blank
Juergen Norbert Klopp. Foto: dok/liverpool

blankOleh: Amir Machmud NS

// bisakah legenda diciptakan?/ dia butuh karya dan aura/ diakah sang peraih sejarah/ atau yang meracik jejak?/ di jalan yang menoreh warna/ yang setiap orang merindukannya…//
(Sajak “Liverpool dan Sang Legenda”, 2024)

PASTILAH tak pernah terlintas dalam pikiran Juergen Norbert Klopp, suatu ketika dia akan meraih “maqam” sebagai legenda bagi perjalanan sejarah Liverpool. Klub pelabuhan itu dia racik dengan spirit metal “hard rock”.

Ketika pamit dari Borussia Dortmund pada 2015, dia tak berjalan dengan angan-angan menjadi legenda di Liverpool, klub yang sarat dengan sejarah sebagai penguasa Eropa.

Tentu tak terpikir untuk menaklukkan jejak agung Bill Shankly, Bob Paisley, Joe Fagan, atau Kenny Dalglish. Dia hadir untuk melengkapi sejarah. Dia hanya ingin hadir dengan cara, gaya, dan karakternya. Klopp bekerja keras membangun faktor pembeda, untuk sebuah keberadaan yang diakui.

Pertanyaannya, ketika memutuskan untuk meninggalkan Anfield Road pada akhir musim 2023-2024 nanti, apakah sejatinya dia telah mengukir nama dalam deret legenda The Reds? Yang memberi warna; yang menguatkan karakter; yang mengontribusikan trofi-trofi; dan yang menoreh lintasan waktu: Liverpool era Juergen Klopp?

Menderetkan nama Klopp sejajar dengan Shankly dan Paisley memang bukan cara tepat menghormati pria kelahiran Stuttgart itu. Kedua manajer era 1959-1974 dan 1974-1983 itu memiliki catatan tersendiri, dengan semesta Liverpool yang tak ada duanya, pada masa itu. Shankly menancapkan kekuatan karakteristik klub, sedangkan Paisley membangun nama besar dan karisma di pelataran kuasa Eropa.

Singgasana Khusus
Klopp, yang mulai bekerja pada 2015, punya singgasana sangat khusus di era industri moderen kompetisi. Pendekatan taktik bermain yang diusung ke Anfield menandai pencerahan sistem, semacam antitesis dari tesis-tesis status quo para empu pelatih.

Gegenpressing — terus menekan lawan dengan garis pertahanan tinggi — adalah filosofi yang dia doktrinkan untuk era moderen Liverpool. Kedigdayaannya setara dengan rezim tiki-taka Pep Guardiola.

Warisan Klopp tak akan mudah disamai, jika ukurannya adalah “perubahan” dan “nilai-nilai baru”. Sebaliknya, pencapaian dari parameter trofi secara mengejutkan diraih oleh pelatih 2004-2010, Rafael Benitez.

Maka tak mungkin memosisikan Rafa di luar orbit legenda, karena dialah yang mengantar Steven Gerard cs meraih Liga Champions 2005 dalam drama “Keajaiban Istanbul” melawan AC Milan.

Selama delapan tahun bersama Si Merah, Klopp telah menjalin rujukan dalam chemistry identik: “Klopp adalah Liverpool, Liverpool adalah Klopp”. Tentulah takkan mudah menemukan figur setara, yang pada 2019 telah mampu mengembalikan Pasukan Merseyside Merah ke habitat elite: bukan hanya di panggung Liga Primer, tetapi juga di pelataran Eropa dan dunia.

Merawat Tradisi
Jadi kekuatan apa yang menguatkan keberadaan Klopp untuk masuk ke jajaran legenda di klub dengan tradisi sedahsyat Liverpool?

Orang bisa melihat lompatan langkahnya, yang membawa Mohamed Salah dkk meraih kejayaan, yang diraih kali terakhir oleh John Barnes dkk pada 1989-1990 di era kepemimpinan Kenny Dalglish. Juga mengupang capaian Piala Champions (sekarang Liga Champions) musim 1983-1984.

Boleh jadi pula ukurannya adalah karakter dan gaya gegenpressing, yang bersaing dengan taktik para empu di Liga Primer.

Atau, pendekatan Klopp yang nyaris tak pernah meleset dalam regenerasi pemain. Setelah Sadio Mane dan Roberto Firmino pergi, dia menemukan Diogo Jota, Luis Diaz, dan Darwin Nunez sebagai pendamping Mo Salah.

Klopp pula yang sukses mengangkat Harvey Elliot dan Wataru Endo sebagai substitusi super. Bahkan, dengan mayoritas “bocil”, pekan lalu Klopp mampu mengantar pasukannya meraih Piala Liga (Carabao Cup) dengan mengalahkan Chelsea.

Kemenyatuan ide, kultur, dan karakter antara Klopp secara personal dengan Liverpool sebagai “komunitas”, melahirkan adonan kekuatan yang punya potensi sedahsyat gelombang pasang.

Ketika orang bakal merindukan, dan ketika jejak tertoreh lekat sebagai sejarah, itulah bagian dari pengakuan tentang kelas legenda.

Legenda tak bisa diciptakan. Dia membentuk sendiri pengakuan dari apa yang dilakukan, dibuktikan, dan diwariskan…

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah