blank
Ngopi bareng warga di Balai Desa Kemasan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (11/7/2023) malam, Ganjar mendapat masukan banyak hal dari masyarakat. Foto: hms

SUKOHARJO (SUARABARU.ID)– Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, melalui kegiatan ngopi bareng warga, dia akhirnya mengetahui permasalahan stunting dan angka kemiskinan yang ada di suatu daerah.

Hal itu seperti yang disampaikannya, saat ngopi bareng bersama warga di Balai Desa Kemasan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (11/7/2023) malam. Dalam acara ngopi bareng warga itu, mengangkat tema, Penurunan Angka Kemiskinan dan Stunting.

”Sebenarnya setiap kami ngopi bareng dengan warga, pasti keluar banyak persoalan. Kami titipkan soal penanganan kemiskinan ekstrem, kemudian penanganan stunting,” kata gubernur berambut putih itu, usai ngopi bareng warga.

BACA JUGA: Ribuan Responden Eksternal dan 8.683 ASN di Jepara jadi Responden KPK untuk Petakan Risiko Korupsi

Dia optimistis, dengan penanganan stunting yang baik di Sukoharjo, angkanya kini terus menurun. Begitu juga dengan angka kemiskinan, yang jumlahnya makin berkurang.

Sekitar dua jam ngobrol, politisi PDIP yang khas dengan rambut putihnya itu, juga mendapatkan masukan dari masyarakat tentang banyak hal. Di antaranya, tentang persebaran sekolah yang kurang merata di daerah Sukoharjo.

”Ini PR kami, apakah membuat rombongan belajar baru, atau kemudian kami membuat sekolah baru. Atau kemudian kami mengkonversi beberapa sekolah,” ungkapnya.

BACA JUGA: Lahan Hijau Tertutup untuk Investasi, Sekda: Jangan Urus Lewat Calo

Menurut dia, banyak cara yang bisa dikembangkan untuk mengatasi persoalan persebaran sekolah itu. Sebab, daya tampung sekolah negeri di Jateng hanya 41,6 persen. Sementara banyak sekolah swasta yang sama bagusnya, dan bisa menampung siswa.

”Tentu saja kita juga harus memberikan kesempatan orang untuk sekolah ke swasta, oke kok. Banyak sekolah swasta bagus. Tadi kami senang mendapatkan masukan itu,” jelasnya.

Persoalan lain yang disampaikan warga adalah soal sampah, air, jembatan rusak, atau kantor kepala desa yang tidak bisa diperbaiki, karena kurangnya anggaran. Dalam kesempatan itu, suami Siti Atikoh itu langsung menjawabnya.

blank
Pembahasan angka kemiskinan dan stunting, menjadi hal yang banyak mendapat perhatian. Foto: hms

BACA JUGA: Masih Banyak PR dalam Membangun Ekosistem Pendidikan Nasional

Disampaikan dia, provinsi Jateng menyediakan anggaran untuk itu, tetapi dengan izin khusus, agar tidak semua anggaran dipakai untuk membangun kantor desa.

”Tapi memang faktanya, kami melihat ada kantor desa yang memang betul-betul rusak dan tidak bisa dipakai. Nah, itu kami bantu yang seperti ini. Jadi ada banyak sekali persoalan yang muncul dari warga,” ujarnya.

Ganjar juga senang, karena dalam acara ngopi bareng warga itu, juga kedatangan seorang mahasiswa asal Aceh, yang sedang PKL di Sukoharjo. Pemuda itu menyampaikan kepada Ganjar, agar lebih memperhatikan pendidikan di daerah pelosok.

BACA JUGA: Minimarket Menjamur di Grobogan, Beberapa dinilai Menyalahi Aturan

”Tadi kami nemu, umpama ada anak dari Aceh, sekolahnya di Tangerang, tapi dia praktik di sini. Dan kemudian dia belajar, bagaimana penerimaan masyarakat Sukoharjo. Dia berharap, dunia pendidikan musti mendapatkan perhatian pemerintah. Maka saya ceritakan, yang miskin sekolah gratis, SMA/SMK gratis,” ujarnya.

Ganjar juga menyinggung, sekolah yang sudah digratiskan itu harus benar-benar dijalankan dengan baik. Jangan sampai ada pungli, seperti yang baru saja terungkap di Kabupaten Rembang.

”Termasuk tadi saya jelaskan, kalau sudah gratis semua, jangan ada pungli. Seperti yang kemarin terjadi. Maka yang seperti ini musti dibereskan, sehingga masyarakat akan percaya apa yang dikerjakan pemerintah memang sungguh-sungguh,” pungkasnya.

Riyan