<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pep guardiola Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/pep-guardiola/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 05:45:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>pep guardiola Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tak Ada yang Abadi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 10:00:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Abadi]]></category>
		<category><![CDATA[Etihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tersamai]]></category>
		<category><![CDATA[Trofi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=563002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak ada yang abadi/ begitulah kehidupan ini bergerak/ sebagai keniscyaan/ begitu pun Pep Guardiola/ dia sadar yang abadi hanya rasa/ dan, ia hanya meninggalkan cinta/ untuk Manchester City/ yang juga membangun rekatan/ dengan rasa yang baru// (Sajak “Pep Guardiola”, 2026) BENAR kata Pep Guardiola, “Tidak ada yang abadi. Jika ada, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2">Tak Ada yang Abadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-563004 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/06/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak ada yang abadi/ begitulah kehidupan ini bergerak/ sebagai keniscyaan/ begitu pun Pep Guardiola/ dia sadar yang abadi hanya rasa/ dan, ia hanya meninggalkan cinta/ untuk Manchester City/ yang juga membangun rekatan/ dengan rasa yang baru//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2026)</strong></p>
<p><strong>BENAR</strong> kata Pep Guardiola, “Tidak ada yang abadi. Jika ada, aku pasti sudah di sini. Yang abadi adalah perasaan, orang-orang, kenangan, dan cinta yang kumiliki untuk Manchester City-ku&#8230;”</p>
<p>Kalimat filosofis itu juga tergubah sebagai ungkapan keniscayaan dalam salah satu lagu Ariel (waktu itu masih di album Peterpan “Sebuah Nama, Sebuah Cerita”, 2008), <em>Tak Ada yang Abadi</em>. Simaklah ini, <em>//Takkan selamanya tanganku mendekapmu/ Takkan selamanya raga ini menjagamu/ Seperti alunan detak jantungku/ Tak bertahan melawan waktu&#8230;//</em></p>
<p>Begitulah narasi indah Pep untuk mengungkapkan makna perpisahan. “Betapa indah waktu yang telah kita lalui bersama, Jangan tanya alasan kepergianku. Tidak ada alasan, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini waktuku&#8230;”</p>
<p>Sepuluh tahun. Mungkin bukan waktu yang lama, tetapi itulah durasi paling panjang dalam jejak kepelatihan Pep di sebuah klub, mulai dari Barcelona (2008-2012), hingga Bayern Muenchen (2013-2016). Dan, di klub itulah dia membendaharakan 20 trofi mulai dari Liga Primer, Piala FA, Community Shield, Piala Liga, Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Dia tak kalah berjajar dengan manajer legendaris Manchester United Alex Ferguson.</p>
<p><strong>Cepat atau Lambat</strong><br />
Cepat atau lambat, momen perpisahan itu pasti akan terjadi. Sejak pertengahan musim lalu, sudah beredar rumor Pep Guardiola akan meninggalkan Etihad. Panggantinya juga sudah disebut-sebut, Enzo Maresca yang waktu itu diberhentikan oleh Chelsea. Maresca bukan nama baru bagi City, karena dia pernah menjadi staf kepelatihan Pep di Manchester Biru.</p>
<p>Kebetulan, prestasi Maresca juga tidak buruk saat dipecat The Blues. Dia mengantar Chelsea meraih Liga Konferensi UEFA 2024-2025 dan Piala Dunia Antarklkub FIFA 2025. Hanya karena disharmoni dengan manajemen, dia digantikan oleh Liam Rosenior yang hanya bertahan sekitar 100 hari di Stamford Bridge.</p>
<p>Bukan tidak mungkin, posisi Pep akan diisi oleh Enzo Maresca, atau nama yang juga muncul, Vincent Kompany. Dengan demikian, The Citizens tidak akan mengalami turbulensi adaptasi taktik, karena racikan Maresca juga senada dengan filosofi Pep, dan Kompany memahami inti taktik Pep Guardiola.</p>
<p>Seharusnya, Pep masih menyisakan kontrak selama setahun di Etihad, namun dia memutuskan berhenti lebih cepat. Entah ke mana nanti dia bakal berlabuh. Santer disebut dia bakal menuju Liga Pro Arab Saudi, atau banyak juga yang memperkirakan dia tertarik menerima tawaran melatih tim nasional Italia.</p>
<p>Yang pasti, dia adalah legenda hidup. Di klub mana pun baik Barcelona, Bayern Muenchen, maupun Manchester City, dia merevolusi permainan menjadi serasa “ideologi”. Basis taktik penguasaan bola (<em>ball possession</em>) dan <em>pressing</em> tinggi, serta penempatan posisi yang mewujud indah sebagai “koreografi” <em>tiki-taka</em> menjadi ciri khas Pe Guardiola.</p>
<p>Hanya di Bayern Muenchen dia dikritik tidak cocok dengan filosofi sepak bola Jerman yang lebih condong ke <em>speed and power game</em>. Gaya ini dinilai tidak cocok dengan mentalitas Bundesliga, dianggap memperlambat tempo dan rentan terhadap serangan balik. Toh bukankah sesungguhya Pep juga tidak bisa dipandang gagal di Bayern, karena mendominasi trofi domestik (tujuh gelar), dan hanya tidak berhasil mengangkat trofi Eropa?</p>
<p>Sebelumnya, di Barcelona dia menyempurnakan <em>attacking football</em> warisan sang “ideolog” Akademi La Masia Johan Cruyff dengan <em>pressing</em> dan dominasi penguasaan bola.</p>
<p>Filosofinya berpusat pada dominasi <em>ball possession</em>, dan permainan posisional. Tim Pep mengontrol pertandingan melalui operan pendek yang akurat, melakukan <em>pressing</em> ketat saat kehilangan bola, dan mendoktrinkan formasi cair untuk membongkar pertahanan lawan sekaligus menciptakan estetika bermain, semacam orkestrasi. Pada masanya, Barcelona menjadi gambaran sentuhan taktik Pep.</p>
<p>Pada pertengahan musim 2025-2026 Liga Primer, The Citizens sempat kehilangan kendali permainan, dan beberapa kali mengalami kekalahan dari lawan “yang tidak-tidak”. Namun haruslah diakui kemampuan Pep Guardiola dalam memulihkan mentalitas tim. Hingga menjelang pekan-pekan pamungkas liga, City bisa bangkit bahkan bersaing dengan Arsenal dalam perpacuan gelar, sampai akhirnya, selisih poin yang tipis menyelamatkan Meriam London untuk meraih trofi.</p>
<p>Musim ini, City memang gagal di liga, namun membendaharakan dua trofi: Piala FA dengan mengalahkan Chelsea di final, dan Piala Liga (Carabao Cup), menundukkan Arsenal.</p>
<p><strong>Vincent Kompany</strong><br />
Selain Maresca, figur lain yang banyak disebut menjadi calon pengganti Pep adalah Vincent Kompany, eks kapten yang kini mengarsiteki Bayern Muenchen. Pada saat aktif sebagai pemain, dia pernah terpilih sebagai Pemain Terbaik 2012 Liga Primer. Juga menempati urutan ke-23 dari 100 pemain terbaik dunia yang dirilis oleh The Guardian.</p>
<p>Berkat 11 tahun memperkuat City dari 2008 hingga 2019, Kompany paham betul kultur dan lekak-lekuk Manchester Biru. Dia membawa Bayern hingga ke semifinal Liga Champions sebelum dikalahkan oleh Paris St Germain. Karismanya mampu mengatasi ego para bintang di ruang ganti.</p>
<p>Pelatih kelahiran Brussel, Belgia ini dikenal kaya variasi taktik. Dia juga visioner, memahami skema permainan yang diwariskan Pep Guardiola untuk dikembangkan sebagai metode taktik ala Kompany.</p>
<p>Siapa pun yang dipilih manajemen City, tentu dengan kalkulasi matang untuk meneruskan jejak matang Pep Guardiola.</p>
<p>Tak ada yang abadi. Cepat atau lambat, tidak bisa tidak, orang terbaik pasti akan berlalu. Kenangan Pep Guardiola tak akan terhapus di Etihad. Jejak itu terukir pada 20 tanda yang menghias lemari perbendaharaan trofi Manchester City. Dia telah menjadi legenda, yang mungkin bahkan tak tersamai&#8230;</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/06/tak-ada-yang-abadi-2">Tak Ada yang Abadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 10:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555879</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // akan terjadikah keberulangan kisah?/ dari tiga musim terakhir/ Arsenal hampa tangan/ ketika gelar sudah di depan/ kini masih ada etape mendebarkan/ perpacuan dengan Manchester City/ di akhir perjalanan&#8230;// (Sajak “Keberulangan Arsenal”, 2026) ARSENALKAH, atau Manchester City? Pilihan siapa calon juara, ibarat adu mental di etape terakhir perburuan trofi Liga Primer [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah">Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-555881 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/04/logo-bola-bola-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// akan terjadikah keberulangan kisah?/ dari tiga musim terakhir/ Arsenal hampa tangan/ ketika gelar sudah di depan/ kini masih ada etape mendebarkan/ perpacuan dengan Manchester City/ di akhir perjalanan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Keberulangan Arsenal”, 2026)</strong></p>
