blank
Ilustrasi. Foto: Reka wied SB.ID

Setelah beberapa tahun berjalan, lapangan terbang itu nganggur, bahkan ada yang belum pernah ada pesawat naik turun ramai seperti dulu distudilayakkan. Bisa-bisa nanti akan dibongkar entah untuk apa lagi.

Pertanyaan, benarkah terjadi taktik membangun: Kandhang bubrah, terjawab kebenarannya. Pertanyaan selanjutnya, siapa telah menjadi kaya (raya) karena taktik kandhang bubrah itu? Saya tidak tahu jawabannya, tetapi pasti ada.

Mengapa Mudah Membangun?

Jawaban atas pertanyaan ini sangatlah mudah; yaitu, membangun memang lebih gampang katimbang memelihara atau mengembangkan apa yang telah dibangunnya  itu. Oleh karena itu, wajar saja jika pejabat di tataran mana pun, di pusat atau pun di daerah,  senang sekali membangun ini, membangun itu.

Bongkar gunung dibangun gedung atau mungkin juga waduk. Kalau di dalam kota, gedung yang sudah ada namun dianggap kurang manfaatnya, dibongkar lalu didirikan gedung baru untuk suatu maksud.  Sekian tahun lagi tidak mustahil gedung itu dibongkar lagi, dan dibangun yang baru lagi.

Di samping membangun lebih mudah daripada memelihara dan memanfaatkannya; taktik kandhang bubrah banyak ditempuh oleh siapa pun pejabatnya karena ia (mereka) ingin dikenang penuh gebrakan semasa menjabat. Paling gampang ya monumen kenangannya berupa bangunan (fisik).

Keluarga setan beranak-pinak, dan suatu Ketika mereka terlibat dalam diskusi bertema: Membujuk manusia agar mengikuti setan. Setan senior bertanya kepada setan-setan junior, taktik apa akan mereka pakai membujuk.

Seorang eh sesosok setan junior berkata: “Saya akan mengatakan kepada manusia, surga itu tidak ada.”

Setan senior marah karena taktik itu justru akan membuktikan bahwa kita ini setan pembujuk. Setan junior lainnya lantang berkata: “Saya akan membujuk bahwa neraka itu tidak ada.”

Lagi-lagi setan senior berkata marah: Hushhhhh…… bujukanmu itu akan dijadikan umpatan balik kepada kita  kita: Dasar setannnnn. Rapat terhenti sejenak, dan tiba-tiba si setan kecil berkata: “Mari kita katakana kepada manusia: Turutilah nafsu memerintahmu dan berkuasalah sekarang ini juga, mumpung kami sedang berkuasa. Nikmatilah.  Barulah bertobat kelak jiika kamu sudah pensiun; tetapi gak usah tergesa-gesa pensiun.”

Horeeeeeeee, setan-setan itu kompak berteriak, lalu setan senior memberi komando: Mari kita ramai-ramai segera ke dunia Bro…… kita satu kata mengatakan kepada manusia: Ayo nikmati mumpung sedang berkuasa. Masa tobat akan ada nanti pada waktunya, namun tidak perlu tergesa.***

JC Tukiman Tarunasayoga,  pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang