blank
ILustrasi. Reka: wied SB.ID

Main aman dalam hidup sehari-hari  bisa langsung, tetapi juga bisa tidak langsung. Dan pasti lebih rumit ketika main aman itu dilakukan oleh berbagai pihak padahal hanya untuk mengamankan seseorang, misalnya.

Kluthak-kluthiknya mungkin sekali sangat canggih. Meski secanggih apa pun, main aman tetap saja njelehi, bikin muak bahkan; pun tidak menjamin ora bakal ora kebobolan. Di antara taktik main aman dalam kehidupan sehari-hari, kita kenal taktik mukir.

Apa itu mukir? Salah satu kehebatan manusia, -maksudnya hebat dalam arti ketika dia menjalankan taktik main aman-, adalah piawainya mukir, yaitu (a) selak,  (b) ora ngaku, dan (c) ora ngakoni. Bacalah selak sebagaimana Anda mengucapkan enak, tenda, atau sehat. Baik selak, ora ngaku, atau pun ora ngakoni  semua kata itu bernuansa tidak atau menolak.

Baca juga Taktik Cari Muka: Gupuh

Namun masing-masing memilik nuansa khas dalam konteks bahasa Jawa. Jika tiba-tiba seorang guru berkata di depan kelas: “Ada yang menyontek, nih??” pasti semua murid akan koor menjawab: “Tidakkkkk, Buuuuuuu.” Jawaban itu tidak menggambarkan mukir baik dalam arti selak, ora ngaku, atau pun ora ngakoni.

Akan tetapi, jika Bu Antik tiba-tiba setengah berteriak berkata: “Antok, jangan nyontek, ya!!” dan Antok gelagepan menjawab:  “Ballpoint saya habis tintanya, Bu.”

Nah……. itu contoh mukir, karena ternyata Antok sejak tadi mung kluthak-kluthik antara buka nutup dompet alat tulis dan bola-bali melihat sepatunya.

Selak sering terjadi sebagai sebuah pembelaan diri atau alibi ketika seseorang ditanya atau bahkan dituduhkan sesuatu. Kata-kata mutiara orang berlaku selak, di antaranya: Ora, dudu aku, embuh, aku tidak tahu, aja ngawur kowe, ndhasmu. Ia memungkiri sesuatu, menolak tuduhan.

Jika yang terjadi pertanyaan atau pun tuduhan itu kena-mengena dengan pembuktian sesuatu, biasanya secara refleks orang akan bersikap ora ngaku utawa ora ngakoni.

Kata mutiara-nya yang biasa muncul cenderung berupa pernyataan yang  bertentangan/ berlawanan, misalnya: “Kowe sing nyolong motor, ya?” Jawabannya pasti cenderung ora ngaku utawa ora ngakoni: “Boten, saestu boten.!”

Lebih canggih lagi, jawaban bernuansa ora ngaku utawa ora ngakoni, misalnya: “Buktikan saja ijazah saya plasu, ehhhhhh palsu.” Atau bisa juga bernuansa atau bersikap tidak tahu: “Mana saya tahu, tanyakan kepada yang berwajib?” Banyak juga  orang  yang menyampaikan jawaban-jawaban standar, seperti: “Itu tuduhan, fitnah,” lalu serta merta ia dapat mengatakan: “Yah….. kita buktikan saja di proses hukum.”

Intinya, cipir regane sewu;  sapa sing mukir jan-jane semua orang tahu. Sipir penjaga penjara; siapa suka mukir, bakal tahu rasa. Sopir pengemudi mobil, wong gampang mukir, berlaku tidak adil.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang.