teater Burisrowo (Foto: Ilustrasi)

Oleh : Aliva Rosdiana, S.S., M.Pd.

Ideologi merupakan sebuah roh yang diyakini oleh peteater ketika menceritakan sebuah kisah dalam panggung pementasan. Gagasan atau nilai, serta norma dan falsafah yang diyakini dikemas dalam pengejawantahan dari ideologi melalui sebuah pementasan. Ini adalah modal utama seorang seniman dan pekerja teater, namun terkadang belum mereka sadari. Sebab mereka masuk dunia teater hanya untuk menggapai popularitas, apalagi jika akhirnya masuk dunia sinetron itu tidak akan sampai ranah ideologis. Ia hanyalah sebuah tubuh, sebuah benda, sebuah wujud manusia yang lalu lalang menumpang saja lewat teater.

Saat ini teater modern didewasakan di tengah kondisi sosial-budaya ototriter yang berkapasitas sebagai media bargaining power dan hati nurani masyarakat maupun kebudayaan bagi orang-orang yang mengapresiasi adanya sebuah ideologi. Setidaknya ejawantah para pemain teater dalam berideologi adalah untuk membela hati nurani, bersikap bila ada dua kebenaran yang membingungkan.

Tanpa ideologi, tak mungkin manusia-manusia di jalur teater berani menyajikan artefak kehidupan yang nyaris dekat dengan tema keseharian dalam kekuasaan Konglomerat Burisrowo, dan Sukesi karya N. Rintiarno, melakukan peran yang tak disukai Sang Tiran Sebenarnya. Contoh tersebut merupakan awal perlunya kesadaran diri seorang seniman teater memilih ideologinya sendiri.

BACA JUGA Aktor Teater Monolog Harus Pahami Peran dan Kontrol Diri, Itu Kuncinya

Jadilah peteater yang tidak hanya berteater dan tak berpegangan pada ideologi apapun. Justru ideologi dipentingkan untuk mengimbangi kekuatan pikiran zaman di tengah hiruk-pikuk gerak-gerik ideologi lain termasuk mengatasi kekuasaan yang hanya bertampang represif. Konsep teater dan estetikanya tetap saja tak bisa mengubah jiwa penampilannya. Keasyikan pemain teater hanya memosisikan diri sebagai penonton teater, hingga peteater sendiri justru menjadi linglung tak punya sikap dan nyali.

Posisi pemain teater hanya cocok berada di kamar bawah tanah sebagai tempat persembunyian bersama kreativitas dan akal sehatnya yang ideologis. Itu gambaran jika peteater hanya memuja estetika ibarat manusia berotak sedikit. Tak ada warisan peteater sejati bagi kebudayaan yang selalu bergerak menjawab pertanyaan bawah sadar zamannya.

Penulis adalah Dosen Unisnu