DALAM konteks Hari Kartini, ada banyak aspek yang dapat digali atau pun dibahas; dan salah satu hal yang sering lupa terbahas adalah tentang ngadi sarira, yaitu macak, berdandan, bersolek.
Selama ini, sejauh kita sering melihat tampilan foto-foto Ibu RA Kartini, beliau selalu tampil macak, berdandan; dan dengan sangat anggunnya, tampilan bersanggul, gelung kondhe, sungguh menunjukkan betapa beliau selalu menjalankan yang disebut ngadi sarira, merawat tubuh, menjaga penampilan sedemikian anggunnya. “Ibu kita Kartini, putri sejati; putri Indonesia ……”.
Secara kodrati-alamiah, perempuan memang memiliki kelebihan karunia disbanding dengan laki laki. Salah satu kelebihan itu terletak pada rambut di kepala. Sama-sama disebut rambut, namun rambut perempuan membawa serta daya tarik tersendiri.
Maka disebutlah mahkota perempuan; dan menjadi lebih menarik lagi ketika rambut itu ditata sedemikian rupa, sampai-sampai karena tatanan rambut itu, orang yang melihatnya bisa pangling.
Baca juga Taktik Membangun Ala Kandhang Bubrah
Serasa asing, baru, belum pernah mengenal; lagi-lagi hanya karena mahkotanya itu diatur dengan nuansa ngadi sarira; macak. Satu di antara menata rambut perempuan, sejak dulu dikenal ada gaya kadhal menek.
Menek
Bacalah menek seperti Anda mengucapkan nenek, bebek, atau becek. Silahkan agak jewewek sedikit bibir Anda; dan tentang menek ini artinya memanjat. Maka arti harafiah kadhal menek ialah kadal memanjat. Bayangkanlah seekor kadal memanjat dinding atau pohon: ia tegak mengarah ke atas.
Dan itulah gambaran menata rambut perempuan; yakni rambut ditarik ke atas, diukel, dan ditata sedemikian rupa sampai tengkuk kelihatan mulus dan ukelan rambut di atas sana dapat dibuat menyerupai ekor kadhal atau pun bahkan kepalanya.
Contoh konkret tentang hal ini silahkan Anda amati para pramugari sebuah maskapai penerbangan. Mereka, dalam melnjalankan tugasnya, harus tampil dengan baju dan kain seragam, tetapi juga rambutnya ditata bergaya kadhal menek.
Sangat menarik tampilan semua pramugari itu. Ora ana sing ora ayu, semua tampil cantik, anggun, dan lebih menarik lagi orang-orang itu dilihat dari belakang. Kadhal menek-nya sangat khas, tengkuknya nampak bersih putih-putih. Puji Tuhan.
Semua itu karena taktik kadhal menek dalam upayanya ngadi sarira. Memang, kelebihan perempuan seperti itu patut disyukuri; dan dalam bersyukur itu tetap ingat bahwa kepebihan perempuan, seperti Ibu RA Kartini telah memberi contoh, dapat digali juga dari hal lain, seperti dalam hal tidak kehilangan akal.
Akal sehat
Ibu Kartini hidup dalam berbagai kekangan aturan, namun beliau tidak kehilangan akal (sehat) untuk berbuat sesuatu demi kaumnya. Dengan berbagai cara meski dalam kekangan ketat, ternyata Ibu Kartini dapat menulis sejumlah surat dan tersampaikan kepada yang dituju.













