blank
Ketua TJI, Lita, berfoto bersama para pembicara di akhir acara. Foto: R. Widiyartono

“Ilmu itu harus dijalankan atau dilakukan, diawali dengan niat yang baik, makan akan menjadi sesuatu yang menguatkan dan menjauhkan kita dari kesombongan dan tindak kejahatan,” ujar Tukiman Taruna.

Menurut Tukiman Taruna, dalam Sayap Sayup Sriti ini melakukan apa yang dalam Bahasa Jawa disebut ndeleng, meneng, menep. Dia melihat, dia diam merenungkan, dan mengendapkannya di dalam hati dan pikiran kemudian mengolahnya.

“Romo Kirjito kemudian ngothak-athik sampai gathuk. Sebenarnya yang menipu itu mata atau kamera,” ujar Taruna.

Dia juga menguraikan, bahwa Jawa itu memiliki lima “ik”, yaiku ikonik penuh lambang melalui ikon-ikon, unik dengan kekhasannya yang tiada duanya, historik berbasis pada sejarah, numerik semua bisa diangkakan, dihitung sehingga ada petung Jawa, dan futuristik berbicara masa depan melalui terawangan atau ramalan seperti yang dilakukan Jayabaya. Misalnya, Tanah Jawa bakal kalung wesi, dengan adanya rel kereta api yang menghubungan ujung ke ujung Tanah Jawa. Wader mangan manggar (adanya waduk yang menjadi pohon kelapa tenggelam sehingga ikan bisa memakan buanga kelapa (manggar), dan sebagainya.

Di akhir diskusi, Romo Kirjito mengingatkan, perlunya kedewasaan mata dalam menyikapi realitas. “Dewasa artinya kita harus dalam kesadaran memahami realitas yang terjadi,” ujarnya.

Yang menarik dalam diskusi ini adalah apa yang disampaikan Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain SCU Dr. Ir. Robert Rianto Widjaja, MT., IAI. Mendadak, dia bicara tentang filsafat bahkan berpuisi. “Saya merasa tersaingi, karenaq saya dari Fakultas Ilmu Budaya,” kata Angelika Riyandari.

“Kalau kita kesasar, kita harus naik lebih tinggi agar bisa tahu situasi. Kita harus belajar dari sriti, yang tidak dianggap, yang sarangnya direbut oleh walet, tetapi mereka tetap bercicit, menikmati waktu bersuka cita,” ujarnya.

Lita, Ketua The Java Institute SCU berharap, lembaganya menyediakan ruang untuk melakukan dialog lintas disiplin yang membuka ruang bersama. “Ini merupakan ruang dialog lintas disiplin. Kami berharap Bapak, Ibu yang hadir saat ini Kembali datang dalam acara kamai selanjutnya,” kata Lita.

R. Widiyartono