blank
Foto: Ilustrasi poster film Foufo.

Oleh: Khoirul Fahmi

Bayangkan, jika sebuah piring terbang yang berasal sangat jauh dari luar angkasa, jauhnya lebih dari 5 juta tahun cahaya jaraknya dari bumi, tiba-tiba jatuh di depanmu. Iya, tepat di depanmu. Di hamparan tanah gersang tanpa rumput, hanya tanah merah dan sebaran batu kerikil.

Di sekeliling piring terbang, kobaran api menari-nari, seakan ingin melahap satu paket benda asing ajaib dengan makhluk imajinatif yang ada di dalamnya. UFO & Alien.

Lalu, sensasi seperti apa yang kau rasakan saat itu ? tentu, gundah gulana, sekaligus ketakutan menyerbu dengan terburu-buru. Sebab sesaat sebelumnya, kau sedang berupaya mencuri besi rel kereta api, dengan dalih ‘rel sudah tidak berfungsi, cara instan cepat kaya hanya begini’

Itulah salah satu adegan yang terjadi pada film ‘Foufo’. Film bergenre fiksi ilmiah ini memberikan hiburan yang sangat menggembirakan. Seru.

Penonton seolah diajak rekreasi imajinasi. Disajikan dengan balutan kombinasi komedi dan ajakan untuk menyadari keadaan realita sosial. Film ini memberikan pemahaman bahwa masalah struktural bisa terjadi pada siapapun tanpa tebang pilih. Bahkan, dengan makhluk yang berasal dari antah berantah sekalipun.

Keluarga asal Kabupaten Sumenep Madura, menjadi latar utama pada film ini. Hidup dan tinggal di tanah rantau, orang-orang madura acapkali membingkai hidupnya dengan tradisi yang tak pernah luput dari segala macam eksotisme yang ada.

Romantisme orang-orang Madura dengan tradisi merupakan upaya pertahanan para perantau agar bisa sintas dari segala situasi yang telah memisahkannya dari tanah kelahirannya.

Keistimewaan Local Wisdom masyarakat Madura dengan beragam keunikan dan ciri khasnya, beririsan secara aktual dengan teknologi canggih tingkat tinggi, sangat sakti, bahkan belum pernah sekalipun eksis di seluruh jagat bumi.

Coba bayangkan. Saat ini, di zaman yang sangat modern, masih diperlukan keunggulan sebuah sensor untuk mendeteksi dan mengontrol pesawat paling canggih, justru piring terbang yang jatuh ke tanah antah berantah itu, dapat direparasi dengan membutuhkan benda antara lain yaitu keris, kipas angin dan perangkat dapur bernama blender yang menjadi komponen penting agar UFO dapat berfungsi kembali.

Unsur local wisdom berupa keris, jelas memberikan penekanan kepada publik bahwasannya, latar belakang keluarga dalam tokoh inti berasal dari Sumenep, Madura. Wilayah yang dinobatkan menjadi kota keris, bahkan ada dalam catatan UNESCO sekalipun.

Nilai dan mutu yang ada pada dalam film ‘Foufo’ tidak hanya tentang kombinasi kecanggihan spektakuler teknologinya saja, melainkan realita sosial yang harus dibaca dan dipahami dengan seksama. Satu keluarga.

Ibu Saikonah, memiliki beberapa anak kandung, beberapa menantu dan beberapa cucu. Mereka semua tinggal di satu rumah yang sama. Sempit, berdesakan, dan sangat seadanya. Jika dibandingkan dengan yang lain, hubungan Ibu Saikonah dengan anaknya yang bernama muslim, sangatlah intim nan mesra.

Terlebih, muslim memiliki tanggung jawab moral yang harus menjaga keluarga besarnya tetap utuh dan harmonis. Dengan berbagai macam cara.

Dalam sebuah teori ‘Parentification Theory’ yang dikembangkan oleh Psikiater Hungaria-Amerika Ivan Boszormenyi-Nagy itu, menjelaskan bahwasannya etika relasional dan loyalitas tak kasat mata yang muncul dari alam bawah sadar, di mana hubungan sehat menuntut adanya keseimbangan antara memberi dan menerima.

Namun, ketika orang tua atau Ibu Saikonah gagal berfungsi (secara ekonomi), disparitas ini memicu fenomena yang disebut sebagai ‘Parentifikasi’, yaitu sebuah kondisi saat seorang anak merasa punya utang moral untuk mengorbankan kepentingan pribadinya demi menjadi seorang pengasuh, penopang emosional, dan pembela keadilan bagi seluruh anggota keluarganya.

Sepanjang film ‘Foufo’, permasalahan yang menjadi kunci alur film awal hingga akhir yaitu perjuangan agar Ibu Saikonah dapat menunaikan ibadah haji, setelah penantian belasan tahun. Sebagai bentuk tugas menyelesaikan pilar dasar dalam agama Islam.

Menunaikan ibadah haji jelas merupakan sebuah kemewahan bagi umat muslim, dimanapun dan terus berlaku hingga kapanpun. Sumber penghalang salah satunya yaitu faktor ekonomi dan keberuntungan panggilan ilahi. Banyak, sebenarnya, orang yang mampu dari segi ekonomi, mampu membayar haji untuk puluhan kali, namun sekalipun belum ada niat hati untuk ber’Haji’.

Namun, bagi Ibu Saikonah berbeda. Bagi orang desa yang jauh dari kata mampu secara ekonomi, yang jarang pula mengenyam informasi tentang jazirah Arab secara masif, Madinah, Makkah dan Ka’bah merupakan pusat dongeng yang terus ingin dibunyikan secara kontinu.

Penulis adalah Pecinta dan Penggerak Literasi Jepara.