Ilustrasi. Reka wied SB.ID

Dan yang paling mengkhawatirkan adalah negara Indonesia menduduki peringkat pertama dalam penggunaan aplikasi TikTok dengan pengguna 108 juta kemudian disusul Brasil memiliki 91,7 juta pengguna TikTok aktif. Meksiko memiliki 85,4 juta pengguna TikTok aktif. Pakistan memiliki 66,9 juta pengguna TikTok aktif.

Tentunya hal ini bukanlah prestasi yang luar biasa bagi negara Indonesia, karena ternyata dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan ternyata aplikasi TikTok merupakan salah satu aplikasi yang berdampak negatif bagi remaja.

Penelitian tahun 2024 menunjukkan 10 dampak negatif penggunaan aplikasi TikTok secara berlebihan bagi remaja yaitu : kecanduan gadget, mudah stres depresi, membuat gaya hidup tidak sehat, pemborosan waktu, pengaruh negatif pola pikir yang tidak realistis terhadap kenyataan, pelecehan kekerasan bullying dalam jaringan, ketergantungan pada validasi eksternal, ketidakseimbangan kehidupan sosial, ketidakpedulian terhadap privasi dan keterbatasan kreativitas pada sebenarnya.

Perempuan Subjek Imajinasi

Hal ini juga didukung dari data penelitian Indah Kemala Dewi Baru yang berjudul “TikTok dan kesenangan seksual kaum Perempuan” pada tahun 2021 menunjukkan hasil bahwa menunjukkan bahwa perempuan sebagai subjek, aktif dalam berimajinasi. Namun, meskipun dominasi kaum laki-laki, imajinasi seksual ini tetap ada. Dalam hal ini juga disertakan dengan bukti penelitian lain yang menunjukkan bahwa penggunaan TikTok berdampak negatif pada tingkat moral remaja.

Bahkan banyak beberapa kasus kekerasan seksual akibat penggunaan TikTok, dimana kasus nyata terbaru terjadi pada tanggal 25 Maret 2025 dimana terjadi kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur terjadi di Kota Solo, Jawa Tengah. Salah satu korban anak warga Solo mendapatkan kekerasan seksual setelah berkenalan dengan seorang Pria di TikTok kemudian berlanjut ke WhatsApp. Kemudian pacaran, pelaku mengajak melakukan persetubuhan dengan bujuk rayuan sehingga terjadilah kasus pemerkosaan tersebut.

Kasus ini sejatinya merupakan salah satu kasus yang terungkap, dimana disisi lain banyak kasus yang mungkin belum terungkap karena faktor korban merasa malu akan hal kejadi memalukan tersebut. Hal ini apabila dibiarkan maka akan mengakibatkan dampak negative pada remaja, terutama yang paling banyak dirugikan adalah pada remaja putri.

Maka dari itu untuk mengatasi permasalahan dampak negatif pada aplikasi TikTok bagi remaja perlu dilakukan implementasi peran orang tua maupun orang dewasa lainnya sangat penting dalam pengawasan terhadap penggunaan aplikasi telepon pintar.

Para orang tua harus menanamkan pada anak mengenai pentingnya pemahaman literasi digital. Misalnya, terkait dengan pembatasan penggunaan aplikasi, pencegahan kecanduan bermain gawai, efek positif dan negatif penggunaan media sosial, dan sebagainya.

Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, masyarakat diharapkan menjadi lebih selektif dalam memilih aplikasi yang mereka gunakan. Orang dewasa, terutama orang tua, harus selalu mengawasi penggunaan berbagai aplikasi oleh anak-anak agar efek negatifnya dapat dikurangi.

Kemudian hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak negative TikTok bisa dilakukan seperti mengatur privasi pada akun, aktifkan mode terbatas, tetapkan batas waktu, hubungkan akun dengan orang tua dan hindari melakukan atau melihat joget seronok dalam aplikasi TikTok.

Pengurangan durasi penggunaan TikTok dirasa lebih efektif untuk menurunkan durasi dari kecanduan media sosial tersebut pada Remaja dan anak.

Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd, dosen prodi PGSD Unisri Surakarta