blank

JEPARA (SUARABARU.ID) – Didid Endro S. lahir di Grobogan 26 April 1970, mengawaili proses kesenian sejak masih duduk di SMA. Kemudian dari berbagai proses yang dilakoninya, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK) Semarang ini mencoba bergerak di bidang advokasi Lingkungan Hidup dan Seni Budaya.

Eksistensinya di bidang kesenian mulai kelihatan sejak ia mendirikan Sanggar seni (sekarang menjadi Yayasan Gaperto Jepara) di Kampoeng Kawuya Mlonggo, 26 April 1998. Kemudian, ayah dari dua putra dan kakek satu cucu ini telah empat kali mengikuti even Kolaborasi Seni Asia Eropa bersama pelaku seni dari beberapa negara.

Selanjutnya, ia tak pernah berhenti terus berkarya baik puisi, naskah teater, lukis, patung, seni tradisi, dan karya seni lainnya. Hal ini dibuktikan banyak karyanya yang sudah tersajikan melalui berbagai pertunjukan atau pementasan dan eksebisi di berbagai tempat.

blank
Didit Endro S., dalam sebuah penampilan

Selain telah berhasil mencipta Barongan Raksasa (terbesar dunia), ia juga masuk pada deretan Penyair Nasional sejak 2012. Karyanya masuk dalam buku Puisi Menolak Korupsi (PMK), Memo Wakil Rakyat, Memo Untuk Presiden, juga Puisi Kebinekaan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Karena eksistensinya, ia sering diundang sebagai pembicara di berbagai seminar tingkat Nasional bersama Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) Republik Indonesia di bidang Perlindungan Karya Budaya Lokal dan Kearifan Tradisional.

Selain itu juga di bidang pertanian organik, bahkan sempat pula menjadi salah satu tim penyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan Karya Budaya Lokal dan Ekspresi Budaya Tradisional bersama Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Kemudian sebagai bentuk komitmennya terhadap Perlindungan Karya Budaya Lokal, sejak tahun 2005 lalu hingga sekarang, ia berhasil mengembalikan 456 karya budaya masyarakat Jepara berupa seni kerajinan mebel ukir yang Hak Ciptanya dicuri pengusaha asing.

Dibidang seni sastra sejak tahun 2012, bersama Gaperto (sekarang sudah menjadi Yayasan Gaperto) ia menggelar Lomba Baca Puisi Kreatif (LBPK) untuk pelajar dan umum. Kegiatan ini digelar secara rutin setiap tahun. Juga penerbitan Buku Puisi Membaca Jepara yang menampung karya asli putra putri Jepara, rutin setiap tahun sejak tahun 2015.

Dari konsistensi di bidang seni budaya dan karya-karyanya, iapun lolos menjadi Penyair Asia-Tenggara dan menjadi salah satu pengisi panggung sastra Penyair Asia Tenggara.

Menurut Didit, seni budaya adalah lambang keberadaban. Jika seni budaya suatu daerah telah tergadaikan, maka daerah tersebut sudah tidak memiliki keberadaban. Jika suatu daerah tidak memiliki keberadaban, lalu siapa yang paling tidak beradab?. Dan kita masih mampu menegakkan kepala karena budayaā€¯ ujarnya. (*)