blank
Handry Tm dalam sebuah acara, sebagai narasumber. Foto: Dok Handry Tm

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Handry Tm, novelis, penyair, sastrawan Semarang meninggal dunia dalam usia 60 tahun, di RSUD KRMT Wongsonegoro, Ketileng Semarang, Jumat pukul 23.39. Handry meninggal setelah beberapa waktu dirawat di RS tersebut.

Handry Tm adalah penulis yang setia dan produktif sampai akhir hayatnya. Bahkan, beberapa hari sebelum meninggal, Handry masih sempat membagikan buku karyanya, sebuah kumpulan cerpen berjudul Ruang Tunggu, untuk teman-temannya sesame penyandang gagal ginjal.

Handry membagikan buku itu di rumah sakit, saat dia bersama teman-temannya menjalani hemodialisis atau cuci darah, yang memang rutin dijalani setiap minggu.

Menurut Gunoto Saparie, salah satu sahabat, Handry sudah mulai menulis sejak masih duduk di bangku sekolah SMP Muhammadiyah 1 Semarang. “Sejak itu karya-karyanya, baik berupa puisi, cerita pendek, novel, naskah sinetron, naskah drama, dan esai-esainya terus mengalir. Di tengah kesibukannya menjadi wartawan Suara Merdeka dan kemudian mengelola penerbitan media sejumlah instansi dan lembaga, Handry selalu gelisah untuk menciptakan karya sastra,” kata Gunoto.

Kesaksian Gunoto lainnya tentang Handry, dia sering bersama dalam beberapa kegiatan bersama di berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa. “Kami sering satu kamar di hotel. Handry lebih sering begadang di depan laptop, menulis. Ketika saya terbangun dini hari, ia masih berkutat dan suntuk dengan tulisannya. Bahkan ia sempat mengingatkan saya untuk salat malam,” Gunoto.

Sebagai penulis, Handry memang luar biasa. Dia pernah bekerja sebagai wartawan, tetapi kemudian memilih resign, kemudian berusaha sendiri. Dia menulis skenario dan bekerja sama dengan tokoh-tokoh perfilman nasional.