blank
Penulis buku "SayapSayupm Sriti", Rm Kirjito menerima kenang-kenangan dari Lita, Ketua The Java Institue SCU dalam diskusi buku di SHC SCU, Bendan Duwur, Rabu (7/5/2025). Foto: R. Widiyartono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Burung sriti yang sering kita lihat terbang lincah bagai menari di udara itu berwarna hitam. Ya, hamper semua orang yang pernah melihat burung sriti, sepakat bahwa ia berwarna hitam.

Tetapi, Romo Vincentius Kirjito menemukan bahwa bulu burung sriti tidak hitam seperti yang kita lihat. Romo Kirjito yang sedang bersepeda keliling desa sambil berolahraga, mendapati burung sriti terbang bagi menari di depannya. Kemudian burung-burung ini hinggap di lanjaran tanaman kacang panjang di pematang sawah.

Dia pun mengambil gambar burung-burung sriti ini, dan menemukan sesuatu yang aneh, ketika foto itu dibuka. Ternyata burung itu tidak berwarna hitam.

blank
Romo Kirjito, penulis buku “Sayap Sayup Sriti”. Foto: R. Widiyartono

“Ya saya beranggapan bahwa bersepeda itu juga berdoa, ora et sepeda,” ujarnya dalam The Java Institute Tea Talk “Sayap Sayup Sriti: Maturity through the Eyes of Awareness” di Studi HC, kampus Segijapranata Catholic University (SCU), Bendan Duwur Semarang, Rabu 7 Mei 2025.

Dalam diskusi yang berlangsung secara daring dan luring ini, Romo Kir mengatakan, burung sriti adalah makhluk yang diabaikan, sehingga dia sempat merasa kehilangan, karena burung-burung itu tidak lagi ditemukan.

“Ketika saya bersepeda, saya menghayati bahwa bersepeda juga berdoa, maka saya katakana ora et sepeda. Saya mendapati burung sriti di pancuran, kemudian beterbangan seperti menari, dan tidak menjauh dari saya. Kemudian hinggap di lanjaran kacang dan saya foto dengan kamera saya,” kata Romo Kirjito.

Dalam tangkapan kamera Romo Kirjito, burung sriti berwarna kebiruan, bahkan ada totol-totol cerah di dadanya. “Ini mata atau kamera yang salah?” ujar Romo Kirjito.

blank
Dari kiri pembicara JC Tukiman Taruna Sayoga, Muhammad Abdul Qodir, Robert Robert Rianto Widjaja, Angelika Riyandari, Romo V Kirjito, Louis Cahyo Kumolo, dan pemandu Lindayani. Foto: R. Widiyartono

Diskusi tentang buku Sayap Sayup Sriti ini menghadirkan narasumber pengarang buku yaitu Romo Kirjito, kemudian Muhammad Abdul Qodir Lc, MA Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin Demak yang juga pegiat Persaudaraan Lintas Agama, Louis Cahyo Kumolo Buntaran ahli ilmu komunikasi visual, dosen DKV SCU.

Pembicara lain Angelika Riyandari dari FIB SCU, dan Tukiman Taruna Sayoga, dosen Community Development Planning pada program pascasarjana di SCU, UNS, Undip, dan dipandu oleh Lindayani MP.