WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Pada episode Limbukan, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno didaulat untuk naik ke panggung. Ini dilakukan oleh tiga bintang tamu (guest star), terdiri atas pesinden milenial Ni Elisha Orcarus Allaso bersama Apri dan Mimin.
Sebagai orang pertama di Kabupaten Wonogiri, dia diminta untuk mendendangkan tembang. Tapi Bupati justru membalikkan permintaan kepada trio bintang tamu tersebut, untuk menyajikan tembang Grajagan Banyuwangi. Yakni tembang yang bertutur tentang keindahan Pantai Grajagan sebagai destinasi wisata.
Panggung wayang kulit di Pendapa Kabupaten Wonogiri ini, digelar sejak Senin malam (18/5/26) sampai Selasa dinihari (19/5/26). Menyajikan Lakon Topeng Waja yang dibawakan oleh Dalang Ki Aan Bagus Saputro.
Ketua Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Kabupaten Wonogiri, Dalang Ki Eko Sunarsono SKar, menyatakan, Ki Aaan adalah dalang dari Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.
Adegan gecul (jenaka) Cangik-Limbuk disajikan semarak. Karena ikut manggung pula dua guest star Risang Gotho dan Rendra Kemana yang mengenakan busana wanita (berjarik, berkebaya dan bergelung konde).

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini, disajikan untuk memeriahkan malam tirakatan peringatan Hari jadi Kabupaten Wonogiri Ke-285 Tahun 2026. Diawali dengan pemanjatan doa dirangkai ritual potong tumpeng. Oleh Bupati Setyo Sukarno, potongan tumpeng diserahkan kepada Ketua DPRD Wonogiri, Sriyono.
Gatutkaca
Kemudian diteruskan dengan sambutan Bupati dan penyerahan tokoh wayang Gatutkaca kepada Dalang Ki Aan Bagus Saputro. Sejak awal, enam waranggana bawaan Ki Aan, tampil menyajikan aneka tembang dan alunan gending-gending Jawa, untuk membangun suasana riang. Disajikan secara mletre (sambung-sinambung), termasuk gending berirama mars Wonogiri Sukses laras Slendro pathet sanga, oleh heksa (enam) waranggana. Mereka mengenakan kebaya warna merah dengan selendang putih, layaknya melambangkan warna Nusantara,
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini, sekaligus sebagai upaya nguri-uri (melestarikan) wayang kulit yang merupakan budaya adi luhung yang keberadaannya telah diakui sebagai warisan dunia.
UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation) telah menetapkan wayang sebagai warisan budaya takbenda (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada Tanggal 7 Nopember 2003. Lembaga dunia yang berkantor pusat di Paris, Perancis, ini membidangi program pendidikan, Ilmu Sosial, Ilmu Alam, Kebudayaan, Komunikasi dan Informasi.

Wahyu Topeng Waja, termasuk lakon carangan, yang keberadaannya dituliskan pada halaman 1555-1556 Ensiklopedi Wayang Indonesia. Wahyu Topeng Waja diterima oleh Raja Pinggondani Prabu Gatotkaca. Putra Bima dengan Dewi Arimbi ini, memiliki tiga pusaka sakti, yakni Baju Kutang Antrakusuma, Caping Basunanda dan Tlumpah (sepatu) Pada Kucarma.
Gatotkaca juga dikenal dengan nama Arimbiatmaja, Bimasiwi, Guritna, Gurudaya, Kacanegara, Purbaya, Kancingjaya, Bambang Tetuka. Dalam Lakon Topeng Waja, Gatutkaca berebut wahyu dengan Prabu Boma Narakasura dari Kerajaan Trajutrisna. Yakni putra Batara Wisnu (Kresna) dengan Dewi Pertiwi.
Didukung Prabu Kresna dan kakeknya Sang Hyang Antaboga, Boma, berupaya merebut Wahyu Topeng Waja, karena berambisi ingin menjadi senapati Pandawa dalam Perang Baratayuda. Tapi saat berperang, Gatutkaca berhasil mengalahkan Boma.(Bambang Pur)













