RUMAH itu, berjarak tidak lebih dari 300 meter dari rumah saya. Beda RT, pun beda RW, namun karena rumah itu berada di pinggir jalan besar, saya sering lewat depan rumah itu.
Sejak sepuluh tahun terakhir ini, rumah itu rupanya berganti pemiliknya, dan sejak itu sampai saat ini, rumah itu tidak pernah tidak didandani, tak pernahdiperbaiki. Terus saja terlihat ada satu dua tukang yang bekerja dari waktu ke waktu.
Pernah terbaca tulisan “kursus senam” berikut ada gambar dua cewek sedang senam. Belum sempat melihat keramaian orag masuk keluar karena ikut kursus; tulisan berganti “rumah makan.”
Baca juga Taktik Mengejar Jabatan: Nyumur Gumuling
Belum juga mencoba makan di rumah makan baru itu, kondisi dan lay out rumah berubah lagi. Tampaknya ada ruang-ruang untuk kursus; namun tidak terlihat pula ada orang masuk keluar ke atau dari rumah itu. Tetapi, tadi sudah dikatakan, rumah itu terus didandani, terus diperbaiki, entah sampai kapan selesainya.
Itulah penerapan ngelmu kandhang bubrah, bahkan di zaman saya remaja dulu, siapa pun menjumpai fenomena semacam itu, orang langsung akan berkomentar: “Wah, genah pesugihane kandhang bubrah, nih!!!” Semakin sering membangun, artinya semakin sering mbubrahi omah, orang itu kekayaannya akan semakin banyak/besar. Bagaimana mungkin bisa seperti itu?
Pikiran logis mengatakan sulitlah semakin sering membangun, kok semakin sugih? Namun fakta yang ditengarai khalayak justru mengiyakan: Bener kuwi, tahun lalu membangun dapurnya, dua tahun lalu memperbaiki terasnya, tahun ini bagian belakang rumahnya dibuat bertingkat. Dan orangnya ketok tambah sugih wae, semakin kaya.
Benarkah?
Jika kita cermati model pembangunan (fisik) di mana-mana, fenomena taktik kandhang bubrah itu benar adanya. Dua tahun lalu membuat trotoar di mana-mana, dan tidak mustahil tahun ini trotoar itu dibongkar dengan alasan ini, alasan itu.
Di pasar Projo Ambarawa, Jawa Tengah, fenomena seperti itu jelas. Sekian tahun lalu median jalan dipasangi pagar, sehingga membelah jalan menjadi dua jalur. Saat ini, pagar dan beton-beton pemisah itu dihilangkan semua. Mau diapakan lagi jalan itu? Entahlah, karena sedang dikerjakan.
Baca juga Taktik Berkuasa: Macan Guguh
Di skala nasional taktik membangun model aji-aji kandhang bubrah juga terjumpai di banyak tempat. Di suatu tempat dibangun secara gegap gempita penuh semangat sebuah lapangan terbang. Studi kelayakan mengatakan pantas di situ ada lapangan terbang, dan nanti pasti akan ramai.