<p><strong>ARSENALKAH</strong>, atau Manchester City?</p>
<p>Pilihan siapa calon juara, ibarat adu mental di etape terakhir perburuan trofi Liga Primer musim 2025-2026. Dari pertemuan yang bagaikan “final” di Etihad, dua pekan lalu, City menang 2-1 dan makin memangkas jarak poin klasemen, plus dengan menabung satu laga lebih banyak.</p>
<p>Benar-benarkah perpacuan ini akan berlangsung sampai akhir, dan bukan tidak mungkin ditentukan oleh selisih gol? Ini tentu terkait dengan daya tahan mental.</p>
<p>Tiga musim sebelumnya, Meriam London yang memimpin klasemen hingga pekan-pekan terakhir juga terlepeset oleh “ketidaktahanan” serupa. Dua kali kalah berpacu dari The Citizens, dan sekali tak ungkulan melawan Liverpool.</p>
<p>Sejumlah pundit &#8212; Alan Shearer misalnya &#8212; menilai, seperti dalam tiga musim sebelum ini, Arsenal mulai memperlihatkan tanda-tanda kerapuhan mendekati tahap akhir. Dan, selalu begitu yang terjadi pada lap menentukan.</p>
<p>Simaklah catatan ini. Pada 2022-2023, dengan 84 poin Arsenal menempati posisi kedua, kalah bersaing dari Manchester City yang meraih 89 poin. Kisah berulang musim 2023-2024. Arsenal kalah tipis (91-89) dalam klasemen akhir dari Manchester City, lalu pada 2024-2025, dengan angka 74, Bukayo Saka dkk kalah bersaing dari Liverpool (84), setelah sempat tampil menjanjikan dan optimis juara di separuh musim.</p>
<p>Musim ini, perpacuan di etape terakhir dimulai dengan kemenangan City atas Chelsea di pekan ke-32. Di Stamford Bridge, London, 12 April silam, tim racikan Pep Guardiola itu menang meyakinkan 3-0. Padahal sebelum ini, pada pertengahan musim, The Citizens sempat kehilangam fokus dan konsistensi.</p>
<p>Hasil itu membuat City kini mengemas 64 poin dari 31 laga di peringkat dua klasemen Liga Inggris. Ditambah hasil positif melawan Burnley 23 April lalu, Pasukan Etihad kini punya selisih poin yang cukup untuk bersaing merebut trofi.</p>
<p>The Citizens kini menggeser Arsenal dari puncak klasemen saat musim tersisa lima laga. Manchester City punya staristik bagus saat memimpin klasemen ketika musim sudah mendekati akhir.</p>
<p>Erling Haaland punya jumlah poin (70) dan selisih gol (37), sama dengan Arsenal. Namun, mereka unggul produktivitas gol (66). Dalam statistik, City tidak pernah gagal juara ketika memuncaki klasemen setelah memainkan 33 pertandingan atau lebih. Pep Guardiola menilai, setiap laga dari lima pertandingan tersisa akan menjadi seperti final.</p>
<p>Bagaimanapun, persaingan kini menjadi makin terbuka. Kontrol berada di Manchester City untuk menentukannya. Kondisi <em>on fire</em> The Citizens bakal makin menjadi-jadi dan menemukan momentum.</p>
<p>Arsenal butuh 16 poin dari 5 laga sisa (maksimal 86 poin), sementara City harus menyapu bersih sisa laga untuk juara.</p>
<p>Dalam jadwal sisa, Arsenal menghadapi lima laga, yakni melawan Newcastle United (kandang), Fulham (kandang), West Ham United (tandang), Burnley (kandang), dan Crystal Palace (tandang).</p>
<p>Sedangkan Manchester City punya lima laga sisa, yakni melawan Southampton (kandang), Everton (tandang), Brentford (kandang), Bournemouth (tandang), Crystal Palace (kandang), dan Aston Villa (kandang).</p>
<p><strong>Dari Tendangan Sudut</strong><br />
Kompetisi yang sehat memang menggambarkan rivalitas ketat, seperti yang terjadi selama empat musim terakhir di Liga Primer. Tiga klub berkejaran di ujung musim. Sementara Arsenal berjuang sejak empat tahun terakhir untuk membuktikan konsistensi performanya, dan terbukti selama tiga tahun belakangan belum berhasil merasih puncak. Kondisi ketat juga berlangsung di kompetisi Eropa lainnya, yakni Liga Seri A dan La Liga.</p>
<p>Arsitek Arsenal, Mikel Arteta, sampai tak lagi memedulikan standar penampilan Meriam London. Dia banyak disindir gol-gol timnya lebih banyak lahir dari tendangan sudut, dan bukan dari <em>open play</em>. Dengan standar performa imprevisitas yang mengalir, dan dalam tiga musim sebelumnya dipuja-puji sebagai “Arteta-ball”, sekarang menjadi lebih pragmatis.</p>
<p>Apakah perubahan filosofis ini merupakan respons “buntu” Arteta atas tuntutan ekosistem Arsenal, yang tak juga mampu merealisasi trofi, sejak terakhir kali klub London itu menjuarainya pada 2003-2004?</p>
<p>Kita tunggu bagaimana <em>ending</em> dari perpacuan Arsenal yang sedang gelisah, dan Manchester City yang tengah “on fire” justru di ujung musim. Apakah Arteta yang bakal mengukir sejarah dan pecah telur trofi, atau Pep Guardiola yang bisa membuktikan mampu mengelola kematangan tim juara?</p>
<p><strong>&#8212; Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em><strong> &#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/25/arsenal-dalam-ancaman-keberulangan-kisah">Arsenal, dalam Ancaman Keberulangan Kisah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Dec 2025 10:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Maresca]]></category>
		<category><![CDATA[Impresif]]></category>
		<category><![CDATA[liga inggris]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Citizens]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=536433</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) TAHUN 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-536435 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/12/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak ada yang abadi/ begitukah sepak bola/ bergerak mobil dalam dinamikanya/ hanya bisa diperkirakan/ apa yang akan terjadi esok/ dan, siapa pula yang merancangnya/ pada saat ini?//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>TAHUN</strong> 2016, ketika Pep Guardiola tiba di Manchester dari Bayern Muenchen, bukankah saat itu terkesankan: tiba-tiba dia menggantikan Manuel Pellegrini yang sebenarnya juga mampu mengemas performa Manchester City sebagai kekuatan elite baru Liga Primer?</p>
<p>Pria kelahiran Santiago, Chile itu bahkan menjadi manajer non-Eropa pertama yang meraih trofi Liga Inggris pada 2013-2014.</p>
<p>Cerita sembilan tahun silam itu, sama dengan yang sekarang terwacanakan. Bakal datang orang baru yang menggeser Pep dari kursi kepelatihan The Citizens, dan sang pengganti itu tidak jauh-jauh amat: Enzo Maresca dari Chelsea. Masa depan Pep pun tiba-tiba dispekulasikan.</p>
<p>Dulu tak banyak yang memperkirakan, Manuel Pellegrini bakal mudah tergeser. Waktu itu berkembang analisis, Manchester City mendatangkan Pep Guardiola demi mempercepat proses merajai liga dan Eropa dengan permainan yang lebih impresif. Sedangkan sekarang, diduga Maresca didatangkan untuk sebuah proyek penyegaran. Pep &#8212; yang telah membawa City merajai liga dan mempersembahkan gelar Eropa pada 2022-2023 &#8212; dinilai mulai memasuki atmosfer kejenuhan, sudah tidak memiliki lagi tantangan yang hendak diraih.</p>
<p>Lalu, apakah musim 2026-2027 nanti pergeseran itu benar-benar akan terjadi?</p>
<p>Ya, ketika kontrak Pep baru akan berakhir 2027, tiba-tiba saja muncul rumor Enzo Maresca menjadi kandidat kuat manajer City. Media-media Inggris menspekulasikan Maresca sebagai pengganti Pep. Pria kelahiran Italia itu pernah menjadi pelatih City U23 dan asisten Pep. Direktur Olahraga Manchester City, Hugo Viana disebut-sebut telah bertemu dengan Maresca.</p>
<p>Bersama Chelsea, pencapaian Maresca cukup bagus. Pelatih 45 tahun itu memberi trofi Conference League dan juara Piala Dunia Antarklub 2025. Dia tengah berjuang mengembalikan kejayaan The Blues di liga.</p>
<p>“Penting untuk memahami alasan di balik adanya berita ini,” kata Maresca dengan tafsir samar. Apakah kalimat ini ditujukan untuk manajemen Chelsea, sehingga dia punya posisi tawar yang kuat?</p>
<p>Spekulasi itu kencang berembus, justru ketika kedua klub sedang bersaing di papan atas dengan Arsenal. Di pihak lain, Pep dengan bijak menyatakan tidak bisa menjamin apakah musim depan bakal bertahan di Etihad. Menurutnya, apa pun bisa terjadi dalam sepak bola. Bagi dia, yang terpenting adalah menjaga performa agar Erling Haaland dkk bisa sebaik mungkin menuntaskan musim.</p>
<p>Seperti ditulis oleh <em>The Athletic </em>(<em>detik.com</em>, 20 Desember 2025), Pep mengatakan, “Saya kan masih di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Sepak bola bisa berubah setiap saat, bahkan jika saya punya kontrak 10 tahun, atau enam bulan”.</p>
<p>Pelatih asal Spanyol itu telah enam kali memberi gelar liga kepada City, di antaranya empat musim berturut-turut pada 2020-2021, 2021-2022, 2022-2023, dan 2023-2024, ditambah gelar-gelar lain Piala FA, Piala Liga, Community Shield, lalu juga Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Atarklub FIFA.</p>
<p>Sebelum berkarier di Etihad, Pep juga cemerlang bersama Barcelona dan Bayern Muenchen. Dia dikenal sebagai “ideolog” sepak bola menyerang, menyempurnakan <em>total football</em> Johan Cruyff dengan <em>possession football</em> ala Barca yang terkenal sebagai <em>tiki-taka</em>.</p>
<p>Kebersamaannya dengan The Citizens sejak 2016, bagaimanapun menghadirkan fakta, Manchester Biru telah menjadi kekuatan elite Liga Primer. Dan, di balik kejeniusannya, cepat atau lambat dia bisa diliputi atmosfer kejenuhan, “kehilangan tantangan”, dan diperkirakan membutuhkan suasana baru.</p>
<p>Apakah dia menjadi simbol realitas bahwa tidak ada yang abadi di sepak bola? Akan selalu terjadi pergerakan, pergeseran, dan mobilitas dalam dinamika industri kompetisi. Atau yang dalam ungkapan Pep Guardiola, “Dalam sepak bola, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi?”</p>
<p>Apalagi, di dunia kepelatihan profesional, kita memahami mereka bagai berjalan di titian rambut dibelah tujuh. Penuh risiko dan keniscayaan antara mencapai kesuksesan, atau masuk ke lorong keterpurukan.</p>
<p>Ya, hari ini Pep masih di Etihad. Hari ini Maresca juga masih di Stamford Bridge. Tak ada yang tahu, esok mereka akan berlabuh di mana…</p>
<p><strong>&#8212;</strong> <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> <strong>&#8212;</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/12/27/tak-ada-yang-tahu-apa-yang-akan-terjadi">Tak Ada yang Tahu Apa yang Akan Terjadi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2025 10:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Cristiano Ronaldo]]></category>
		<category><![CDATA[Diego Maradona]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pele]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=507249</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor// (Sajak “Pep Guardiola”, 2025) MANUSIA rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara. Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-507251 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/11/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor//</em><br />
<strong>(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)</strong></p>
<p><strong>MANUSIA</strong> rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara.</p>
<p>Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento alias Pele. Lalu memosisikan Diego Maradona, Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan kini Pep Guardiola, setelah sebelumnya kita juga tidak mungkin meninggalkan nama Alex Ferguson.</p>
<p>Eksepsionalitas itu tak hanya terkait dengan kemampuan untuk membedakan nama-nama itu dari yang lain, namun membawa warna kepada dunia sepak bola lewat catatan dan angka-angka. Bagai cerita, tetapi nyata.</p>
<p>Dan, Minggu dinihari lalu, ketika Manchester City menjamu Liverpool di Stadion Etihad, catatan berbeda itu dibuat oleh Pep Guardiola. Dia melengkapi diri sebagai “manusia rekor”, masuk “klub 1.000”, pelatih yang memimpin tim dalam laga yang ke-1.000. Pria Spanyol itu mengukirnya bersama tiga klub &#8212; Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester City &#8212; sejak 2007.</p>
<p>Ke-1.000 laga Pep itu dicatat bersama Barcelona B (42 laga), Barcelona (247), Bayern Muenchen (161), dan The Citizens (549). Dalam 18 karier kepelatihannya, dia membukukan 36 trofi, termasuk 12 gelar dari tiga liga yang berbeda. Pep mengukir 716 kemenangan atau sebanyak 71 persen.</p>
<p>Laga ke-1.000 itu menjadi makin berkesan bagi Pep, karena ditandai dengan kemenangan 3-0 City atas Liverpool.</p>
<p><strong>Apresiasi Alex Ferguson</strong><br />
Pelatih legendaris Manchester United, Alex Ferguson secara khusus memberi ucapan selamat dan apresiasi kepada Pep Guardiola. “Saya sangat senang menyambut Anda bergabung dengan League Managers Assosiation Hall of Fame 1.000 club yang bergengsi”, kata Sir Alex, seperti dikutip <em>ESPN</em> (<em>detik.com</em>, 8 November 2025).</p>
<p>Ferguson mencatat lebih dari 2.000 pertandingan, termasuk ketika menangani Manchester United (1986-2013) dengan 49 trofi (38 bersama MU). Manajer asal Skotlandia itu memuji capaian Pep Gardiola, “Cinta dan hasrat Anda yang mendalam terhadap sepak bola selalu begitu nyata. Anda patut bangga atas dampak tak terlupakan nyang terus Anda berikan di dunia sepak bola global”.</p>
<p>Selain Sir Alex, nama lain yang termasuk “klub 1.000” adalah Brian Clough yang identik dengan Nottingham Forest, dan Sir Matt Busby yang dikenal sebagai legenda Liverpool.</p>
<p>Pep mengaku kaget sampai ke catatan tersebut. Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan kemenangan sebanyak itu, dengan persentase yang besar selama berkarier. “Kami sudah melakukan banyak hal luar biasa di Barcelona, Bayern Munich, dan di sini. Luar biasa. Sangat sulit meraihnya,” ucap dia.</p>
<p>Dengan tetap merendah, Pep mengakui, level tersebut dicapai berkat bantuan para pemain top di setiap tim yang ditangani. Setelah itu, dia menekankan kesuksesan itu pada fondasi kerja keras, dedikasi, cinta, semangat, dan untuk tidak kalah dari siapa pun.</p>
<p><strong>Genius</strong><br />
Pep Guardiola dikenal sebagai pelatih genius, mengembangkan filosofi <em>pressing football</em> yang diwariskan oleh mentornya, Johan Cruyff. Saat legenda Belanda itu mengarsiteki Barcelona, Pep bermain sebagai “murid” yang menyerap pemikiran tentang taktik dan filosofinya.</p>
<p>Ketika meneruskan tugas Frank Rijkaard sejak 2007, konsep bermain Barca dipertajam lebih dari <em>pressing football</em>. Pep mendoktrinkannya mirip “ideologi”. Permainan Blaugrana beraksen <em>possession football</em>, yang kemudian dikenal sebagai<em> tiki-taka</em>. Skema taktik menyerang ini bertumpu pada umpan-umpan pendek cepat dengan penguasaan intens bola, mengendalikan permainan, dan mencari celah pertahanan lawan.</p>
<p>Barca begitu superior dari 2007 hingga 2012. Pep menerapkan filosofi itu di Bayern Muenchen (2013-2016). Die Bayern dominan di Bundesliga, namun kurang sukses di Eropa. Para legenda klub mengkritik,<em> tiki-taka</em> ala Barcelona tidak cocok diterapkan sebagai karakter bermain di Bayern. Ketika pindah ke Manchester City pada 2016, dia mengubah klub itu menjadi kekuatan utama Liga Primer, bertumpu pada <em>possession football</em> yang mirip karakter Barcelona.</p>
<p>Kiranya benar apa kata Alex Ferguson, filosofi sepak bola Pep punya dampak global yang takkan terlupakan. Ketika mengilas balik Barcelona 2007-2012, publik sepak bola dunia bakal mencatatnya sebagai warisan yang tidak ada duanya.</p>
