blank
Seisya Ainun Azalia, siswi kelas 5 SDN 9 Panggang Jepara, berhasil mencuri perhatian dewan juri dan mendapat juara 1 lewat dongeng berjudul “Gema Kayu di Desa Tahunan. Foto: Panitia Persiapan FLS3N SDN 9 Panggang.

JEPARA (SUARABARU,ID) – Langkah kecil itu berjalan mantap memasuki ruang lomba FLS3N Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional SD Tingkat Kabupaten yang berlangsung di Gedung Disdikpora Kabupaten Jepara (19/05).

Di tangannya tak ada naskah tebal, hanya keyakinan dan latihan panjang yang selama ini menemannya. Dengan balutan semangat dan senyum sederhana, Seisya Ainun Azalia, siswi kelas 5 SDN 9 Panggang Jepara, berhasil mencuri perhatian dewan juri lewat dongeng berjudul Gema Kayu di Desa Tahunan”.

blank
Seisya Ainun Azalia, siswi kelas 5 SDN 9 Panggang Jepara saat menerima hadiah cabang lomba Mendongeng FLS3N tingkat Kabupaten Jepara. Foto: Panitia Persiapan FLS3N SDN 9 Panggang.

Dongeng yang diangkat Seisya bukan sekadar cerita biasa. Ia membawa napas budaya Jepara melalui kisah ukiran kayu yang menjadi Identitas Kota Jepara yang merupakan Kota Ukir. Lewat intonasi yang kuat, ekspresi yang hidup, serta penghayatan yang mendalam, Seisya mengajak penonton menyelami pesan tentang kesabaran dan tanggung jawab dalam menghasilkan karya terbaik.

Tak heran, namanya akhirnya diumumkan sebagai juara lomba mendongeng tingkat Kabupaten Jepara dan akan maju mewakili Kabupaten Jepara ke jenjang Provinsi Jawa Tengah dalam waktu dekat ini.

“Pastinya sangat bahagia dan bangga. Semua usaha dan latihan selama ini membuahkan hasil. Rasanya seperti mimpi dan harapan menjadi kenyataan,” tutur Seisya penuh semangat.

Keberaniannya tampil di depan umum tidak tumbuh begitu saja. Dukungan guru, keluarga, dan teman-teman yang menyayanginya menjadi sumber kekuatan terbesar. Baginya, melihat orang-orang di sekitarnya berani tampil membuat dirinya ikut percaya bahwa ia juga mampu.

Di balik keberhasilan itu, ada sosok guru pendamping Sufiah Dian Mulyani yang setia mendampingi setiap proses latihan. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya memilih cerita yang tepat, tetapi juga membangun rasa percaya diri Seisya agar mampu menguasai panggung.

“Cara mengatasinya dengan latihan intensif, memberi motivasi terus-menerus, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan matang,” ujarnya.

Menjelang lomba FLS3N 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah, persiapan dilakukan lebih serius. Evaluasi dari penampilan sebelumnya menjadi bahan pembelajaran, mulai dari intonasi, ekspresi, hingga teknik penyampaian cerita.

Seisya juga terus berlatih agar penampilannya semakin menarik dan mampu memberikan kesan mendalam bagi penonton maupun juri. Bagi teman-teman seusianya di Jepara, Seisya memiliki pesan sederhana namun penuh makna.

“Jangan takut tampil dan bermimpi. Terus ikhtiar dan berdoa karena itu kunci utama. Pengalaman sangat penting untuk membuat kita menjadi lebih baik. Yakin kamu bisa,” katanya.

Sementara itu, Kepala SDN 9 Panggang, Nur Indah Rahmawati, menilai kemenangan Seisya menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa jika mendapatkan dukungan yang tepat.

“Kemenangan Kak Seisya setidaknya membuktikan tiga hal. Pertama, setiap anak memiliki potensi masing-masing. Kedua, sekolah dan orang tua harus berkolaborasi dalam mengidentifikasi, memfasilitasi, dan memaksimalkan potensi anak. Ketiga, kita harus yakin bahwa usaha maksimal, doa yang melangit, serta keyakinan kepada Allah Tuhan Yang Mahabaik akan memberikan rezeki terbaik bagi kita,” ungkapnya.

Kini, langkah Seisya tidak lagi hanya membawa nama sekolah, tetapi juga harapan masyarakat Jepara. Dari kisah tentang ukiran kayu di Desa Tahunan, gadis kecil itu sedang mengukir mimpinya sendiri, membawa gema budaya Jepara hingga ke panggung Provinsi Jawa Tengah.

Septiana W