Oleh: Amir Machmud NS
// apa lagi yang diincar/ untuk mempertajam catatan/ capaian baru/ eksepsionalitas tak tersamai/ sebagai pengecualian/ dengan para kompetitor//
(Sajak “Pep Guardiola”, 2025)
MANUSIA rekor. Sebutan itu layak disampirkan kepada sejumlah tokoh sepak bola dengan tingkat pengecualian tiada tara.
Katakanlah, Anda akan menoleh ke sejarah lama untuk mengenang Edson Arantes Do Nascimento alias Pele. Lalu memosisikan Diego Maradona, Zinedine Zidane, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan kini Pep Guardiola, setelah sebelumnya kita juga tidak mungkin meninggalkan nama Alex Ferguson.
Eksepsionalitas itu tak hanya terkait dengan kemampuan untuk membedakan nama-nama itu dari yang lain, namun membawa warna kepada dunia sepak bola lewat catatan dan angka-angka. Bagai cerita, tetapi nyata.
Dan, Minggu dinihari lalu, ketika Manchester City menjamu Liverpool di Stadion Etihad, catatan berbeda itu dibuat oleh Pep Guardiola. Dia melengkapi diri sebagai “manusia rekor”, masuk “klub 1.000”, pelatih yang memimpin tim dalam laga yang ke-1.000. Pria Spanyol itu mengukirnya bersama tiga klub — Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester City — sejak 2007.
Ke-1.000 laga Pep itu dicatat bersama Barcelona B (42 laga), Barcelona (247), Bayern Muenchen (161), dan The Citizens (549). Dalam 18 karier kepelatihannya, dia membukukan 36 trofi, termasuk 12 gelar dari tiga liga yang berbeda. Pep mengukir 716 kemenangan atau sebanyak 71 persen.
Laga ke-1.000 itu menjadi makin berkesan bagi Pep, karena ditandai dengan kemenangan 3-0 City atas Liverpool.
Apresiasi Alex Ferguson
Pelatih legendaris Manchester United, Alex Ferguson secara khusus memberi ucapan selamat dan apresiasi kepada Pep Guardiola. “Saya sangat senang menyambut Anda bergabung dengan League Managers Assosiation Hall of Fame 1.000 club yang bergengsi”, kata Sir Alex, seperti dikutip ESPN (detik.com, 8 November 2025).
Ferguson mencatat lebih dari 2.000 pertandingan, termasuk ketika menangani Manchester United (1986-2013) dengan 49 trofi (38 bersama MU). Manajer asal Skotlandia itu memuji capaian Pep Gardiola, “Cinta dan hasrat Anda yang mendalam terhadap sepak bola selalu begitu nyata. Anda patut bangga atas dampak tak terlupakan nyang terus Anda berikan di dunia sepak bola global”.
Selain Sir Alex, nama lain yang termasuk “klub 1.000” adalah Brian Clough yang identik dengan Nottingham Forest, dan Sir Matt Busby yang dikenal sebagai legenda Liverpool.
Pep mengaku kaget sampai ke catatan tersebut. Dia tidak pernah mengira bisa mendapatkan kemenangan sebanyak itu, dengan persentase yang besar selama berkarier. “Kami sudah melakukan banyak hal luar biasa di Barcelona, Bayern Munich, dan di sini. Luar biasa. Sangat sulit meraihnya,” ucap dia.
Dengan tetap merendah, Pep mengakui, level tersebut dicapai berkat bantuan para pemain top di setiap tim yang ditangani. Setelah itu, dia menekankan kesuksesan itu pada fondasi kerja keras, dedikasi, cinta, semangat, dan untuk tidak kalah dari siapa pun.
Genius
Pep Guardiola dikenal sebagai pelatih genius, mengembangkan filosofi pressing football yang diwariskan oleh mentornya, Johan Cruyff. Saat legenda Belanda itu mengarsiteki Barcelona, Pep bermain sebagai “murid” yang menyerap pemikiran tentang taktik dan filosofinya.
Ketika meneruskan tugas Frank Rijkaard sejak 2007, konsep bermain Barca dipertajam lebih dari pressing football. Pep mendoktrinkannya mirip “ideologi”. Permainan Blaugrana beraksen possession football, yang kemudian dikenal sebagai tiki-taka. Skema taktik menyerang ini bertumpu pada umpan-umpan pendek cepat dengan penguasaan intens bola, mengendalikan permainan, dan mencari celah pertahanan lawan.
Barca begitu superior dari 2007 hingga 2012. Pep menerapkan filosofi itu di Bayern Muenchen (2013-2016). Die Bayern dominan di Bundesliga, namun kurang sukses di Eropa. Para legenda klub mengkritik, tiki-taka ala Barcelona tidak cocok diterapkan sebagai karakter bermain di Bayern. Ketika pindah ke Manchester City pada 2016, dia mengubah klub itu menjadi kekuatan utama Liga Primer, bertumpu pada possession football yang mirip karakter Barcelona.
Kiranya benar apa kata Alex Ferguson, filosofi sepak bola Pep punya dampak global yang takkan terlupakan. Ketika mengilas balik Barcelona 2007-2012, publik sepak bola dunia bakal mencatatnya sebagai warisan yang tidak ada duanya.
Tim nasional Spanyol pun, kendati diarsiteki oleh para pelatih yang tak berlatar belakang Barcelona, cenderung menampilkan performa tiki-taka sebagai karakter permainan La Furia Roja, terutama ketika meraih trofi Euro 2008 (Luis Aragones), juara dunia 2010 dan Euro 2021 (Vicente del Bosque), dan kampiun Euro 2024 (Luis de la Fuente)…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —













