blank
Peserta diskusi buku Sayap Sayup Sriti lesehan dan diselinggi penampilan lagu “Ekspresi”-nyaTiti DJ yang dibawakan para mahasiswa SCU. Foto: R. Widiyartono

Romo Kir mengatakan, mata cuma menghasilkan bayangan yang kemudian diasah oleh otak. Dan, kamera menirukan cara kerja mata.

“Tetapi mata dan kamera tidak sama. Mata banyak gangguan dan hambatan, sedangkan kamera bisa diothak-athik menjadi lebih,” kata Romo Kirjito yang punya perhatian besar pada masalah lingkungan ini.

Pernyataan Romo Kirjito ditanggapi ahli komunikasi visual, Louis Cahyo Kumolo. “Burung sriti berwarna hitam, tetapi dengan menggunakan kamera jadi biru , itu tergantung cahaya yang tersedia atau bisa jadi ada gangguan pada mata. Maka diperlukan cross check agar didapati mana yang paling benar,” kata Louis.

Dia mengatakan, mata memang penting bagi kita, karena pada saat terjaga dari tidur yang terbuka adalah mata. “Dengan visual hal yang nyata bisa menjadi bias, dengan kamera apalagi yang kemudian diolah akan menjadi lebih bagus. Bisa dijadikan framing bisa dimanipulasi, sesuai dengan tujuannya,” ujar Louis.

Hyper Reality

Sedangkan Angelika Riyandari menyebut adanya teori hyper reality. “Sekarang ini banyak yang tidak riil. Dengan google earth kitab isa memajang diri berada di Paris, dan sangat nyata di dekat Eiffel ada apa pun terlihat. Padahal itu tidak nyata,” ujar dosen FIB SCU ini.

Ketidaknyataan dan kenyataan ini, kata Ika, diolah menjadi sesuatu yang more than real, yang melebihi kenyataan. “Buku Sayap Sayup Sriti menjadikan saya gelut (bertengkar) dengan suami. Suami mengatakan sriti itu hitam, tetapi saya bilang di buku ini warnanya biru. Membaca buku Romo Kir ini mengubah realitas dunia. Jangan-jangan buku ini menyesatkan orang,” ujar Ika.

Pembicara lain, Muhammad Abdul Qodir mengatakan, suatu realitas yang relatif, tergantung perspektif. Dia juga menanggapi spiritualitas Romo Kirjito Ora et Sepeda. “Bahwa berdoa itu tidak harus di kastil yang sunyi, di sanggar pamujan. Dalam Islam hidup itu sebuah perjalanan, hidup harus melakukan perjalanan sebagai pembelajaran untuk mendapatkan hikmah,” ujar Qodir.

blank
Diskusi berlangsung secara daring dan luring, diikuti peserta di luar studio HC SCU Foto: R. Widiyartono

Manusia sering terkunkung dalam perspektif. “Orang sering mengukur orang lain dengan ukurannya sendiri. Kita tahu bahwa teh ini rasanya manis karena kita cecap, bukan karena katanya,” ujar Qodir.

Romo Kirjito yang “berdoa sambil bersepeda”, menurut Qodir, dalam ajaran Jawa semacam tapa ngrame – bertapa dalam keramaian.

“Ini menumbuhkan kesadaran kita sebagai hamba Tuhan dalam hiruk-pikuk keramaian dunia,” kata lulusan Universitas Al Azhar Kairo, Mesir ini.

Ngelmu dan Laku

Tukiman Taruna Sayoga yang mendapat kesempatan terakhir untuk berbicara, mengawali tanggapannya dengan menyanyikan tembang macapat, Pocung: Ngelmu iku, kalakone kanthi laku/ lekase lawan kas/ tegese kas nyantosani/ setya budya pangekese dur angkara