blank
Mbah Painah warga Ngedok Wonosobo saat melipat daun pisang untuk dijual di pasar tradisional. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)– Di bawah temaram lampu Pasar Pagi Wonosobo, saat sebagian besar orang masih terlelap dalam selimut, Painah sudah berjibaku dengan dingin yang menusuk tulang.

Sejak pukul 01.30 WIB, langkah kaki renta perempuan asal Dusun Ngedok Kelurahan Pagerkukuh Wonosobo itu sudah akrab dengan aspal basah di pagi hari. Dia kerap berjalan kurang lebih 1 kilometer dari rumahnya menuju Pasar Pagi Wonosobo.

Di pundaknya, tersampir beban yang kelak menjadi tiketnya menuju Baitullah, melalui ikatan daun pisang yang dibawa. Sebuah impian yang sudah ada sejak dia masih berusia muda. Bisa menunaikan ibadah haji dengan hasil keringat sendiri.

Bagi banyak orang, daun pisang mungkin hanya pelengkap bungkus makanan yang murah meriah. Namun di baliknya, ternyata bisa menyimpan rupiah demi rupiah, yang terkumpul dan akhirnya bisa terkumpul untuk mendaftarkan ibadah haji.

Namun bagi Painah, setiap lembar hijau itu adalah butiran tasbih doa yang dia kumpulkan selama puluhan tahun. Berkat ikhtiar yang diiringi doa mimpinya kini bisa diwujudkan. Di tahun 2026 ini dia benar-benar dapat panggilan Allah SWT untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di tanah suci.

Painah bukanlah saudagar besar. Dia adalah buruh pemetik dan penjual daun pisang. Painah telah setia pada profesinya selama lebih dari 40 tahun. Sebuah rentang waktu yang cukup lama.

Setiap harinya, ia memetik, melipat, dan menimbang daun-daun itu dengan teliti. Satu kilogram daun pisang ia hargai sekitar Rp 2.000 hingga Rp 5.000.

“Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat 200 ribu, kadang 100 ribu, bahkan pernah hanya 15 ribu rupiah,” kenang Painah kemarin.

Meski pendapatannya bak pasang surut air laut, tekadnya tetap seteguh sekeras batu karang. Usahanya kini pun berbuah. Uang yang telah terkumpul bisa untuk mendaftar sekaligus melunasi biaya untuk naik haji.

Keringat Sendiri

blank
Mbah Painah kini sudah tiba di tanah suci untuk bersiap melakukan ritual ibadah haji. Foto : SB/Muharno Zarka

Sejak mendaftar haji pada tahun 2012, sisa uang belanja dia simpan rapat-rapat. Tiap hari di mengirim daun pisang ke Pasar Induk Wonosobo atau melayani pesanan daun dari orang yang datang ke rumahnya.

Tak ada kemewahan, yang ada hanyalah konsistensi untuk menyisihkan receh demi receh hasil keringatnya sendiri. Uang hasil penjualan daun pisang dikumpulkan dan ditabung untuk mendaftar haji.

Empat belas tahun mengantri bukanlah waktu yang singkat bagi seorang lansia. Di sela-sela rutinitasnya menitipkan daun ke warung-warung hingga siang hari, Painah sering dirundung kekhawatiran sederhana tentang usia.

“Kalau saya tidak dapat kesempatan (berangkat) karena sudah meninggal, ya uangnya diambil lagi. Tapi kalau masih diberi kesempatan, ya Alhamdulillah, saya ikut berangkat,” tuturnya dengan nada pasrah namun penuh harap.

Ketakutannya akan “panggilan yang mendahului” kini sirna. Tuhan ternyata lebih dulu memanggilnya sebagai tamu ke Tanah Suci daripada memanggilnya pulang ke keabadian.

Kini, kebun pisang yang dia tanam dan rawat sendiri menjadi saksi bisu keberhasilannya. Tidak ada sejengkal tanah miliknya pun yang tersisa tanpa ditanami pohon pisang. Daun pisang jadi penyambung hidupnya sehari-hari bersama keluarga.

Painah tidak lagi sekadar mengambil stok dari pengepul, dia berangkat dengan hasil buminya sendiri. Dia merasa eman-eman jika ladang yang dimilikinya bero-muspro (nganggur) tanpa ditanami pohon pisang yang bisa mendatangkan uang.

Simbah Painah sudah berangkat ke tanah suci pada Jumat (15/5/2026) malam lalu, melalui Embarkasi Yogyakarta. Dia kini sudah berada di Mekkah untuk bersiap melaksanakan ritual ibadah haji.

Dia tidak hanya membawa koper berisi pakaian ihram, tetapi juga membawa martabat seorang pejuang ekonomi kecil yang membuktikan bahwa niat suci tak pernah bisa dihalangi oleh tipisnya dompet.

Di balik setiap lembar daun pisang yang layu di pasar, ada doa Painah yang tumbuh subur. Dan Jumat besok, doa itu akhirnya berbuah keberangkatan yang paripurna.

Muharno Zarka