<p>Tim nasional Spanyol pun, kendati diarsiteki oleh para pelatih yang tak berlatar belakang Barcelona, cenderung menampilkan performa <em>tiki-taka</em> sebagai karakter permainan La Furia Roja, terutama ketika meraih trofi Euro 2008 (Luis Aragones), juara dunia 2010 dan Euro 2021 (Vicente del Bosque), dan kampiun Euro 2024 (Luis de la Fuente)&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/11/15/pep-guardiola-dalam-rekor-gila">Pep Guardiola dalam “Rekor Gila”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Dec 2024 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Munchen]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=453012</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak selamanya dia betah di singgasana/ ada titik yang mengusik/ : apa lagikah yang dicari?/ ada bisik yang menggelitik/ : apa pulakah yang didaki/ apa pula yang harus diketengahkan?// (Sajak &#8220;Kejenuhan Sang Genius&#8221;, 2024) AKAN ada titik ketika pikiran menghentikan kreasi. Atau setidak-tidaknya, meredupkan gairah bereksplorasi. Akan ada titik ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh">Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-453020 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak selamanya dia betah di singgasana/ ada titik yang mengusik/ : apa lagikah yang dicari?/ ada bisik yang menggelitik/ : apa pulakah yang didaki/ apa pula yang harus diketengahkan?//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Kejenuhan Sang Genius&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>AKAN</strong> ada titik ketika pikiran menghentikan kreasi. Atau setidak-tidaknya, meredupkan gairah bereksplorasi.</p>
<p>Akan ada titik ketika &#8220;antitesis&#8221; tak lagi mempan memadamkan &#8220;tesis&#8221;. Pun tak lagi mencair menjadi &#8220;sintesis&#8221; yang dianut sebagai sebuah &#8220;genre&#8221;.</p>
<p>Mungkin itu hanya menjadi &#8220;era&#8221;, untuk menandai suatu perjalanan waktu dengan kejayaan tertentu; mengetengahkan &#8220;cara&#8221; yang dia temukan dan diolah sebagai &#8220;jalan&#8221; untuk mengatasi &#8220;jalan yang lain&#8221;. Tentu &#8220;jalan&#8221; itu membutuhkan syarat untuk ditampilkan sebagai ekspresi survivalitas.</p>
<p>Lalu apakah seseorang yang telah sedemikian identik dengan kejeniusan dan &#8220;tesis&#8221;, pada titik tertentu tidak lagi mampu menjaga nyala eksplorasi dalam merawat jalan yang dia yakini?</p>
<p>Jika orang itu adalah Pep Guardiola, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kejeniusan, kreativitas, dan &#8220;idiologi&#8221; yang dieksplorasinya?</p>
<p>Kekalahan 1-2 dari The Red Devils dalam &#8220;Derby Manchester&#8221; di Stadion Etihad, akhir pekan lalu menjadi bukti &#8220;kegalauan&#8221; Pep tentang kemelut performa Kevin De Bruine dkk.</p>
<p>Manchester United yang kini diarsiteki Ruben Amorim, melengkapi rangkaian hasil buruk dari 11 laga yang dilalui The Citizens di semua ajang. Hanya sekali menang. Sisanya dua kali seri dan delapan kali kalah.</p>
<p><strong>Kegelisahan?</strong><br />
Apa yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara empatik <em>Daily Mail</em> (<em>detik.com</em>, 11/12-2024) menyiratkan kegelisahan tentang masa depannya.</p>
<p>Dia seperti merasa sudah lelah dengan perjalanan karier kepelatihan yang bertabur kegemilangan di Barcelona, Bayern Muenchen, dan Manchester City.</p>
<p>Pep menggumamkan keinginan untuk berhenti di Manchester, atau mungkin masuk ke tantangan baru: menangani tim nasional sebuah negara. Ditegaskan, The Citizens adalah klub terakhir dalam kariernya.</p>
<p>Dia mengaku lelah untuk melatih klub lain ke depannya, setelah memasuki tahun kedelapan bersama City, periode terlama dalam jejak kepelatihannya. Pep membendaharakan banyak gelar, termasuk enam trofi Liga Primer dan satu Liga Champions.</p>
<p>Apakah City mau begitu saja kehilangan Pep? Sesegera itu, Manchester Biru memperpanjang kontrak sampai 2027. Mestinya, ikatan pelatih asal Spanyol itu habis pada musim panas 2025.</p>
<p>Di tengah kemelut performa City akhir-akhir ini, dia masih dipercaya untuk mempertahankan prestasi, sekaligus menyiapkan tim ke depan. Dia akan genap satu dekade di Etihad jika menyelesaikan masa kontraknya.</p>
<p>Ketika menyatakan City bakal jadi klub terakhir, artinya dia tidak mau lagi menangani klub. Besar peluangnya untuk menjadi pelatih tim nasional, di negara mana pun yang meminati.</p>
<p>Dia mengaku tidak punya energi lagi. &#8220;Untuk memulai sesuatu yang baru di klub lain, melalui proses latihan dan sebagainya. Mungkin melatih tim nasional bisa, tetapi itu berbeda&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak mau lagi berkeliling ke negara lain, berhenti di sana dan melihat segala prestasi yang sudah dicapai, berpikir apakah bisa lebih baik lagi. Anda tidak akan punya waktu memikirkan itu ketika disibukkan dengan banyak hal setiap harinya.&#8221;</p>
<p><strong>Habitat Tantangan</strong><br />
Bagi genius seperti Pep, habitatnya ada dalam suasana &#8220;tantangan&#8221;. Jadi semudah itukah dia meninggalkan sepak bola yang telah menjadi daya hidup dan kehidupannya?</p>
<p>Jenuh, itu bisa dipahami. Tetapi apakah perasaan itu lantaran performa anjlok Manchester City pada musim 2024-2025 ini? Atau mungkin dia sudah terlampau lelah mencurahkan pikiran dan kreasi untuk menerjemahkan filosofi sepak bola indahnya?</p>
<p>Setelah lima musim bersama Barca di La Liga, tiga musim di Bundesliga, dan delapan tahun di Liga Primer, Pep menegaskan eksistensi sebagai &#8220;ideolog&#8221; sepak bola menyerang dengan aksen bermain mendominasi penguasaan bola. Dia mempertajam <em>total football</em> mahagurunya, Johan Cruyff.</p>
<p>Di Barca, dia sukses besar mengimplementasikan karakter dan folosofinya, sama dengan ketika membangun The Citizens sebagai kekuatan dahsyat di Liga Primer dan Eropa.</p>
<p>Hanya, di Bayern Muenchen dia tidak sepenuhnya bisa menuntaskan &#8220;ideologi&#8221;, karena bermain dengan mengandalkan <em>possession football</em> rupanya sulit bersenyawa dengan<em> speed and power game</em> ala Jerman.</p>
<p>Kini Pep Guardiola disibukkan oleh upaya membalikkan <em>passion</em> skuadnya sebagai kekuatan utama Liga Primer.</p>
<p>Semakin sulit mendapatkan &#8220;<em>touch</em>&#8221; antitesis itu, semakin dalam dia harus berkubang dengan kegalauan di posisi sulit&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh">Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langit Muram di Atas Etihad</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/12/07/langit-muram-di-atas-etihad</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Dec 2024 10:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Kiverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=450534</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // langit muram di atas Etihad/ semua di luar rencana/ semua menjadi bencana/ semua kehilangan sentuhan/ untuk menegakkannya&#8230;// (Sajak &#8220;Manchester City&#8221;, 2024) MANCHESTER City menjalani hari-hari musim ini dalam suasana kekalutan. Walaupun tengah pekan kemarin bisa memutus rangkaian hasil buruk lewat kemenangan 3-0 atas Nottingham Forest di Etihad, sebelumnya pada weekend [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/07/langit-muram-di-atas-etihad">Langit Muram di Atas Etihad</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-450695 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// langit muram di atas Etihad/ semua di luar rencana/ semua menjadi bencana/ semua kehilangan sentuhan/ untuk menegakkannya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Manchester City&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>MANCHESTER City</strong> menjalani hari-hari musim ini dalam suasana kekalutan.</p>
<p>Walaupun tengah pekan kemarin bisa memutus rangkaian hasil buruk lewat kemenangan 3-0 atas Nottingham Forest di Etihad, sebelumnya pada <em>weekend</em> mereka tampil di Anfield dengan segala &#8220;kekikukan&#8221;.</p>
<p>Kikuk untuk membuktikan bisa mengamankan peluang mempertahankan gelar liga. Kikuk untuk menghentikan laju Liverpool, dan kikuk untuk menunjukkan bisa bangkit dari rentetan hasil buruk tanpa kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir.</p>
<p>Manchester City kikuk untuk menyaput mendung yang beberapa pekan menggantung menyelimuti langit muram di atas Stadion Etihad.</p>
