Marcus Rashford. Foto: Ist

Oleh: Amir Machmud NS

// ke mana dia, sang pendekar muda?/ yang seperti tiba-tiba hadir merebut dunia/ menerang terang Teater Impian/ kadang-kadang menggumuli kesenyapan/ bagai tak ada/ tiba-tiba ada/ akankah lagi-lagi tidak ada?//

(Sajak “Marcus Rashford”, 2022)

MARCUS Rashford telah kembali. Namun, sudah betul-betul kembalikah Marcus Rashford?

Ya. Akankah penyerang Manchester United dan tim nasional Inggris itu selalu melukiskan eksistensinya dalam “pernyataan dan pertanyaan” seperti di atas?

Diksi “pernyataan” dan “pertanyaan”, bukankah sejatinya adalah gambaran keraguan? Apakah karena persoalan bandul bioritme, cap mediokritas, atau mungkin semacam realitas kelabilan konfidensi?

Ketika pada 2017 diberi kepercayaan oleh Louis van Gaal bermain di tim utama dan menjawabnya dengan penuh pesona, MU pun bergegas menyambut: striker andalan telah hadir!

Dia mencetak dua gol dalam laga debut bersama tim utama melawan Midtjylland di Liga Europa pada 25 Februari 2016. Kertika itu dia berstatus sebagai pemain “susulan” karena Anthony Martial cedera. Ajaib, Rashford terpilih sebagai man of the match, sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol termuda MU di kompetisi Eropa, melewati sang legenda, George Best.

Keajaiban Rashford berlanjut tiga hari kemudian. Dia mencetak gol ke gawang Arsenal dalam pertandingan perdananya di Liga Primer. Hebatnya pula, dia terpilih sebagai pemain terbaik.

Dua keajaiban itu membuat fans MU tak ragu Rashford bakal menjelma sebagai Dwight Yorke baru, Andy Cole baru, Wayne Rooney baru. Bahkan dalam perkembangannya, tak kurang pelatih Ole Gunnar Solskjaer memuji eks pemain akademi itu berada dalam tataran Cristiano Ronaldo.

Pelatih Tim Tiga Singa, Gareth Southgate pun memercayai bocah 18 tahun itu berjajar dengan Harry Kane dan Raheem Sterling di Piala Dunia 2018. Dua tahun sebelumnya, dalam usia 16, bocah kelahiran Manchester itu sudah dipercaya manajer Roy Hodgson masuk tim Euro 2016.

Kelebihan Rashford adalah sikap cool,skill yang technichy, dan salah satu yang dikenang adalah juga kemampuan melakukan tendangan putar dalam mencetak gol ala “ber-Turn Cruyff”. Posisi yang fleksibel sebagai striker murni dan beroperasi dengan sama baiknya sebagai pemain sayap membuat Rashford tampak fungsional. Namun tak kurang pula posisinya dalam tim mengundang “perdebatan” para pakar.

Apakah dia lebih pas sebagai penyerang tengah? Atau sebagai false nine? Rashford juga bagus dimainkan sebagai sayap kiri atau kanan. Pada era Solskjaer, dia lebih banyak dikembalikan sebagai striker murni. Dari 2016 hingga saat ini, dia telah mencetak 57 gol dalam 187 penampilan bersama MU. Bersama timnas, dia tampil 46 kali dengan kontribusi 12 gol.

Boleh dibilang, dia adalah produk terbaik Akademi MU pasca-Class of 1992. Rekannya, Anthony Martial menyebut Rashford sebagai pemain yang cerdas dan cepat.

Inkonsisten

Dalam perkembangan setelah performa yang memikat di Rusia 2018, Rashford belum sepenuhnya menjadi gantungan Setan Merah.

Kadang bagus, kadang tampak medioker. Dan, tampaknya Rashford menjadi bagian dari refleksi masalah MU yang belum juga menemukan identitas permainan setelah pensiun Alex Ferguson pada 2013.

Di bawah kepemimpinan pelatih interim Ralf Rangnick sekarang, ketidakkonsitenan Rashford cenderung terlihat, dan baru memulih dalam dua laga terakhir melawan Brentford dan West Ham United.

Apakah gaya bermain menekan ala gegenpressing Rangnick membuat Rashford tidak nyaman?

Dia memang tampak “sensitif”. Sedikit ketidakcocokan, apalagi dengan “revolusi” seperti yang diusung Rangnick, bisa mempengaruhi performanya, tidak bisa bermain “lepas”.

Rashford sempat mengalami kemampatan gol dalam 11 laga di semua ajang pada pengujung kepelatihan Solskjaer dan saat Ralf Rangnick datang. Namun, pemain yang mengawali karier junior bersama Fletcher Moss Rangers pada 2003-2005 itu akhirnya menemukan kembali ketajamannya saat menjadi penyelamat MU. Dia membuat gol tunggal pada menit ke-90+3 ke gawang West Ham United.

Yang unik, bukan hanya sekali itu saja dia menjadi penyelamat Setan Merah. Dalam catatan Squawka, empat kali dia membukukan gol penentu pada injury time.

Pertama, pada 2016, dia mencetak gol tunggal pada menit ke 90+2 ke gawang Hull City. Kedua, pada 2018, golnya menit ke-90+2 mengantar kemenangan 2-1 MU atas Brighton. Ketiga, pada 2020 mencetak gol menit ke-90+3 ketika MU menundukkan Wolves 1-0.

Kini dia masuk dalam “klub penentu kemenangan pada menit akhir” bersama Ian Wright, Steven Gerrard, Papiss Cisse, Christian Benteke, dan Sadio Mane.

Tidaklah berlebihan Ralf Rangnick memuji, Rashford punya kualitas untuk menjadi pemain top. Ketika penyerang nomor 210 itu mengalami kemampatan gol, pelatih asal Jerman itu tetap bersabar. Dia yakin, Rashford hanya butuh satu gol untuk memulihkan kepercayaan dirinya, dan selanjutnya akan kembali ke produktivitasnya.

— Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah.