Mahasiswai Kyung Hee University berada di depan kampus, baru-baru ini.(Foto:SB/Amalana)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Korea Selatan (Korsel) adalah negeri yang sangat maju dari berbagai hal. Kemajuan teknologi dan industri sudah tak perlu diragukan.

Bahkan negeri Ginseng ini telah mampu bersanding dengan negara-negara maju, seperti Jepang dan China, walaupun negeri  ini tidak seluas daratan China.

Korsel menjadi negeri yang mampu mejadi magnet bagi anak muda dari negara lain di dunia, termasuk Indonesia. Bukan saja untuk menimba i ilmu, tetapi juga cocok untuk traveling karena terkenalnya K-Pop sebagai penyanyi yang digemari kawula muda sejagat .

Namun dari segi perkembangan dakwah Islam, negeri ini cukup disayangkan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 51 juta jiwa,  pemeluk Islam hanya sekitar 400 000. Itu pun didominasi oleh warga migran.

Memang di sana ada komunitas muslim sebagai tempat berkumpulnya umat Islam. Antara lain Rumaisa atauy Rumah Muslimah Indonesia , yang rutin mengadakan pengajian, kelas memasak, dan acara berbagi takjil, di bulan Ramadan.

Rumaisa sempat beberapa kali mengundang dai-dai kondang dari Indonesia. Seperti Ustaz Salim A. Fillah dan Ustaz Adi Hidayat. Selain Rumaisa, ada komunitas lain seperti Korean Moslem Federatiom (KMF).

Bus menjadi transportasi umum bagi mahasiswa di Korsel.(Foto:SB/Amalana)

Kami sempat berusaha memotivasi pengusaha muslim Indonesia untuk membuka usaha di negeri ini. Tetapi sayang, sampai hari ini belum ada yang tertarik. mungkin kurang menarik dari prospek bisnis.

Kebanyakan yang bergerak di bisnis penyediaan produk halal dan kuliner itu dari Malaysia dan Pakistan, dari Indonesia kami belum menemukan. Sebetulnya ada prospek usaha di Korea Selatan, usaha kuliner makanan halal, distribusi produk halal yang ikuti dengan usaha traveling.

Puasa dan Lebaran

Puasa dan Lebaran di Korea Selatan, suasananya amat sangat berbeda dengan di negeri kita Indonesia. Jelas di sini tak ada kegiatan ibadah layaknya  di negeri-negeri muslim, seperti Tarawih dan ceramah-ceramah agama. Keadaan sama seperti hari-hari biasa. Namun berpuasa di Korsel bisa sampai 15 Jam lamanya, tidak seperti di negeri sendiri yanghanya  sekitar 13 jam.

Berhubung hari Lebaran bukan hari libur, maka belum tentu muslim di Korea bisa ikut melakukan Shalat Id, kecuali bagi yang diizinkan oleh orang yang di ikutinya. Seperti pimpinan-pimpinan lembaganya.

Saya sendiri sebagai mahasiswi beruntung dibimbing  profesor yang lumayan toleran. Beliau bisa memberikan izin untuk merayakan lebaran. Kami berusaha menunaikan Shalat Id di Seoul Central Mosque atau KBRI, meski pun perjalanan ke sana bisa memakan waktu hingga dua jam.

Sebenarnya ada masjid dekat kampus, tetapi fasilitasnya terbatas, dan suara bacaan imam shalat dan khotbah kurang terdengar dari shaf puti.

Pengalaman kami belajar di Korea atau di negerii lain yang bukan negeri muslim, keadaannya sangat berat dari berbagai hal. Perkuliahan dan bekerja di luar negeri itu berbeda dengan di dalam negeri sendiri.

Nasihat saya bagi adik-adik yang ingin belajar ke luar negeri, sebaiknya untuk jenjang S2 , idealnya sudah punya bekal mental dan skill yang benar-benar harus dipersiapkan. Kalau tidak, malah tidak mendapatkan apa-apa.

Bahkan bisa rusak kepribadian, dan tidak berhasil karena beratnya tugas-tugas yang harus dikerjakan. Saya beruntung diterima di universitas yang juga perah menjadi tempat kuliah Ibu Negara Korsel itu.

Penanaman spiritual dari kedua orang tua kami, benar-benar sangat bermanfaat saat menimba  ilmu di negeri asal Shin Tae Yong. Demikian sekilas info adari Korsel. Semoga bisa jadi motivasi bagi berbagai pihak. Aamiin.

Amalana, mahasiswi Kyung Hee University, Korsel, asal Gombong, Kebumen.