blank
Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Lingkungan akan digelar SCU. Foto: scu

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Soegijapranata Catholic University (SCU), Semarang, kembali akan menggelar Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL). Pelaksanaan ujian dilakukan Selasa (11/7/2023), di Teater Thomas Aquinas Lantai 3 Kampus Bendan.

blank
Rudy Heryadi ST MSi. Foto: scu

Ujian terbuka promosi Doktoral ini akan diikuti Rudy Heryadi ST MSi, dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU. Topik yang diambil yakni, Model dan Perumusan Penilaian Keberlanjutan Bio-Dimethyl Ether Berbahan Baku Limbah Kelapa Sawit (Tandan Kosong Kelapa Sawit/TKKS).

Tandan kosong kelapa sawit, seperti dalam pers rilis Ujian Terbuka Promosi Doktoral, merupakan biomassa limbah kelapa sawit yang melimpah, dan mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan biofuel, melalui
proses gasifikasi.

BACA JUGA: Ombak Besar Hantam Dua Nelayan di Pantai Pasir, Seorang Hilang

Selama ini, pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit kebanyakan digunakan sebagai mulsa dan pupuk saja. Salah satu biofuel yang dapat dikembangkan dengan menggunakan TKKS sebagai bahan bakunya adalah, Dimethyl Ether (DmE), yang dikategorikan sebagai biofuel yang multi source dan multi purpose.

DmE dapat dibuat dengan bahan baku gas alam, batubara, dan biomassa. DmE disebut juga sebagai multipurpose fuel, karena dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti LPG dan solar, karena kemiripan beberapa karakteristiknya.

DmE juga dapat menggantikan LPG, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Selain untuk substitusi LPG, pada sektor transportasi kebutuhan untuk bahan bakar alternatif guna menggantikan solar, juga dapat dipenuhi oleh DmE.

BACA JUGA: Dies Natalis Ke-36, USM Akan Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Pada saat ini, upaya yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengurangi impor adalah dengan rencana hilirisasi batubara menjadi DmE. Hilirisasi batubara menjadi DmE dapat mengurangi beban impor LPG.

Tetapi permasalahan lain dari sisi lingkungan adalah, emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan lebih tinggi, jika dibandingkan dengan LPG maupun solar yang dapat digantikan. Termasuk lebih tinggi dari DmE yang berbahan baku TKKS/biomassa.

Selain aspek lingkungan yang perlu diperhatikan, pemanfaatan DmE juga harus memperhatikan aspek kelayakan secara ekonomi, agar pengembangan DME dapat dilaksanakan sampai kepada tahapan komersial.

BACA JUGA: Tenggelam di Sungai Serang, Lapiyo Ditemukan dalam Keadaan Meninggal

Penelitian ini bermanfaat dalam menentukan peruntukkan jenis biofuel yang multiresource dan multipurpose, dalam menggantikan bahan bakar berbasis fosil.

Dengan menggunakan indikator keberlanjutan, seperti eco-efficiency, proses atau peruntukkan biofuel untuk substitusi bahan bakar berbasis fosil, dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Yaitu dengan memilih biofuel maupun proses dan rencana produksi yang memberikan nilai tambah lebih, dengan beban lingkungan yang minimal (do more with less).

Riyan