Jika kemiskinan ekstrem masih menjadi-jadi dengan segenap intervensi pemerintah dan stakeholders dengan rerupa bantuan pisikal maupun anggaran, maka kemudian pasokan ilmu pengetahuan akan menjadi kapital lestari yang jauh dari praktik korupsi dan sejenisnya.

Membuat atau menulis skripsi ada yang bilang perkara gampang, tapi tak sedikit juga mahasiswa yang merasa kesulitan untuk mengungkapkannya dalam bentuk tertulis. Jadi, skripsi itu antara nyata dan maya. Namun demikian, tak bisa disimpulkan dengan atau tanpa skripsi akan berjalin berkelindan dengan sukses seseorang di tengah terjalnya kehidupan masyarakat.

Masyarakatlah sebagai user kampus yang akan menilai sesungguhnya sejauh mana nilai beda antara mahasiwa berskripsi atau jalur polos dengan segunung prestasinya. Mana yang punya daya tawar tinggi antara keduanya? Masyakatlah sejatinya yang paling berhak memberikan score pada mereka. Bukan kampus yang bersangkutan. Kala mahasiswa lulus, akan teruji di masyarakat, siapa berkualitas atau sebaliknya? Dan, mungkin kala mau masuk di dunia kerja pun, tak pernah kta jumpai Kementrian/Institusi/Pemda yang mensyaratkan pelamarnya harus berskripsi.

Transformasi apa yang bisa dan akan dijual ke khalayak. Bisa membangun lapangan kerja, menggerutu atau hanya menunggu jatuhnya telur keberuntungan. Parahnya lagi, ada juga yang sudah mengantongi gelar akademik, tapi bisanya hanya teriak-teriak minta ini-itu kepada pemerintah alias kiprah intektualnya bolong kalau tak bisa disebut mati. Akhirnya, debu buku ataukah juga debu tebal yang menempel di masyarakat?

Milestone

Jadi, sekali lagi, tak ada jaminan atau garansi mahasiswa dengan atau tanpa skripsi itu sukses dalam menghela biduk hidupnya. Semuanya berpulang kepada individu masing-masing. Bermimpi boleh saja, bahkan “Dreaming is the first step that you have to make. While the act is the next step that you have to do”. (Bermimpi adalah langkah pertama yang harus Anda buat. Sedangkan bertindak adalah langkah selanjutnya).

Sederet kasus mahasiswa bunuh diri karena depresi masalah skripsi dalam kurun tahun ini, seperti dialami JY, mahasiswa lompat dari lantai 4 (24/1/2023), kemudian ada mahasiswa Universitas Jambi gantung diri di kamar indekos (2/32023), menyusul 25 April 2023.

Mahasiswa semester akhir, NB (22) yang ditemukan meninggal karena gantung diri di kamar kosnya di Yogyakarta, dan sebelumnya muncul pula kasus gantung diri pakai tali nilon, Mahasiswa Pelembang (8/11/2022).

Adalah Beston Gabrieman L, 22 tahun, yang merupakan salah satu mahasiswa di sebuah institusi pendidikan tinggi negeri di Palembang. Kasus bunhuh diri pun menimpa seorang mahasiswa berinisial BH, karena stress karena tujuh tahun tak lulus.

Maka kemudian, sudah sebaiknya para mahasiswa sejak dini menyiapkan diri sebelum paripurna dari kampusnya,”bawa daku pergi,” bersama sekujur lifeskill (kecakapan hidup). Jadi tak hanya mengandalkan angka akademik tinggi atau sekadar menggantungkan hidup dari koneksi kolega.

Tak ada yang salah, ketika kita bisa menjadi naga berkepala tujuh, punya sukses secara simultan. Ber-life skill bukan dimaknai kita tak perlu sekolah/kuliah.

Pada tahun-tahun politik ini sejatinya tak sedikit peluang dan kesempatan bagi mahasiswa itu terjun terlibat dalam sektor ekonomi kreatif atas kue politik menjemput pesta demokrasi.

Bikin T-shirt parpol dengan konten edukasi dan punya nilai beda, menyelenggarakan FGD, dan peluang lainnya yang cukup menggiurkan dalam hitungan ekonomi. Tapi terpenting adalah menempa diri dengan selalu berlatih dan belajar. Tak ada sukses itu secara instan.

Kadang kita merasa, dengan kebijakan Mas Menteri, memberi kesan seakan kemampuan menulis itu tak penting banget. Urusan narasi itu hanya cukup di mulut, tak perlu repot harus cakap merangkai diksi, meski kita tahu tak semua mahasiswa bahkan dosen itu sang arsitek bahasa, pemuja kata atau pegumul aksara. Skripsi bukan soal ketiganya, tapi lebih pada kapasitas mahasiswa mencatat milestone atas pengetahuan dan penalarannya.

Harap maklum, jika pun seorang mahasiswa dipaksa menulis skripsi atau dengan sukacita menyusun skripsi, jangan sampai mereka menjadi mahasiswa atau sarjana pohon pisang. Sekali berbuah lalu mati, sekali menulis karya ilmiah lantas kemudian berhenti tanpa menghasilkan sesuatu kembali yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama kaum marginal.

Sayang sekali sosok-sosok demikian. Karena mereka lebh bangga dengan capaian gelar atau material yang di genggamnya. Ini kemudian yang kerap menjadi ironi dunia akademis.

Suka tak suka pula, tidak ada kewajiban mahasiswa membuat skripsi, bukan berarti akan membunuh profesi lain, seperti jasa pengetikan, jasa pengolahan data atau sedikitnya jasa fotokopi. Sama sekali tidak. Karena aneka jasa tersebut tidak saja dihidupi mahasiswa, tapi masyarakat lain juga masih menumpukan harapannya atas bantuan mereka.

Sekali lagi, tak adanya kewajiban mahasiswa beskripsi, diserahkan kembali ke kampus dan mahasiswa. Tak ada yang bisa memaksakan kehendak di sini.

Bahkan bisa jadi, mahasiswa skripsi atau tidak hanya atas dasar mandatory pimpinan kampus ke para dosen di bawah, yang akan mengambil policy, bahwa mahasiswa ini perlu atau tidak perlu menyusun skrispi. Di sinilah kesepakatan atau bahasa lainnya patgulipat keduanya : mahasiswa dan dosen pembimbing.

Mengapa kemudian, membekali diri sebelum dan setelah menjadi mahasiswa ataupun sebagai mahasiswa berskripsi atau tidak, mendesak dilakukan sejak awal. Banyaknya mahasiswa mengambil jalur tanpa skripsi, bukan masalah. Menjadi masalah, saat mahasiswa itu tamat, kemudian menjadi pengangguran (intelektual).

Marjono, Kepala UPPD/Samsat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah