blank
Kampung Adat Praijing di Sumba Barat, NTT. Pemandangan yang eksotis dan nyata bagai lukisan. Foto: TIC Prov NTT

TRADISI budaya, ada-istiadat suatu daerah yang terpelihara dan terawatt menjadi sebuah kearifan lokal, menunjukkan bagaimana warga di tempat tersebut. Kita mengenal Suku Baduy di Banten yang khas, Wae Rebo di Manggarai Flores, Komunitas Sedulur Sikep atau Samin di Blora, dan sebagainya.

Di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, juga terdapat Kampung Adat Praijing yang menjadi destinasi wisata budaya. Kampung ini menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara karena keindahan arsitektur tradisionalnya serta kekayaan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.

Praijing berlokasi di di Tebara, Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, di atas perbukitan dengan pemandangan alam yang indah. Dari atas kampung, pengunjung dapat melihat hamparan savana yang luas serta rumah-rumah adat yang berjajar rapi.

Rumah tradisional di kampung ini memiliki atap tinggi menjulang yang disebut rumah menara, mencerminkan ciri khas budaya masyarakat Sumba. Keberadaan atap yang tinggi tersebut bukan hanya sebagai simbol status sosial, tetapi juga memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan kepercayaan leluhur.

Rumah adat yang dikenal sebagai rumah menara ini berupa rumah panggung dengan atap menara tinggi yang terbuat dari alang-alang. Rumah ini memiliki tiga bagian filosofis: bagian bawah (salikabunga) untuk ternak, bagian tengah (rongu uma) untuk hunian, dan bagian atas (toko uma) untuk menyimpan hasil panen serta sarana pemujaan.

Masyarakat Kampung Adat Praijing masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang terkenal adalah sistem kepercayaan Marapu, yaitu kepercayaan  yang berfokus pada keseimbangan alam, manusia, dan roh leluhur.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat masih menjalankan berbagai ritual adat, seperti upacara kematian, pernikahan, dan kegiatan keagamaan lainnya yang sarat akan nilai budaya.

Kubur batu

Selain itu, di tengah kampung terdapat kubur batu megalitikum yang menjadi ciri khas lain dari budaya Sumba. Situs kubur batu leluhur berada di tengah perkampungan yang masih dirawat dan dihormati oleh warga setempat.

blank
Makam batu peninggalan zaman megalitikum di kampung adat Praijing. Foyo: Tangkapan layar youtube Rajawaliku Channel

Kubur batu ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi para leluhur dan biasanya dihiasi dengan ukiran sederhana. Keberadaan kubur batu tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Sumba masih menjaga tradisi pemakaman kuno yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Kampung Adat Praijing juga menawarkan pengalaman wisata yang edukatif. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, belajar tentang cara hidup tradisional, serta melihat proses pembuatan kain tenun khas Sumba. Kain tenun ini memiliki motif yang unik dan biasanya digunakan dalam berbagai acara adat penting.

Dengan keindahan alam, kekayaan budaya, serta keramahan masyarakatnya, Kampung Adat Praijing menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi saat berada di Pulau Sumba. Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Sumba yang masih lestari hingga kini.

Pengunjung yang datang  ke Desa Wisata Kampung Adat Praijing dikenai biasa untuk wisatawan domestik (berasal dari luar Sumba membayar Rp25.000/orang. Sedangkan untuk warga lokal asal Sumba Rp10.000/orang, anak-anak Rp5.000/orang.

blank
Wisatawan yang datang bisa mengenakan baju adat dengan menyewa sekitar Rp 50 ribu. Foto: tangkapan layar Terbanglah Rajawaliku Channel

Di sini juga tersedia persewaan pakain adat bagi yang berminat, dengan harga sewa Sekitar Rp50.000/orang untuk set lengkap kain tenun khas Sumba.

Karena sudah datang ke sini, mesti ada yang dibawa pulang juga tentunya. Di sini tersedia gerai suvenir yang menjual kerajinan tangan, kain tenun, gelang, serta fasilitas toilet dan homestay bagi yang ingin menginap.

Yohana Djola Djoru