blank
Para seniman lukis yang tergabung dalam "Komunitas Klabers". Foto: Dok/Klabers

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Sejumlah seniman lukis yang menamakan Komunitas Klabers ini ingin menyuburkan kembali kesenian, khususnya di Kota Semarang.

Komunitas Klabers sendiri kerap memberikan edukasi baik melalui workshop, diskusi ataupun sekedar nongkrong di warung kopi (Warkop).

Founder sekaligus anggota Klabers, Sufrana Malik mengungkapkan awal terbentuknya Klabers. Mereka mulanya tergabung dalam suatu project yang diselenggarakan oleh salah satu hotel di Semarang, sebagai media partner (kolaborasi).

“Saat itu kami memberikan sedikit edukasi, workshop serta kegiatan sketsa bersama bagi pengunjung hotel maupun masyarakat umum,” kata Sufrana kepada Suarabaru.id, Minggu (4/9/2022).

“Setelah project itu rampung, kami memutuskan untuk membuat suatu komunitas yang kami harapkan kegiatan-kegiatannya mampu menyuburkan kembali pergerakan kesenian pasca pandemi Covid-19,” ujarnya.

Sufrana mengatakan, pada beberapa kesempatan pihaknya sudah mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama, dengan memperkenalkan proses kreatif berbagai macam media.

Sufrana Malik sendiri mengenalkan teknik airbrush untuk menggambar, Rudy Vouller dengan digital drawing, ada Joko Susilo dengan karikaturnya, Agustin dengan face/body painting, Ronie dan juga Andy Sueb dengan media-media unik lainnya.

“Kegiatan kami selain menghidupkan kembali geliat kesenian di Semarang khususnya, pasca pandemi Covid-19 ini kami juga menyelenggarakan diskusi maupun workshop bersama kawan-kawan, walaupun hanya pada sebatas ruang Warkop maupun tempat nongkrong yang jauh dari konsep formal,” terang dia.

Namun di beberapa kesempatan, Sufrana juga menjadwalkan kegiatan sketsa bersama.

“Selain sebagai ajang silaturahmi bagi kami maupun seniman lainnya, ini merupakan upaya mengajak masyarakat untuk bersenang-senang dalam kegiatan menggambar,” tukasnya.

Sufrana mengajak rekan-rekannya untuk mendokumentasikan kegiatan positif ini, untuk bersama-sama mengunggah ke media sosial sebagai upaya memerangi konten-konten kurang baik yang beredar di media sosial.

“Kami berharap, minat masyarakat dalam kegiatan berkesenian ini nantinya mampu menjadi filter atas trending public yang banyak beredar, yang jauh dari nilai-nilai,” kata Sufrana.

Pihaknya juga mengajak seniman-seniman lain yang mempunyai potensi di bidangnya, untuk bersama-sama menyuburkan kembali kesenian lewat edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ning Suparningsih