WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Kamis (26/3/26), melepas keberangkatan arus balik gratis dari halaman Pendapa Kabupaten. Upacara pelepasannya, diiringi doa agar kaum boro (perantau) sukses.
“Saya berdoa warga Wonogiri yang merantau ke luar daerah, ke depan lebih sukses,” ujar Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Bagi Bupati, suskes kaum boro akan memberikan nilai plus. Baik bagi dirinya sendiri dan keluarganya, maupun bagi kampung halamannya sebagai daerah tempat muasal mereka.
Menurut Bupati, hadirnya ribuan perantau yang merayakan Lebaran Idul Fitri 1447 H (2026 M) di Kabupaten Wonogiri, telah menimbulkan dampak positif. Yakni bagi keluarganya, bagi masyarakat maupun bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang eksis di kampung asal mereka.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Hari Kamis (26/3/26), Bupati melepas keberangkatan arus balik pelayanan gratis sebanyak 13 bus. Pelayanan arus balik gratis ini, mewujudkan adanya perhatian dan keberpihakan pemerintah kepada mereka. Utamanya, untuk memberikan pelayanan gratis pada arus balik pasca Lebaran Idul Fitri 1447 H (2026 M).
Upacara pemberangkatannya, ditandai dengan kibasan bendera start oleh Bupati Setyo Sukarno. Hadir mendampingi Bupati, Sekda FX Pranata dan Staf Ahli Bupati Dokter Adhi Dharma. Ikut hadir para pimpinan dinas dan instansi terkait.
Sebelumnya, kaum boro yang akan melakukan perjalanan arus balik, lebih dulu dijamu sarapan pagi. Mereka juga diberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma oleh Pemkab Wonogiri. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonogiri, Mubarok, berkata: “Kami siapkan tim kesehatan untuk mendeteksi kesehatan para pemudik yang akan menempuh perjalanan jauh.”
Eling Sedulur
Pemeriksaan kesehatan secara gratis ini, kata Kepala Dinkes Wonogiri Mubarok, bertujuan untuk membekali para perantau yang kembali ke Kota, dipastikan dalam kondisi sehat.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menyatakan, pelayanan arus mudik gratis dan arus balik gratis berkaitan dengan Lebaran Idul Fitri, menjadi wujud pemerintah yang hadir dalam melayani warga masyarakatnya. Khususnya bagi mereka yang dalam Lebaran Idul Fitri telah pulang kampung, dan giliran sekarang mereka kembali ke perantauan. “Alhamdulillah selama masa lebaran, kondisi daerah dan masyarakat di sini aman dan nyaman,” tandas Bupati Setyo Sukarno.
Meski di tengah situasi prihatin, karena kondisi ekonomi yang sulit, namun hiruk pikuk masyarakat dalam merayakan lebaran tetap terasa. Budaya eling sedulur (ingat saudara) di Wonogiri, masih kental mewarnai jiwa dan semangat kaum boro yang mudik berlebaran di kampung asal, dalam nuansa kekeluargaan yang guyub dan rukun.
Kehadiran di kampung halaman, menjadi bukti bahwa ikatan silaturahmi mereka dengan saudara di tanah kelahiran, tetap terjaga dengan baik. Dari aspek ekonomi, kedatangan ribuan perantau yang mudik berlebaran, ikut memberikan kontirbusi positif dalam hal pemerataan finansial keuangan.
Artinya, peredaran uang di kampung menjadi bertambah dengan kedatangan kaum boro. Bila masing-masing kaum boro membawa sangu uang Rp 1 juta, dan jumlah yang mudik sebanyak 200 ribu orang (setara 20 persen jumlah penduduk Wonogiri yang mencapai 1 juta orang), maka akan terjadi perembesan keuangan ke kampung asal sebanyak 200.000 x Rp 1 juta = Rp 200.000.000.000,-. Jumlah Rp 200 miliar ini, setara dengan sekitar 57,47 persen dari Pendapatan Aseli Daerah (PAD) Kabupaten Wonogiri yang mencapai Rp 348 miliar lebih.(Bambang Pur)













