Oleh: Prof. Dr. H. Shodiq Abdullah, M.Ag
Pekan ini kita masih berada dalam suasana dan kesibukan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Secara bahasa, “Idul Fitri” berarti “kembali kepada fithrah”. Maksudnya, setelah sebulan penuh kita menunaikan puasa Ramadan, dilengkapi dengan ibadah lainya, seperti salat Tarawih, Tadarus al-Qur’an, sedekah dan infaq, dan berbagai amal baik lainnya, kita berharap mendapat ampunan atau maghfirah Allah atas kesalahan dan dosa kita.
Sehingga karenanya kita kembali kepada kesucian, kembali kepada fithrah kemanusiaan, sebagaimana Sabda Nabi SAW bahwa: “man shooma ramadhoona imaanan wa ihtisaaban ghufiro lahu maa taqddama min dzanbihi”.
Dalam al-Qur’an, kata “fithrah” memiliki beberapa arti, satu diantaranya yang relevan dengan khutbah ini adalah: fithrah dalam arti “kesucian” Kesucian merupakan gabungan dari tiga unsur, yaitu: benar, baik, dan indah. Artinya, seorang yang benar-benar ber-idul fithri akan selalu berbuat yang benar, berbuat yang baik, dan berbuat yang indah. Perbuatan yang benar, perbuatan yang baik, dan perbuatan yang indah hanya dilahirkan dari jiwa yang suci, dari hati yang bersih.
Dengan kesucian jiwanya, seorang yang benar-benar idul fitri akan memandang setiap persoalan kehidupan dengan pandangan yang positif dan optimis. Seorang yang idul fitri akan selalu berusaha mencari dan menemukan sisi-sisi yang benar, berusaha mencari dan menemukan sisi-sisi yang baik, dan berusaha mencari dan menemukan sisi-sisi yang indah dari setiap persoalan kehidupan yang dihadapinya.
Dengan pandangan positive thinking, seorang yang ber-idul fitri akan berusaha menutup mata terhadap kesalahan dan kejelekan orang lain. Kalaupun ada kesalahan atau kejelekan, maka akan dicarinya sisi-sisi positif dalam sikap dan perbuatan negatif tersebut. Sekiranya sisi positif itu tidak ditemukannya, maka ia akan memberikan maaf, bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan atau kejelekan.
Dalam Surat Ali Imran ayat 133-134 Allah SWT berfirman yang artinya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Selama kita hidup dan bergaul bersama dengan keluarga dan tetangga, selama kita berinteraksi dengan para relasi dalam organisasi ataupun profesi, mungkin kita telah melakukan hal-hal yang menyinggung perasaan, merenggangkan hubungan, menyakiti hati, dan bahkan mungkin telah memutus tali persaudaraan dan persahabatan.
Untuk itu, pada momentum Hari Raya Idul Fitri ini, marilah kita saling memaafkan dan menyambung tali silaturrahim, menyambung tali persaudaraan dan rasa kasih sayang, sehingga dengan demikian kita berharap memperoleh maghfirah dan rahmat Allah. Ingatlah pesan Rasulullah SAW bahwa: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada akhir tulisan ini, marilah kita renungkan pesan Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Baihaqi, yang artinya:
“Wahai Abu Hurairah, Hendaklah engkau berakhlaq mulia! Abu Hurairah bertanya, apakah yang dimaksud dengan akhlaq mulia itu wahai Rasul? Nabipun menjawab: Engkau hubungkan silaturrahim dengan orang yang memutuskannya dari padamu, engkau ma’afkan orang yang berbuat zalim kepadamu, dan engkau beri sesuatu orang yang mengharamkanmu.”
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan melimpahkan Rahmat-Nya sehingga kita mampu menerima dan megamalkan pesan Rasulullah tersebut. Amin Yaa Rabb al-Alamin.
Penulis adalah Ketua YAPTINU Jepara