<p>Bahkan seorang Pep Guardiola pun tak kuasa menyimpulkannya. Dia masih mendiagnosis akar masalah. Bahkan hasil seri 3-3 melawan Feyenoord di <em>matchday</em> 5 Liga Champions, dua pekan lalu mengetengahkan fenomena psikologi aneh: Pep melukai sendiri wajahnya dengan cakaran kuku&#8230;</p>
<p>Sang genius itu sempat mengungkapkan, setelah delapan tahun yang bergelimang kejayaan, Manchester City harus menghadapi saat-saat seperti ini: kekalahan yang tak tercegah, kebangkitan yang betapa susah.</p>
<p>Setelah kekalahan mengenaskan, 0-4 dari Tottenham Hotspur di Etihad, dua pekan lalu, pelatih asal Spanyol itu sampai pada kalkulasi, jika sekali lagi City kalah, sang rival utama Liverpool tak akan terbendung meraih trofi Liga Primer. Dan, Anfield menambah penderitaan The Citizens, yang menyerah 0-2 dari dominasi Liverpool.</p>
<p>Enam kekalahan, termasuk ditahan seri 3-3 Feyenoord setelah memimpin 3-0, baru bisa diputus pada pekan ke-14 lewat kemenangan 3-0 atas Nottingham Forest.</p>
<p>Ada apa sebenarnya dengan Manchester City?</p>
<p><strong>Dua Realitas</strong><br />
Ada dua realitas yang sedang berlangsung di Liga Primer saat ini: City terpuruk, sedangkan Liverpool dalam tren konsisten. Arsenal membuntuti, dan Manchester United dalam suasana di awal harapan dengan taktikus baru Ruben Amorim. Kemenangan 4-0 atas Everton sudah lama dinanti sebagai pelecut konfidensi Bruno Fernandes dkk, yang kini sedang mengawali era di bawah arahan Amorim.</p>
<p>Prediksi keterputusan kegemilangan City dari empat kali beruntun juara pun, kini memberi angin terutama bagi Liverpool yang stabil dengan pelatih barunya, Arne Slot.</p>
<p>Sedemikian ekstremkah penurunan performa The Citizens, dan Pep Giardiola pun belum menemukan cara untuk memperbaiki?</p>
<p>Pep mengatakan, selama delapan tahun mereka tidak pernah mengalami hal ini. Dia telah menjadi bagian terpenting untuk mengangkat Manchester Biru sebagai elite Liga Primer.</p>
<p>&#8220;Saya tahu, cepat atau lambat kami akan kalah. Saya tidak pernah menyangka akan kalah dalam tiga pertandingan Liga Primer berturut-turut, tetapi kami telah tampil sangat konsisten berulang kali. Sekarang kami tidak dapat menyangkal kenyataan yang terkadang terjadi dalam sepak bola dan kehidupan ada di sini,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Pernyataan itu cukup bijak untuk menjelaskan tentang arti &#8220;siklus kehidupan&#8221;, yang juga lazim terjadi dalam olahraga, termasuk sepak bola.</p>
<p>Dalam falsafah Jawa kita mengenal &#8220;Cakra Manggilingan&#8221;. Ada saat-saat di atas, ada saat di bawah, berputar bagai roda. Dan, seperti itulah kehidupan.</p>
<p>Kata Pep, &#8220;Saya belajar dari pengalaman, ketika situasi seperti ini tiba, tetap tenang. Lalu jangan membuat terlalu banyak analisis, karena hal itu akan jadi salah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terkadang setelah kekalahan, saya berteriak pada tim dan kemudian di pagi harinya saya berpikir, &#8216;Mengapa saya melakukan itu?&#8217; Saya harus lebih rileks,&#8221; tegasnya.</p>
<p><strong>Skuad Menua?</strong><br />
Muncul pula penilaian, skuad City mulai menua, yang tentu memengaruhi tingkat kesegaran untuk bersaing di level tertinggi.</p>
<p>Sembilan pemain sudah berusia lebih dari 30 tahun, yakni Ederson, John Stones, Mateo Kovacic, Bernardo Silva, Stefan Ortega, Kevin De Bruyne, Ilkay Guendogan, Kyle Walker, dan Scott Carson.</p>
<p>Pep Guardiola menepis analisis tersebut. &#8220;Itu tergantung performa. Ada pemain yang 30 tahun dan lebih yang main bagus banget. Ada pemain yang 23 tahun yang tidak terlalu bagus. Saya tidak melihat umur. Semua tim punya pemain dengan umur tertentu,&#8221;&#8221; ujarnya, seperti ditulis <em>The Guardian</em> (<em>detik.com</em>, 27/11/2024).</p>
<p>Kata Pep, beberapa pekan lalu mereka &#8212; di usia yang sama &#8212; meraih lagi trofi liga, lolos ke final Piala FA, dan kalah dari Real Madrid di perempatfinal Liga Champions.</p>
<p>&#8220;&#8230; Kalau saya bisa sebut alasannya, saya akan segera menyelesaikannya, tetapi tidak sesederhana itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Gelombang cedera sejumlah pemain juga ditengarai menjadi pemicu penurunan performa mereka.</p>
<p><strong>Penyegaran, seperti Apa?</strong><br />
Spekulasi masa depan Pep bersama The Citizens menjadi topik yang paling banyak dibicarakan.</p>
<p>Seperti yang disampaikannya kepada <em>ESPN,</em> 29 November lalu, &#8220;Di klub sepak bola ini Anda harus menang, dan jika Anda tidak menang, Anda akan mendapat masalah&#8221;. (<em>cnnindonesia.com</em>, 30/11/2024).</p>
<p>&#8220;Saya tahu orang-orang berkata: &#8216;Mengapa Pep tidak mendapat masalah? Mengapa Pep tidak dipecat?&#8217;. Apa yang telah kami lakukan selama delapan tahun terakhir adalah alasan mengapa saya memiliki margin (tidak dipecat) ini,&#8221; ucap Pep yang tercatat sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Premier League. Mulai bergabung dengan The City pada 2017, Pep hanya sekali gagal menjuarai liga, yakni pada 2019-2020. Ketika itu Liverpool yang juara.</p>
<p>Lalu penyegaran seperti apa yang akan mewarnai skuad City?</p>
<p>Pep masih terikat kontrak hingga 2027. Apakah manajemen menginginkan perubahan dari sisi kepelatihan?</p>
<p>Dia sudah menegaskan siap untuk meninggalkan Etihad dalam catatan terburuk yang pernah dilalui selama melatih, dari Barcelona hingga Bayern Muenchen.</p>
<p>Membendarakan 18 trofi untuk Manchester Biru menjadi catatan yang akan sulit tersamai, termasuk rekor empat musim berturut-turut menjuarai Liga Primer hingga 2023-2024.</p>
<p>Bagaimanapun, pelatih asal Spanyol itu akan tetap dikenang sebagai tokoh penuh prestasi di Manchester City. Dengan topangan dana besar Shekh Mansour el-Suleimany dari Abu Dhabi, Pep Guardiola telah benar-benar mengubah klub tersebut sebagi salah satu ikon elite Liga Primer.</p>
<p>Kita akan menunggu, apakah &#8220;jeda penampilan&#8221; yang menyuramkan langit Etihad itu akan segera tersaput, dan bisa diakhiri dengan solusi yang tepat. Atau, kemelut penampilan Erling Haaland dkk bakal makin menjadi.</p>
<p>Artinya, penyegaran seperti apa yang bisa ditemukan oleh Pep dan manajemen The Citizens?</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/07/langit-muram-di-atas-etihad">Langit Muram di Atas Etihad</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 10:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Arne Slot]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea]]></category>
		<category><![CDATA[Enzo Maresca]]></category>
		<category><![CDATA[Eric ten Hag]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Mikael Arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=438362</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak mungkin alam tak bergerak/ dalam pusaran waktu/ ia adalah keharusan hukum/ yang menapak dalam jejak/ yang bergerak dalam keniscayaan/ bisa lebih baik/ atau sebaliknya&#8230;// (Sajak “Hukum Alam Sepak Bola”, 2024) SEBUAH perubahan, pastikah menjamin perbaikan? Pertanyaan itu meniscayakan dua jawaban, antara ya dan tidak. Antara memberi realitas perbaikan, atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola">Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-438368 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/09/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak mungkin alam tak bergerak/ dalam pusaran waktu/ ia adalah keharusan hukum/ yang menapak dalam jejak/ yang bergerak dalam keniscayaan/ bisa lebih baik/ atau sebaliknya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Hukum Alam Sepak Bola”, 2024)</strong></p>
<p><strong>SEBUAH</strong> perubahan, pastikah menjamin perbaikan?</p>
<p>Pertanyaan itu meniscayakan dua jawaban, antara ya dan tidak. Antara memberi realitas perbaikan, atau justru sebaliknya. Itu adalah kondisi aksiomatis dalam manajemen bidang apa pun.</p>
<p>Apa yang tergambar untuk klub-klub sebesar Barcelona, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea adalah cermin risiko perbaikan. Penyegaran bukan hanya terkait estafeta kepelatihan, tetapi juga dengan melepas sejumlah pemain dan merekrut materi baru.</p>
