blank
Ilustrasi. Reka; wied SB.ID

blank

JIKA cucu berusia tiga tahun menyebutkan sembilan tambah lima jumlahnya menjadi/ada lima belas; orang seisi rumah besar kemungkinannya tertawa melihat lucunya sang cucu. Mungkin ada yang spontan menyalahkan; mungkin ada yang langsung nguyel-uyel  cucu yang imut-gemoy itu.

Suasananya serba lucu dan tertawa, tidak lebih tidak kurang. Dan, tidak berapa lagi orang seisi rumah sudah lupa,  karena si cucu sudah berulah yang lebih lucu lainnya.

Sebaliknya, jika seorang bupati keliru menjumlah sepuluh tambah enam menjadi/ada tujuh belas; …………………… nahh……….. ini dapat menjadi berkepanjangan urusannya. Bisa jadi, hari-hari berikutnya “sang tujuh belas” itu masih menjadi omongan, bisik-bisik, dan seloroh banyak pihak.

Baca juga Dadi Wong  

Tidak kurang, pasti ada saja pejabat anak buah pak bupati berusaha “meluruskan” dengan ungkapan-ungkapan tertentu. Misalnya, “Ohhh, bapak kemarin itu mau melucu agar tidak pada ngantuk.”

Sepele

Pernah terjadi juga, ke mana “bapak” bepergian untuk suatu agenda resmi berpidato, ke tempat itu pula mimbar-baca atau podium-baca, disebut juga jagrak-maca, khusus harus dibawa dari Jakarta. Mengapa? Jagrak-maca khusus  itu ketinggiannya sangat pas untuk beliau, dan nantinya dengan jagrak itulah beliau akan berpidato dengan nyaman, senang hati, dan menjadikan pidatonya lancar tanpa ada gangguan apa pun.

Inilah contoh-contoh barang sepele namun dapat berkepanjangan urusannya. Bila jagrak lupa terbawa dari Jakarta, atau pun pejabat salah mengalkulasi sepuluh tambah enam, atau bisa juga hak sepatu ibu pejabat lepas sehingga membuat semua pihak bingung mencari lem; semua itu menggambarkan kondisi/suasana sepele dadi gawe.

Tembung sepele, sangat khas Jawa, artinya remeh, lan uga tanpa aji. Sesuatu disebut remeh, yaitu kecil, sederhana; atau pun  tanpa aji, tidak bernilai, tidak ada harganya manakala hal itu (ucapan atau pun barang) dianggap tidak ada apa-apanya oleh khalayak pada umumnya.

Baca juga Dadi Gunem

Jagrak-maca di mana-mana ada, mudah didapatkan, harga pun murah; namun mengapa harus dibawa khusus dari Jakarta untuk sebuah agenda pidato “bapak?” Hak sepatu yang terlepas pun sudah tidak ada harganya, -termasuk sepatunya-; namun mengapa barang sepele itu dapat membuat sejumlah pihak kalang kabut jika tidak ada?

Dadi gawe

Memang betul, ketiadaan jagrak, di mata khalayak dapat dipandang sebagai mengada-ada bila membuat anak buah pontang-panting. Namun, barang sepele itu ketiadaannya bisa benar-benar dadi gawe karena nantinya “bapak” menjadi tidak berkenan, uring-uringan; atau bahkan satu dua orang anak buah memertaruhkan jabatan/posisinya karena keteledorannya.

Sepele dadi gawe menggambarkan kondisi kontras,  sebutlah sangat kontradiktif. Di satu sisi, jika hanya mendengar salah ucapnya, atau melihat sederhananya barang itu, siapa pun akan berkata: “Sepele banget, kuwi.”

Namun, bila dilihat konteksnya, atau pun dampaknya nanti, hal yang dianggap sepele itu dapat berdampak/berakibat besar. Salah ucap “tujuh belas” dapat menjadi bahan tertawaan, olok-olok, bahkan sindiran (Kok bisa dadi bupati, ya?).

Dalam konteks “para pihak yang sedang bermusuhan,” -ambil contoh suami-istri yang sedang gencatan senjata karena konfliknya- , kesalahan atau kekurangan kecil saja dapat lagi menyalakan api keributan besar, padahal hanya menyeringai sambil tertawa kecil.  Kecuali atas alasan konteks,  sepele dadi gawe dapat menjadikan suatu kejadian kecil berkobar menghanguskan hati dan perasaan ketika seseorang merasa dipermalukan (atau mempermalukan) di depan umum.

Ronaldo marah besar kepada pendukungnya karena para pendukung berteriak: “Wis, leren…….leren…….” berhenti sajaaaaaa!! Ia merasa diejek oleh penggemar di depan puluhan ribu khalayak penonton piala dunia.

Atas alasan agar hal sepele jangan menjadikan kalang-kabut atau heboh, -tegasnya untuk menghindari terjadinya sepele dadi gawe-, sering kali orang bersikap berlebihan. Lebay, istilah kerennya.

Enam bulan sebelum menikahkan anaknya, banyak keluarga sering sudah membentuk kepanitiaan dan hampir setiap dua minggu sekali harus diadakan rapat panitia. Apa yang dibahas? Umumnya hal-hal kecil saja, mulai dari pilihan warna seragam, siapa mengurus parkir, siapa cari pawang hujan, dsb. dst.

Ironisnya, jika rencana pernikahan seorang anak saja telah disiapkan jauh-jauh bulan kepanitiaannya; dewasa ini ada saja gawe besar dalam kehidupan berbangsa-bernegara mengesankan serba tergesa-gesa memersiapkannya. Akibatnya, ada saja hal-hal besar, apalagi hal-hal sepele, lalu dadi gawe.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat masalah pendidikan dan budaya Jawa tinggal di Ungaran