blank
Mendikdasmen Abdul Mu'ti saat berbincang dengan Sitimah, guru SDN 7 Getasrabi Kudus yang tiap hari harus menempuh perjalanan jauh dari Boyolali untuk mengajar. Foto: ist

KUDUS (SUARABARU.ID) – Di saat sebagian orang masih terlelap selepas subuh, Sitimah sudah memacu sepeda motornya dari Kabupaten Boyolali menuju Kabupaten Kudus. Perjalanan lintas kabupaten itu bukan dilakukan sesekali, melainkan setiap hari selama puluhan tahun demi mengajar murid-murid sekolah dasar.

Guru SDN 7 Getasrabi, Kabupaten Kudus itu harus menempuh perjalanan sekitar empat jam setiap hari hanya untuk menjalankan tugas sebagai pendidik. Kisah perjuangan Sitimah kini menjadi sorotan setelah harapannya untuk bisa mengajar lebih dekat dengan rumah mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

“Kurang lebih saya menghabiskan waktu 4 jam di jalan. Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16,” ujar Sitimah.

Meski harus menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, semangat perempuan itu tak pernah surut. Bagi Sitimah, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.

“Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental,” tuturnya lirih.

Dari Guru Honorer hingga Jadi ASN di Kudus

Perjalanan pengabdian Sitimah dimulai sejak tahun 2004 saat dirinya menjadi Guru Wiyata Bakti atau guru honorer. Saat itu, penghasilannya jauh dari kata layak.

“Tahun 2004 saya mulai mengajar. Dua tahun kemudian dapat bayaran Rp50 ribu per bulan. Lalu tahun 2008–2010 dapat bayaran Rp220 ribu,” kenangnya.

Harapan baru datang ketika pemerintah membuka formasi CPNS pada 2010. Setahun kemudian, Sitimah resmi diangkat menjadi CPNS dan ditempatkan di SDN 7 Getasrabi, Kudus.

Di sekolah tersebut terdapat 72 murid dengan enam ruang kelas. Sitimah dipercaya menjadi wali kelas 1, fase penting bagi anak-anak yang baru memasuki dunia pendidikan dasar.

Menurutnya, mengajar siswa kelas 1 membutuhkan kesabaran ekstra karena banyak anak masih berada dalam masa transisi dari PAUD ke SD. Tidak sedikit murid yang belum lancar membaca maupun menulis.

Karena itu, Sitimah kerap memberikan tambahan waktu belajar secara sukarela demi memastikan tidak ada anak yang tertinggal pelajaran.

“Saya mengulang anak yang belum bisa membaca atau nelateni yang ketinggalan menulis. Sebelumnya saya sudah izin kepada orang tua anak,” ungkapnya.

Selama sekitar satu jam setelah kegiatan belajar selesai, Sitimah tetap mendampingi murid-murid yang membutuhkan perhatian lebih tanpa memungut biaya tambahan.

Baginya, keberhasilan seorang guru bukan hanya soal nilai akademik, tetapi bagaimana memastikan seluruh anak bisa belajar dengan baik.

Bantu Anak Yatim dan Murid Kurang Mampu

Di tengah perjuangannya, Sitimah mengaku bersyukur karena kesejahteraan guru mulai mendapat perhatian pemerintah. Salah satunya melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2026 tentang penyaluran tunjangan profesi guru secara langsung setiap bulan.

“Sebelumnya tunjangan cair per tiga bulan. Kalau tahun 2026 ini tiap bulan sesuai gaji pokok,” katanya dengan wajah sumringah.

Tambahan penghasilan tersebut tidak hanya membantu kebutuhan keluarga, tetapi juga dimanfaatkan Sitimah untuk berbagi kepada sesama. Ia rutin menyantuni anak yatim, membantu kaum duafa, hingga mendukung murid-murid dari keluarga kurang mampu.

“Alhamdulillah berkah. Saya bisa tiap tahun menyantuni anak yatim dan duafa, serta bisa ikut kurban di kampung. Terkadang bisa membantu perekonomian murid yang benar-benar minim ekonominya,” jelasnya.

Sitimah Berharap Bisa Mutasi Lebih Dekat Rumah

Namun usia dan kondisi kesehatan mulai menjadi tantangan baru bagi Sitimah. Setelah 22 tahun menjalani perjalanan jauh setiap hari, ia berharap bisa mengajar di sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya di Boyolali.

“Njih niku, saya ingin mutasi karena kondisi usia dan kesehatan,” ujarnya pelan.

Ia mengaku telah dua kali mengajukan mutasi, namun belum bisa direalisasikan karena SDN 7 Getasrabi masih kekurangan tenaga pendidik.

Harapan itu kembali muncul ketika Mendikdasmen Abdul Mu’ti mendengar langsung kisah perjuangannya saat kunjungan kerja di Kudus.

Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Abdul Mu’ti meminta agar persoalan tersebut segera dicarikan solusi.

“Dilepas saja jika ada sekolah yang sudah bersedia menerima Ibu pindah. Kasihan terlalu jauh,” ujar Abdul Mu’ti kepada perwakilan Dinas Pendidikan.

Pemerintah sendiri telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN pada satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat. Kebijakan itu diharapkan dapat membantu pemerataan kebutuhan guru sekaligus memberi ruang penataan yang lebih manusiawi bagi para pendidik.

Di tengah perjalanan panjang yang setiap hari ia tempuh, Sitimah tetap percaya bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian. Bukan tentang seberapa jauh jarak yang dilalui, melainkan seberapa besar ketulusan yang diberikan demi masa depan anak-anak Indonesia.

Ali Bustomi