<p>Barcelona secara luar biasa beruntun menang dalam tujuh laga awal di La Liga. Hansi Flick, pengganti Xavi Hernandez, menyajikan konsistensi bermain dari taktik yang dia skemakan. Sejumlah pemain juga tampil gacor, menikmati taktik Flick. Ketajaman Robert Lewandowski, Raphinha, dan Dani Olmo bagai monster mengerikan bagi kiper lawan.</p>
<p>Dari hasil sementara ini, perubahan yang dilakukan manajemen Barca bisa dibilang sukses. Penyegaran pemain juga oke. Dani Olmo, alumni La Masia yang diambil dari Borussia Dortmund memperlihatkan sebagai rekrutan pas bagi kebutuhan Blaugrana.</p>
<p>Lihat pula Liverpool, yang didampingi pelatih baru, Arne Slot sebagai pengganti Juergen Klopp. Ada nuansa baru di Anfield. Sempat kalah mengejutkan, 0-1 dari Nottingham Forest, Mohammad Salah dkk kini menjadi salah satu penantang bagi kekukuhan Manchester City yang konsisten dengan produktivitas di laga-laga awal.</p>
<p>Arsenal, yang tetap di bawah Mikael Arteta, hadir dengan enam amunisi baru. Antara lain, mempermanenkan kiper David Raya yang semula dipinjam dari Brentford. Juga Marquinhos, dan meminjam <em>winger</em> Raheem Sterling selama satu musim dari Chelsea.</p>
<p>Untuk sementara, pilihan Arteta tidak keliru. Arsenal makin impresif dengan kematangannya. Hasil imbang 2-2 melawan The Citizens di Etihad menjadi gambaran bahwa penyegaran yang dilakukan pelatih asal Spanyol itu berada di trek yang tepat.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Chelsea?</p>
<p>The Blues kini berada dalam bimbingan Ezo Maresca yang menggantikan Mauricio Pochettino. Chelsea banyak dikritik melakukan penyegaran pemain secara berlebih di sejumlah posisi, namun perlahan tapi pasti mulai stabil dengan tampilan dan hasil-hasil menjanjikan. Peringkat kelima di klasemen sementara dengan lima kali menang, sekali seri, dan sekali kalah menjadi catatan pembuka yang tidak buruk bagi Maresca di Liga Primer.</p>
<p><strong>Manchester United</strong><br />
Yang menjadi sorotan penting Liga Primer, bahkan liga-liga Eropa saat ini adalah Manchester United. Sang pemilik baru, Jim Ratcliffe mempertahankan Eric Ten Hag, namun apabila tidak ada perubahan yang menjanjikan, bukan tidak mungkin pelatih asal Belanda itu akan dievaluasi.</p>
<p>Ten Hag, yang dua musim lalu menggantikan Ralf Rangnick, pada periode pertamanya memberi harapan bagi penyegaran MU, yang belum juga mampu meraih trofi sejak kali terakhir pada 2013. Kini dia berkutat pada efektivitas rekrutmen pemain.</p>
<p>Dulu, Rangnick menganalisis, MU butuh “bedah jantung”, artinya membutuhkan perubahan total. Manajemen sudah sepenuhnya di bawah kendali Jim Ratcliffe, namun apakah “operasi jantung” dalam manajemen klub telah menyentuh wilayah teknis?</p>
<p>Kini disebut-sebut MU akan melepas tiga pemain yang bergaji mahal &#8212; Rp 7 miliar per pekan &#8212; yakni Casemiro, Christian Eriksson, dan Victor Lindelof. Setan Merah sudah berhasil mendapatkan Joshua Zirkzee, Leny Yoro, Matthijs de Light, Noussair Mazraoui, dan Manuel Ugarte. Dan, inilah tantangan bagi Ten Hag untuk meraciknya menjadi adonan yang sedap.</p>
<p>Penyegaran ibarat langkah spekulatif dalam membangun performa tim. Sejauh ini, dari lima laga, Eric Ten Hag belum menampilkan permainan gacor. Perubahan komposisi pemain juga belum menjawab, apakah sesuai dengan analisis “operasi jantung” ala Rangnick?</p>
<p><strong>Tesis &#8211; Antitesis</strong><br />
Kompetisi di sebuah liga seperti menyajikan kondisi pertarungan tesis &#8211; antitesis &#8211; sintesis. Satu klub dengan klub yang lain saling mencari formula dari teori-teori dan praktik yang saling mematahkan tesis antarpelatih.</p>
<p>Tesis, antitesis, dan sintesis adalah “hukum alam”, atau bahkan “sunnatullah” yang akan terpastikan dari perjalanan yang telah tergariskan dari ikhtiar-ikhtiar para pelakunya. Semua berusaha dengan segala modalitasnya, dan garis “langit”-lah yang akhirnya menentukan.</p>
<p>Rivalitas kejeniusan Pep Guardiola, Mikael Arteta, Arne Slot, Enzo Maresca, dan Eric Ten Hag mengetengahkan persaingan bukan hanya ketetapan dalam meracik penyegaran, tetapi juga taktik yang bisa berbeda-beda sesuai kebutuhan di setiap laga.</p>
<p>Lalu siapa taktikus Liga Primer yang akan menjadi “the last man standing”, seperti juga perjalanan yang dihadapi oleh Hansi Flick di La Liga?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/09/28/penyegaran-dan-hukum-alam-sepak-bola">Penyegaran dan Hukum Alam Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jun 2024 10:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Alex Ferguson]]></category>
		<category><![CDATA[Arrigo Sacchi]]></category>
		<category><![CDATA[Bob Paisley]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[Fabio Capello]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Zinedine Zidane]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=418524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;// (Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024) DI mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola? Saya takkan ragu menjadikannya leader di tengah kampiun-kampiun yang memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-418540 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak sembarang juara memiliki/ ia hanya melekat/ pada sebatas yang menekuni/ dengan keyakinan/ dan konfidensi/ juga takdir yang menempatkan/ di maqam apa&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Carlo Ancelotti”, Juni 2024)</strong></p>
<p><strong>DI</strong> mana posisi Carlo Ancelotti di antara para legenda, dan genius lapangan bola?</p>
<p>Saya takkan ragu menjadikannya <em>leader</em> di tengah kampiun-kampiun yang memiliki “maqam” istimewa.</p>
<p>Dengan Bob Paisley, Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Jose Mourinho dia lewat dan jauh memimpin. Dengan Alex Ferguson, lalu legenda-legenda Italia Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, dia juga jauh di depan.</p>
<p>Italiano kelahiran 1959 itu adalah “pahlawan dalam diam”, yang tak banyak berbla-bla-bla, dan lebih asyik bersama pipa cangklongnya. Dia tak seriuh para taktikus yang memiliki kekhasan karakter dalam mengekspresikan ungkapan hati.</p>
<p>Antara yang seekspresionis kejeniusan Pep, yang terkesan arogan ala Mourinho, yang tak henti berpikir gaya Zidane, yang berwajah “profesor” seperti Vicente del Bosque, yang gelisah mencari solusi ala Ferguson, atau yang bergejolak ala Capello.</p>
<p>Carlo jauh lebih tenang dengan mengesankan wajah <em>cool</em> mendalami setiap referensi pertandingan dengan sikap yang matang. Begitulah ekspresi gelandang elegan AC Milan era 1980-an itu.</p>
<p>Lima gelar Liga Champios untuk dua klub berbeda, yakni Real Madrid (2014, 2022, dan 2024), dan AC Milan (2003, 2007), serta trofi-trofi liga bersama Milan, Madrid, Chelsea, Paris St Germain, dan Bayern Muenchen adalah bukti bahwa racikan Carlo bukan skema biasa. Semua dia hasilkan dari pendekatan eksepsional.</p>
<p>Belum lagi sederet gelar bersama FC Parma dan Milan yang dia bendaharakan dalam perjalanan karier yang penuh liku dan eksperimen.</p>
<p><strong>Dinamisme Calcio</strong><br />
Gelimang trofi Carlo Ancelotti layak menobatkannya sebagai pelatih besar yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Lima kali meraih trofi dengan dua klub berbeda adalah rekor yang belum didekati oleh pelatih mana pun.</p>
<p>Dia juga dikenal sebagai peracik taktik yang sukses mengelola pemain asal Brazil, yang menyebabkan federasi sepak bola negeri itu sempat tergoda dengan ide untuk merekrutnya sebagai arsitek Selecao, pelatih tim nasional pertama dari luar negara yang bertradisi besar sepak bola itu.</p>
<p>Sederhana saja pendekatannya. Dan, itu bisa disimak dari basis pemikiran yang dia tuang dalam kertas kerja untuk studi kepelatihannya di Coverciano, “<em>Il Futuro del Calcio Piu Dinamicita</em>” atau “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Banyak Kedinamisannya”.</p>
<p>Dari sejak 1993, Carlo Ancelotti telah bergulat di banyak klub. Dari Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, Bayern Muenchen, Napoli, Everton, dan kembali ke Madrid hingga sekarang.</p>
