
Surat-surat itu bagaikan burung terbang bebas, dan dalam perkembangan zaman, kumpulan surat-surat itu menggugah perempuan Indonesia untuk berani terbit menjadi terang, dari kegelapannya.
Semangat “Habis gelap terbitlah terang-“ nya Ibu RA Kartini secara kontekstual saat ini hendaknya jangan berubah menjadi sebaliknya: habis terang terbitlah gelap. Jangan!!
Mari kita renungkan apa yang pernah ditulis oleh Christopher berikut ini: Seorang lelaki tua, 80 tahun, masih kuat mencangkul dan bercocok tanam apa pun. Suatu hari ia menanam sejumlah pohon durian.
Baca juga Taktik Mengejar Jabatan: Nyumur Gumuling
Datanglah tetangganya yang masih muda belia, berkata: “Kakek tentunya tidak berharap kelak akan dapat ikut memanen buah durian ini, tentunya.”
Lelaki tua itu berhenti sejenak, lalu berkata: “Tidak. Dengan usia tua saya ini, tentu saya tidak berharap akan ikut memanen durian ini. Tetapi, dalam hidup saya, sudah puluhan kali, bahkan mungkin ratusan kali menikmati buah durian yang bukan dari pohon yang saya tanam. Saya pasti tidak akan dapat menikmati buah durian jika dahulu tidak ditanam orang, seperti yang saya lakukan saat ini. Sekarang ini, saya sekedar membayar kembali kepada orang yang dulu pernah menanam pohon durian untuk saya. Pakailah akal sehatmu, anak muda.”
JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang













