Ilustrasi/Harian Disway.Id

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

JC Tukiman Tarunasayoga

Pernahkah Anda marah? Jawabannya pasti, pernah; dan ketika ditanyakan lagi, kemarahanmu termasuk marah kecil atau marah besar (muring benggala, Jw), serta merta ada jawaban berupa pertanyaan meledek begini: “Ketika Anda marah, saat itu posisi Anda sedang sebagai pejabat/pimpinan, sedang sebagai politisi, ataukah sedang sebagai orang biasa-biasa saja?”

Mengapa demikian? Konon, orang marah itu ada kastanya. Ketika Anda marah dan saat itu sedang duduk sebagai pejabat/pimpinan, bisa jadi Anda sedang dalam kondisi golek-golek, yaitu mencari-cari, entah apa yang sedang Anda inginkan atau cari. “Lagi kurang sajen,” begitu sering kita dengar seloroh anak buah yang sudah hafal betul dengan perangai berbagai pimpinannya.:

Bagaimana halnya kalau yang marah-marah itu politisi?  “Itu sedang main drama,” jawab si Dadap ketika sedang ngobrol santai bersama Badu dan Banu  Rupanya Dadap mau menjelaskan, gradasi kemarahan atau marah-marahnya politisi itu harus dilihat konteks luasnya dan jangan terfokus kepada omongan yang keluar saat dia sedang marah-marah, atau bahkan sedang muring benggala, yaitu sedang marah besar sekali pun.

Termasuk muring benggala apabila orang itu lalu mengata-katai siapa pun (tetapi umumnya justru teman sejawatnya yang dianggap rivalnya) dengan ungkapan, seperti: “Dia itu adol bagus, kemlinthi, kemlancang, kumalungkung, kementhus.” Ada juga politisi yang justru ungkapannya itu glenyengan, yaitu seolah-olah berkelakar, padahal marah, semisal mengatakan: “Ya  aku to capres-e!”

Baca Juga: Bukti Orang Jujur Itu LLBT: Lempeng, Lurus, Burus, lan Temen

Inilah yang disebutkan konteks luas tadi, yaitu agaknya saat ini dalam rangka pemanasan mesin politik dan “penawaran figur” para elite sedang mulai turun gunung seraya membawa oli pelumas agar mesin politik mulai berputar-putar. Dan dalam rivalitas sesama partai, mengata-katai  kemlinthi  tadi muncul, padahal sangat bisa jadi dia sendiri juga kemlinthi; atau boleh jadi yang mengata-katai “mung adol bagus thok,” .dia sendiri tanpa sadar jan-jane ya lagi adol ayu, misalnya.

Arti Kemlinthi 

Jujur saya katakan, tidak ditemukan dalam Baoesastra Djawa terbitan tahun 1939, -entah kalau terbitan yang lebih baru- , kata kemlinthi itu; dan ketika saya uber ke kata atau ungkapan lainnya, agaknya arti kemlinthi itu senada dengan kemlancang, kemlungkung, dan kementhus.           

Seseorang disebut kemlancang (akar katanya lancang) ketika dia sudah tumandang dhisiki parentah utawa pakem. Intinya, belum ada aba-aba apa pun, belum ada sinyal menyala, orang itu sudah mulai bergerak.

Salahkah kemlancang seperti itu? Jawabnya lihat konteksnya: Kalau konteks pemilu, wouw… itu  pasti salah besar; tetapi dalam  konteks kepartaian yang mesin politik segera berputar panas, jan-jane ya kudune malah matur nuwun.  

Baca Juga: Mencermati Orang dengan ‘Pekerjaan Utama’ Ngiwi-iwi, Ngewak-ewakake, dan Umuk-umukan

Kemlungkung atau sering juga disebut kumalungkung, memiliki makna ambeg linuwih, yaitu bergaya lebih; atau kalau menggunakan ungkapan zaman now ya lebay. Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang lebay: Sini atau situ, he…he…he… Dan bagi orang yang  termasuk kelas berat kemlungkungnya, orang itu disebut kementhus atau juga kumenthus.,

Makna kata kementhus (kumenthus) ialah ambeg wani, ambeg pinter, lebay-nya tertuang dalam gaya omong atau bersikap yang mengesankan sok pinter dan sok berani. Di sinilah titik pangkal para pimpinan, ataupun dia yang juga sering merasa “aku nih pimpinan lho,” muntap (marah) dan sangat boleh jadi marah besar, muring benggala.

Rasanya perlu dicatat bagi semua pihak atau siapa saja betapa sebaiknya semua pihak “Aja kesusu,” janganlah tergesa-gesa; termasuk sebaiknya jangan tergesa-gesa muring benggala sekali pun itu taruhlah “hanya bermain drama.”

Terhadap teman sendiri, saudara sebangsa setanah air, mengapa harus mengata-katai teman yang jika dirasakan kata-kata itu sudah tergolong pedes level empat lho. Siapa pun tidak mau dong disebut-sebut kementhus; dan sebetulnya akan lebih mengena ketika siapa pun menggunakan bahasa kasih pada saat mau menegur: “Masmas …aja dipleroki…….Mas ……mas…..mas aja dipoyoki.” Percayalah, menegur atau mengingatkan teman  dengan/lewat bahasa kasih, pasti jauh akan menghasilkan buah-buah manis sebagaimana kita inginkan bersama. Kita tidak ingin buah-buah pahit, kan?

(Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Pascasarjana di UNIKA Soegijapranata, Semarang dan UNS)