<p>Mula-mula dia meyakini skema 4-4-2 dengan menolak <em>playmaker</em> ofensif. Maka ia kurang membutuhkan <em>fantasista</em> bertipe Roberto Bggio. Namun sejak mengakomodasi Zidane di Juventus pada 1999, dia mulai mencoba-coba formasi dengan mengutamakan dinamisasi lini tengah.</p>
<p>Apalagi setelah di AC Milan. Dia menjawab kritik sang pemilik, Silvio Berlusconi yang tidak suka timnya berskema defensif. Carlo menemukan formasi “pohon natal” dengan Filippo Inzaghi sebagai tombak penyelinap. Dari lini tengah kreatif ala Rivaldo &#8211; Rui Costa ke duet Clarence Seedorf &#8211; Kaka, ditopang metronom yang jempolan mengatur permainan, Andrea Pirlo.</p>
<p><strong>Pencoba dan Penemu</strong><br />
Tak pelak, Carlo Ancelotti adalah pencoba dan penemu skematika, yang dimulai dari kiprahnya di Parma, Juventus, dan AC Milan.</p>
<p>Lalu apa yang dia lakukan di Real Madrid?</p>
<p>Dia mewarisi tradisi semangat kebesaran klub yang memudahkannya menyuntikkan motivasi. Dia juga sukses menstabillisasi permainan Los Blancos yang boleh dibilang musim ini tak terongrong oleh Barcelona.</p>
<p>“Kompetisi ini memberikan kebahagiaan buat saya sebagai pelatih dan pemain. Saya beruntung bisa bekerja sama di klub terbaik dunia setiap hari,” ungkap Don Carlo seperti dikutip dari situs UEFA.</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/06/08/don-carlo-dalam-ekspresi-dinamisme-sepak-bola">Don Carlo, dalam Ekspresi “Dinamisme” Sepak Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mitos Kutukan dan Sindroma dalam Bundar Bola</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/05/18/mitos-kutukan-dan-sindroma-dalam-bundar-bola</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 May 2024 10:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Munchen]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[mikel arteta]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=414671</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sindroma, kau temuikah dia di bundar bola?/ berlaku pulakah mitos kutukan pembawa sial/ juga aura yang memancarkan keberuntungan?/ dalam lipatan selimut rahasia/ di balik teka-teki bulat bundarnya&#8230;// (Sajak &#8220;Mitos-mitos Sepak Bola&#8221;, Mei 2024) PERCAYAKAH Anda, dalam lipatan bundar bola, terselip ribuan ceritera? Ada kesedihan, ada kegembiraan, ada ketidakmengertian, pun ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/18/mitos-kutukan-dan-sindroma-dalam-bundar-bola">Mitos Kutukan dan Sindroma dalam Bundar Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-414675 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/05/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/05/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sindroma, kau temuikah dia di bundar bola?/ berlaku pulakah mitos kutukan pembawa sial/ juga aura yang memancarkan keberuntungan?/ dalam lipatan selimut rahasia/ di balik teka-teki bulat bundarnya&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Mitos-mitos Sepak Bola&#8221;, Mei 2024)</strong></p>
<p><strong>PERCAYAKAH</strong> Anda, dalam lipatan bundar bola, terselip ribuan ceritera?</p>
<p>Ada kesedihan, ada kegembiraan, ada ketidakmengertian, pun ada rasa kepenasaranan. Ya, karena hasil dan akhir takkan pernah bisa terpastikan oleh manusia.</p>
<p>Tak jarang pula sejuta rasa itu dihubungkan dengan nalar metafisika di luar bingkai logika.</p>
<p>Nah, ketika hingga pekan ini Arsenal berpacu poin dengan Manchester City dalam penentuan peraih trofi Liga Primer, berlakukah mitos-mitos berupa sindroma dan &#8220;kutukan&#8221; sepak bola?</p>
<p>Siapa yang bergumul dengan sindroma, siapa pula yang dengan penuh konfidensi melangkahi kendala?</p>
<p>Bisa dipahami bila Arsenal masih terbelit kegelisahan &#8220;sindrom nyaris juara&#8221;. Kekecewaan yang terus berulang dari musim ke musim sejak terakhir kali juara pada 2003-2004, sementara City menegaskan kehadiran sebagai kekuatan utama.</p>
<p>Dari sejak 2020-2021 hingga 2022-2023, Meriam London selalu dominan menjadi &#8220;penguasa&#8221; elite klasemen, namun selalu saja berubah &#8220;tergopoh-gopoh&#8221; di pengujung musim.</p>
<p>Dalam sentuhan atraktif filosofi permainan Mikael Arteta, selalu terjanjikan penyegaran kondisi. Akan tetapi, yang terjadi, &#8220;kenyarisan&#8221; itu mengetengahkan dialektika &#8220;memimpin&#8221;, &#8220;dikejar&#8221;, &#8220;terjajari&#8221;, &#8221; lalu &#8220;tersalip&#8221;.</p>
<p>Martin Odegaard dkk kehilangan mentalitas sebagai &#8220;penantang trofi&#8221; justru di saat-saat menentukan. Dari kompetisi ke kompetisi, mereka bagai menunda kesempatan dalam rongrongan &#8220;sindrom nyaris&#8221;. Dan, sekarang inikah saatnya?</p>
<p>Hari menentukan sedang ditunggu dengan penuh ketegangan hanya dari satu pertandingan. Inilah vonis nasib yang juga menanti sebagian orang dalam dinamika industri kompetisi?</p>
<p>Arsenal-kah, kali ini? Atau tetap City? Mitos apa yang akan berlaku dan apa yang terjungkalkan?</p>
<p>Hingga pekan ke-38 atau laga terakhir liga, jawaban itu baru akan terkonfirmasi. Dan, bukankah ini menegaskan tentang kondisi tradisi bagi The Gunners?</p>
<p><strong>Menundukkan Logika</strong><br />
Mitos dalam sepak bola seperti realitas yang menepikan logika dan dalil-dalil akademik.</p>
<p>Sering pula diyakini sebagai justifikasi. Sindroma dan kutukan bagai memperoleh tempat pembenar dalam khazanah analisis media. Mungkin atas nama viralitas, mungkin lantaran konsekuensi kemeruyakan budaya pop.</p>
<p>Kemenangan dikaitkan dengan faktor nonteknis. Kalah juga dihubungkan dengan pengaruh metafisika. Tak jarang hasil pertandingan ditentukan oleh kosmologi &#8220;langit&#8221;, &#8220;setengah langit&#8221;, atau &#8220;energi kuasa kegelapan&#8221;.</p>
<p>Bukankah hari-hari ini kita disodori penguatan opini mitos: Bayern Muenchen yang seperkasa itu di Bundesliga, dan malang melintang di pelataran Eropa, gagal total karena terefleksi &#8220;kutukan&#8221; Harry Kane?</p>
<p>Oo, betapa menyedihkan. Kane jadi pembawa sial? Dia dianggap mengusung aura negatif bagi Bayern, seperti halnya Tottenham Hotspur yang bertahun-tahun dia bela?</p>
<p>Kapten tim nasional Inggris itu boleh moncer secara individual. Produktivitasnya juga &#8220;menyala&#8221; setelah memutuskan pindah ke Muenchen. Namun untuk kepentingan Die Roten, aura &#8220;kegelapannya&#8221; masih menyelimuti, sama seperti ketika memimpin The Lilywhites.</p>
<p>Dia belum membendaharakan trofi hingga usia 31. Dan, tragisnya, kepindahan ke Muenchen antara lain dengan ambisi meraih piala pun ikut sirna. Bahkan Bayern dinilai terkena imbasnya!</p>
<p>Kutukankah ini, atau sindroma yang terbawa-bawa?</p>
<p>Padahal, bukankah Muenchen menghadapi &#8220;logika kompetisi&#8221; tentang performa Bayer Leverkusen yang memang &#8220;menyala&#8221; di Bundesliga dan Eropa di bawah sentuhan ajaib Xabi Alonso?</p>
<p>Akan tetapi, &#8220;olahan media&#8221; menemukan &#8220;aspek viral&#8221; pada Harry Kane, terkait realitas keabu-abuan penilaian tentang kiprah dan hasil, juga rentetan kenyataan yang tak sebanding dengan potensi seorang pemain.</p>
<p>Lalu bagaimana kita memosisikan Arsenal dalam konteks abu-abu itu, ketika logika statistika sulit menjelaskannya?</p>
<p><strong>Berbeda dari Kasus MU</strong><br />
Persoalan Arsenal berbeda dari kasus Manchester United dan Barcelona. Dua klub terakhir itu sedang berjuang menemukan kembali tradisi yang hilang dalam sejumlah musim terakhir.</p>
<p>Di bagian lain, Manchester City menegaskan punya &#8220;tradisi&#8221; yang tak hanya berupa mitos. Yakni meraih titel juara melalui saat-saat kritis di pekan terakhir.</p>
<p>Penegasan lain dengan empat musim berurutan menjadi pemenang trofi Liga Primer adalah kenyataan yang menghadirkan tambahan tingkat kesulitan bagi Arsenal.</p>
<p>Penentuan gelar juara dengan kesengitan rivalitas hingga pekan terakhir adalah romantisme tersendiri dalam industri kompetisi. Kondisi itu berkebalikan dari dominasi klub tertentu yang sudah memastikan titel beberapa pekan sebelum musim berakhir.</p>
