blank
Tradisi semabhyang Cheng Beng di Yayasan Gotorng Royong Ambarawa. Fot: Silvani Andalita

Oleh Silvani Andalitablank

CHENG BENG merupakan salah satu tradisi yang diajarkan oeh ajaran Confusianisme/Nabi Kong Zi (Kong Hu Cu). Cheng Beng berasal kata Qing (bersih) dan Ming (jernih) dalam bahasa Hokkien, yang melambangkan harapan baik saat melakukan ziarah kubur.

Tradisi ini merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang sangat menghormati leluhurnya. Saat Cheng Beng, masyarakat Tionghoa melakukan ziarah ke makam leluhur, membersihkan makam, membakar kertas, membawa bunga untuk ditabur, serta meletakkan persembahan khusunya makanan sebagai ungkapan terima kasih dan hormat kepada anggota keluarga yang telah meninggal.

Makanan yang dihidangkan juga beragam, dari masakan bambu muda (rebung), masak O, sambal goreng ati ampela, babi Cin, hingga masakan kesukaan mendiang boleh disajikan untuk sembahyang Cheng Beng. Menurut tradisi, ziarah kubur ini baiknya dilakukan sejak pagi dan sebelum tengah hari.

Festival Cheng Beng Tiongkok dirayakan dan ditetapkan sebagai hari libur. Setiap tahun sekitar akhir bulan Maret hingga awal April, keluarga Tionghoa di Indonesia—dan juga di berbagai belahan dunia—turut larut dalam tradisi Cengbeng (清明节, Qing Ming Jie) ini.

Chengbeng bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi peristiwa budaya yang kaya akan makna, baik secara spiritual, historis, maupun filosofis. Tradisi ini merupakan upaya generasi penerus untuk merawat ingatan/memori dan termasuk menghormati leluhur yang sudah tiada.

Petak Abu

Di beberapa kota di Indonesia, terutama di daerah seperti Ambarawa, Jawa Tengah, terdapat “blok” bangunan-bangunan khusus untuk menyimpan abu kremasi. Tempat-tempat ini—sering disebut kolumbarium atau petak abu, semacam “apartemen” untuk menyimpan abu hasil kremasi para mendiang dan menjadi alternatif ruang peristirahatan yang juga tak kalah simbolis.

Abu yang tersimpan dalam petak kecil itu berada di antara yang hadir dan yang tiada; tak seluas makam, tak seramai altar rumah, tapi tetap menjadi pusat ziarah dan perenungan. Menariknya, tempat penyimpanan abu ini memiliki aura heterotopik: bangunan modern yang sekaligus menjadi kuil, ruang ibadah dan penyimpanan, kesunyian dan keteraturan.

Di sana, tiap laci memiliki nama, foto, kadang bunga plastik atau dupa mini; dan lampu untuk penerangan—menunjukkan bahwa meski raga telah lenyap, ingatan tetap dirawat. Ia wujud nyata menyimpan yang tiada menjadi selalu ada.

Ada sesuatu yang sangat intim di dalamnya: bahwa waktu bisa diputar ulang melalui ingatan, dan bahwa relasi antar generasi tak pernah benar-benar terputus. Chengbeng adalah bentuk lain dari “perjalanan pulang”—meski tidak menuju rumah, melainkan menuju ruang memori. Dalam konteks ini, makam bukan sekadar tempat penguburan, melainkan menjadi ruang pertemuan antara dunia yang tampak dan yang tak kasat mata.

Konsep Heteropia

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah mengenalkan konsep heterotopia—ruang-ruang nyata yang mengandung pengalaman simbolik dan reflektif. Berbeda dengan utopia (tempat yang tidak ada), heterotopia adalah tempat yang nyata namun menyimpan makna ganda atau bahkan kontradiktif.

Kuburan dan kolumbarium dalam tradisi Chengbeng adalah contoh nyata dari heterotopia: ia adalah ruang kematian, namun juga tempat kehidupan (relasi keluarga, pertemuan, nostalgia). Ia adalah tempat keterputusan (karena yang dikunjungi telah tiada), tapi juga koneksi (karena ritual menyambung yang putus). Di sinilah tubuh-tubuh hadir bukan untuk tinggal, melainkan untuk mengingat dan merawat memori kolektif. Chengbeng adalah cara manusia menolak lupa.

Ia adalah bentuk arsitektur memori, sekaligus ritus pemeliharaan sejarah.

Silvani Andalita. lulusan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan UNIKA Soegijapranata Semarang, saat ini bekerja sebagai praktisi hukum dan lingkungan di sebuah perusahaan swasta.