blank
Panembahan Agung KGPAA Sura Agul-agul Begug Poernomosidi (kedua dari kiri) memainkan adegan gecul (jenaka) pada episode Limbukan.

KARANGANYAR (SUSRABARU.ID) – Ritual Ruwatan Agung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Bumi Pancasila, Sabtu malam (26/2) sampai Minggu dinihari (27/2), digelar di Monumen Ibu Tien Soeharto di Jaten, Kabupaten Karanganyar.

Acara adat Jawa ini, diprakarsai oleh Panembahan Agung Sangga Langit Kanjeng Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Sura Agul-agul Begug Poernomosidi. Ritual Ruwatan lakon Murwakala, dipentaskan oleh Empu Dalang Ki Radite Guno Wiyono Mbah Bagong.

Begug Poernomosidi, Bupati Wonogiri dua periode (2000-2010) yang juga menyandang gelar (bangsawan Keraton Surakarta) Candra Kusuma Andana Warih ini, ikut mendalang bersama Ki Widodo Wilis Prabowo.

Sebagai Budayawan Jawa, Begug, ikut berperan saat Wayang Indonesia oleh UNESCO dikukuhkan sebagai warisan dunia Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan Tanggal 7 Nopember 2003.

Di jagad kesenian wayang purwa, Begug, banyak menerima anugerah pemecahan rekor dunia dari MURI. Yakni sebagai pemrakarsa gelar wayang dengan kelir terpanjang, wayangan dengan jumlah waranggana terbanyak, pagelaran wayang dengan jumlah dalang terbanyak secara nonstop tiga hari tiga malam.

Juga pernah menggelar wayangan di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri, saat datang Bulan Sura. Mencipta aneka gending untuk mendukung pentas wayang kulit. Bersama dalang kondang, memprakarsai pentas wayangan di pendapa Kabupaten Wonogiri pada malam di Bulan Ramadan.

Perintah Gaib

Begug yang suka menjalani laku tirakat Kejawen, seperti telah lebih 20 tahun pantang makan nasi, menyatakan, ruwatan tersebut dilakukan sebagai realisasi atas wisik (perintah gaib) dari Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi yang dia terima.

Itu menjadi bentuk dukungan spiritual, dalam ikut membebaskan lilitan sukerta (belitan sial) agar ketenteraman Nusantara dan dunia senantiasa mewujud atas ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.

blank
Ruwatan Agung NKRI Bumi Pancasila ini, didukung para seniman pengrawit dari Kabupaten Wonogiri dan Karanganyar, serta menampilkan tujuh waranggana. 

Yang dalam lakon Murwakala (Murwa, artinya murba atau berkehendak. Kala berarti waktu), dipanjatkan doa dan sejumlah mantera ruwatan (pembebasan), sebagai upaya spiritual dalam kiat membebaskan ancaman Betara Kala, supaya Gusti Yang Maha Kuasa berkenan memberikan anugerah ketenteraman, kedamaian, terhadap bangsa Indonesia, NKRI Bumi Pancasila dan masyarakat dunia.

Batara Kala sendiri tercipta dari kama salah, yakni dari air mani Betara Guru yang tercecer ke samudera, saat berduaan dengan Dewi Uma menunggang Lembu Andini melalang angkasa.

Melalui ritual ruwatan, diharapkan dapat menjadi sarana secara spiritual dalam upaya membebaskan ancaman bahaya dari Betara Kala. Yakni berupa malapteka dan bencana serta lilitan kesialan (ketidakberuntungan).

Semua ancaman bersifat gaib tersebut, diharapkan dapat dinetralisir melalui ikhtiar ritual ruwat. Supaya terhindarkan dari musibah, bencana, malapetaka dan marahabaya.

Dalam mementaskan Ruwatan Lakon Murwakala, Ki Dalang yang berperan sebagai Dalang Kanda Buwana disamping menyampaikan doa pembuka, juga membacakan aneka macam mantram (mantera) sakti. Yakni Santi Purwa, Carakan Balik, Sastra Telak, Sastra Pinadati (Bedati), Sastra Gigir, Santi Kukus dan Rajah Kalacakra.

Bambang Pur