<p>Jadi, percayakah Anda pada mitos; sindroma, kutukan, dan tradisi-tradisi yang mewarnai sepak bola?</p>
<p>Atau, keunikan-keunikan dan usikan tanda tanya itu bagian alamiah dari permainan pop yang sekadar bermakna fana?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/05/18/mitos-kutukan-dan-sindroma-dalam-bundar-bola">Mitos Kutukan dan Sindroma dalam Bundar Bola</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Apr 2024 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[Carlo Ancelotti]]></category>
		<category><![CDATA[DFB Pokal]]></category>
		<category><![CDATA[Jose Mourinho]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Europa]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Xabier “Xabi” Alonso Olano]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=409043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi// (Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024) NARASI apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-409061 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// dia simpan letup kecerdasan/ dari terjemah keanggunan/ tentang dominasi/ tentang intensitas/ tentang kendali/ lalu dia pancarkan cahaya/ tentang kemenangan/ tentang harapan trofi-trofi//</em><br />
<strong>(Sajak “Keanggunan Xabi”, 2024)</strong></p>
<p><strong>NARASI</strong> apakah yang tepat untuk menggambarkan Xabier “Xabi” Alonso Olano, arsitek yang sebegitu cepat melambungkan Bayer Leverkusen ke khazanah “suasana menakutkan” di Bundesliga saat ini?</p>
<p>Kecerdasan dalam keanggunan.</p>
<p>Kira-kira seperti itulah kristal apresiasi yang tepat untuk pria kelahiran 25 November 1981 itu, yang pernah meniti karier bermain di Real Sociedad, Eibar, Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Muenchen.</p>
<p>Dengan pendekatan filosofis yang memusat pada penguasaan bola lewat fokus dominasi lini tengah dan permainan dinamis, Xabi menjalankan strategi kepelatihan dengan doktrin dominasi, intensitas, dan kendali sejak <em>kick off</em>. Dia mentransformasikan mentalitas pemenang, yang dalam dua musim ini menjadi karakter kuat performa Die Werkself.</p>
<p>Xabi, yang seangkatan dengan pelatih Barcelona Xavi Hernandez, dan <em>coach</em> Arsenal Mikael Arteta, sedang menjadi pusat perbincangan. Hingga pekan kemarin, Leverkusen memimpin klasemen Bundesliga, unggul jauh atas “raja Jerman” Bayern Muenchen; dan yang dahsyat: hingga pekan ke-21 tak terkalahkan dalam 40 laga di semua ajang.</p>
<p>Rekor 40 kali tak terkalahkan Leverkusen di bawah Xabi, bertambah menjadi 41 kali tanpa kalah, setelah pada Jumat 12 April 2024 dini hari WIB, menang 2-0 atas West Ham United di Liga Europa.</p>
<p>Pada musim sebelumnya, 2022-2003, Leverkusen menghuni peringkat keenam. Kini mentalitas pemenang terasa benar melecut Patrik Schick cs untuk mengadang ambisi Muenchen dan Harry Kane, kapten Inggris yang tengah berusaha mewujudkan impian meraih trofi pertama dalam kariernya.</p>
<p><strong>Kecerdasan</strong><br />
Puja-puji akan kecerdasan Xabi Alonso bisa disimak dari kesimpulan Sid Lowe, penulis sepak bola <em>The Guardian</em> dalam sebuah <em>podcast</em>. “Dia penganut metode Pep Guardiola, Jose Mourinho, dan Carlo Ancelotti. Dia telah mengambil sedikit dari semuanya, dan dia jelas sangat cerdas&#8230;”</p>
<p>Xabi pernah diasuh oleh Mourinho dan Don Carlo di Madrid, juga merasakan sentuhan genius Pep di Bayern Muenchen. Pelatih legendaris Madrid, John Toshack mengagumi kecerdasan Xabi. Menurut dia, cara berpikir Xabi lebih cepat dari siapa pun. Jangkauan umpannya pun sempurna.</p>
<p>Naluri kepelatihannya mulai tampak sejak masih bermain. Ketika menjadi bagian dari skuad Pep Guardiola di Allianz Arena, dia intens mengamati filosofi sang genius yang juga berasal dari Spanyol itu. Pep, katanya, selalu memiliki rasa ingin tahu untuk memahami permainan tersebut.</p>
<p>Dan, bukankah doktrin dominasi, intensitas, dan kontrol adalah seni taktikal yang diusung Pep baik ketika mengarsiteki Barcelona, Bayern, maupun Manchester City sekarang? Filosofi itu melahirkan performa dengan wajah khas di masing-masing liga.</p>
<p><strong>Apa Rahasianya?</strong><br />
Yang kini menjadi perhatian, bagaimana dia &#8212; yang baru pada 2022-2023 menjalani debut kepelatihan &#8212; bisa secepat itu meroket dan memberi pakem permainan ke level Leverkusen sebagai penantang kuat juara?</p>
<p>Ketika manajemen Bay Arena merekrutnya sebagai suksesor Gerardo Seoane, klub sedang dalam kondisi prihatin: sampai pekan kedelapan musim 2022-2023 menempati posisi ke-16. Kemenangan 4-0 atas Schalke mewarnai kesumringahan debut Xabi, namun kemudian dia sempat diragukan karena kalah dalam enam laga. Perlahan-lahan, dia mencoba mengembalikan konfidensi tim, dan akhirnya menempati peringkat enam dengan 50 poin.</p>
<p>Musim kedua Xabi ditandai buncah harapan dan rekor istimewa, yakni tak terkalahkan dalam 40 laga di tiga ajang hingga pekan ke-21. Bahkan bukan tidak mungkin, Leverkusen bakal mendulang <em>treble</em> jika mampu memenangi titel Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Europa.</p>
<p>Berbagai analisis mencoba menyimpulkan rahasia sukses pelatih muda itu.</p>
<p>Pertama, dia memahami potensi pemain, sehingga bisa menerapkan pendekatan yang tepat untuk mengeksplorasi performa mereka. Yang paling menonjol, bagaimana dia mengangkat kembali kepercayaan diri Florian Wirtz yang sempat absen lama lantaran dirundung cedera.</p>
<p>Wirtz, yang disebut-sebut sebagai “Lionel Messi Leverkusen”, dinilai mampu menerjemahkan strategi Xabi dengan peran sebagai<em> false 9</em>. Dia sukses mengisi kekosongan akibat cedera Patrik Schick.</p>
<p>Dalam sebuah wawancara dengan <em>Daily Mail,</em> Xabi secara khusus memberi penilaian terhadap Wirtz. Menurutnya, ada pemain bagus di lapangan, ada pula pemain yang terlihat bagus bisa melakukan hal-hal bagus, tetapi belum tentu efisien. Wirtz efisien, karena tahu bagaimana dan kapan memberi umpan-umpan sederhana. “Ini tidak selalu tentang membuat langkah yang paling cemerlang, namun yang terbaik dan paling cerdas,” ungkapnya.</p>
<p>Xabi juga mampu memaksimalkan peran Amine Adli, dan Jeremi Frimpong dalam formasi menyerang yang cepat. Frimpong menonjol sebagai sayap kanan yang efektif menyisir pertahanan lawan.</p>
<p>Kedua, dia efektif dalam mengelola bursa transfer. Leverkusen menjual Moussa Diaby, Bakker, dan Kerem Demirbay. Rekrutannya, Victor Okoh Bonifare, Alejandri Grimaldo, Granit Xhaka, Jonas Hoffmann, dan Nathan Tella mampu melebur dalam peran dan taktik yang dia doktrinkan.</p>
<p>Ketiga, Xabi mampu menyusun taktik yang kini menjadi standar Leverkusen. Dilatarbelakangi reputasi sebagai gelandang pengatur serangan yang juga piawai berperan sebagai labirin pertahanan, Xabi menekankan mencetak gol bukan hanya menjadi tanggung jawab penyerang. Semua harus bisa mencetak gol.</p>
<p>Lebih dari itu, “kepengikutan” pemain oleh kekuatan karisma yang melekat pada performa personal, menjadi daya penyatu. Dia mencontohkan perihal komitmen dan moralitas, misalnya tak merespons godaan Bayern Muenchen, Barcelona, dan Liverpool untuk menjadi arsitek suksesor.</p>
<p>Sebagai seorang profesional, wajar apabila suatu saat nanti dia memutuskan untuk mengembangkan capaian karier, namun setidak-tidaknya hingga saat ini, hati dan rasa tercurah hanya untuk Bayer Leverkusen.</p>
<p>Visi tentang rekor capaian Der Werkself untuk memenangi trofi Bundesliga kali pertama, atau titel DFB Pokal kali kedua (setelah 1992-1993), dan juara Liga Europa, menjadi urat tanggung jawab yang sepadan dengan reputasi keanggunan tampilan saat memilari lini tengah Liverpool, Muenchen, dan dalam 114 kali memperkuat tim nasional Spanyol.</p>
<p>Xabi memperkaya khazanah genius muda yang kini malang melintang memimpin klub-klub besar dengan penuh gaya&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/13/xabi-alonso-kecerdasan-dalam-keanggunan">Xabi Alonso, Kecerdasan dalam Keanggunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>