Bagikan
MENUMPUK: Sampah menumpuk di sudut jalan, karena belum diambil petugas kebersihan.(Djamal AG)

REMBANG –Kawasan Bahari Terpadu (KBT) di Desa Tasikagung, Kecamatan/Kabupaten Rembang kini terkesan kumuh. Padahal, KBT dibangun untuk menyinergikan tiga bidang, yakni perhubungan, perikanan, dan pariwisata.

Dari pantauan media online suarabaru.id, kawasan itu nyaris tidak memiliki keindahan. Bahkan ada salah satu sudut jalan yang dipenuhi limbah rumah tangga (sampah), sehingga menyurutkan pengunjung untuk lewat jalan tersebut.

‘’Panorama alam di KBT sebenarnya sangat indah jika dikelola dengan baik dan profesional. Apa lagi di tempat ini bisa dilihat aktifitas nelayan,’’ kata Mustofa, warga Blora yang kemarin datang di tempat itu.

Demikian halnya Mariono, warga asal Pati yang hampir setiap liburan datang ke KBT untuk menyalurkan hobi memancingnya, juga mengeluhkan banyaknya sampah yang dibuang di sembarang tempat.

Menurut keterangan warga, hampir sebagian besar penduduk yang tinggal di bibir pantai membuang sampah di lautan. Mereka kurang peduli soal kebersihan lingkungan. Padahal, jika pantai itu mendapatkan perawatan dengan baik, dipastikan akan banyak pengunjung yang datang.

Romli Budiono, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang yang kemarin melihat kegiatan lelang ikan di TPI Tasikagung mengatakan, pembangunan KBT sebenarnya sudah bagus. Hanya saja belum ditindaklanjuti dengan peraturan dan pengawasan yang bisa mengikat siapa saja. Akibatnya, selain banyak sampah berserakan di sembarang tempat, juga banyak berdiri bangunan yang keberadaannya mengganggu ruang publik dan pemandangan.

Sementara itu, salah seorang nelayan asal Desa Tasikagung, Parno justru menyalahkan petugas kebersihan. Ia mengatakan jadwal pengambilan sampah di tempat pembuangan sampah tidak dilakukan setiap hari.

Karena itu, lanjut dia, sampah menumpuk, dan sebagian tumpah dari bak penampungan sampah hingga menyebar ke bahu jalan. Selama sampah di bak penampungan belum diambil petugas kebersihan, sudah tentu kondisi kumuh akan berlangsung terus.

‘’Setahu saya, petugas kebersihan datang ke KBT cuma sekali dalam satu minggu. Bahkan sering lebih lama lagi. Padahal volume pembuangan sampah dari warga cukup tinggi,’’ ujarnya.(suarabaru.id/Djamal AG)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here