benar diperhitungkan, jangan tidak. Harap jangan Ora direken.
Ora direken
Sudah sangat jelas, jangan ada pihak ora direken. Alasan paling mendasar adalah karena setiap individu manusia, apalagi kelompok manusia/masyarakat, memliki martabatnya (human dignity) yang bukan saja harus dihormati, melainkan menuntut harus dikembangkan oleh Pemerintah.
Baca juga Taktik Melu-Melu: Byung-Byung Tawon
Di sinilah selalu disebut-sebut mengapa pemerintah harus hadir, karena kewajiban utama pemerintah adalah mengembangkan secara optimal martabat manusia setiap warganegara. Tegasnya, siapa pun harus direken, aja ora direken.
Sebuah perusahaan memiliki aturan unik, yakni mengharuskan semua yang bekerja di perusahaan itu suami istri, namun bekerjanya harus berbeda divisi. Beberapa saat perusahaan itu maju pesat; tetapi lambat laun, lama kelamaan perusahaan mengalami masalah karena para istri bergiliran cuti hamil.
Untuk menekan banyaknya angka cuti hamil, perusahaan itu setiap hari meminta para istri mengukur diri dengan cara menghadap ke tembok dan kedua jempol kakinya harus menempel di tembok. Jika kedapatan ada istri yang berdirinya tidak tegak ketika pengukuran itu (tanda-tanda perutnya membuncit), pada bulan tertentu nanti, istri itu harus keluar dari pekerjaannya.
Protes para istri lalu terjadi. Mereka meminta agar jangan hanya para istri yang diharuskan melakukan test harian itu, tetapi para suami pun harus diwajibkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Pada bulan berikutnya, sejumlah bos laki-laki di perusahaan itu harus berangsur-angsur keluar dari pekerjaan. Mengapa? Dia, perutnya, lebih buncit dari para istri.
Liding dongeng, jangan diskriminatif tentang apa dan siapa pun. Semua orang harus direken ya, dan jangan ora direken, siapa pun orang itu. Setiap individu memiliki martabatnya.
JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang













