SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kinerja penjualan eceran di Jawa Tengah menunjukkan tren penguatan signifikan pada awal tahun 2026.
Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tumbuh sebesar 16,97% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencerminkan optimisme konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.
Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, mengungkapkan bahwa pertumbuhan tahunan tersebut ditopang oleh tiga kelompok utama.
Lonjakan tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi yang tumbuh sebesar 36,14%, disusul oleh Suku Cadang dan Aksesoris sebesar 25,85%, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mencatat pertumbuhan 25,78%.
“Secara bulanan (month-to-month/mtm), IPR juga menunjukkan performa impresif dengan pertumbuhan sebesar 19,21%. Angka ini meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 3,69%,” ujar Andi Reina Sari dalam keterangan resminya, Selasa 17 Maret 2026.
Peningkatan bulanan ini didorong oleh Kelompok Barang Makanan, Minuman, dan Tembakau (28,82%), Barang Budaya dan Rekreasi (13,48%), serta Peralatan Informasi dan Komunikasi (2,74%).
Proyeksi Ramadhan dan Idulfitri
Memasuki Februari 2026, Bank Indonesia memprakirakan kinerja penjualan eceran akan terus melanjutkan tren positif.
Secara tahunan, penjualan diprediksi meningkat 10,14% (yoy) yang ditopang oleh sektor Budaya dan Rekreasi, Suku Cadang, serta Sub Kelompok Sandang.
Secara bulanan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 11,25%. Kondisi ini dipicu oleh persiapan masyarakat memasuki bulan suci Ramadhan serta menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
“Prakiraan pertumbuhan ini disebabkan oleh meningkatnya aktivitas penjualan pada momen Ramadhan dan persiapan Idulfitri, di mana konsumsi rumah tangga pada kelompok makanan dan sandang biasanya mengalami eskalasi,” tambahnya.
Inflasi Semarang Diprediksi Melandai
Kabar baik juga datang dari sisi pengendalian harga di Ibu Kota Jawa Tengah. Tekanan inflasi di Kota Semarang untuk periode tiga dan enam bulan ke depan (April dan Juli 2026) diprakirakan akan mengalami penurunan.
Hal ini terkonfirmasi dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 yang berada di angka 156,8, turun cukup dalam dari posisi bulan sebelumnya sebesar 181,58.
Sementara itu, IEH untuk bulan Juli 2026 tercatat sebesar 167,11, juga melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 176,3.
Andi Reina Sari menjelaskan bahwa optimisme penurunan tekanan harga ini didorong oleh faktor ketersediaan stok pangan di pasar.
“Penurunan prakiraan tekanan inflasi tersebut sejalan dengan prakiraan peningkatan pasokan pada periode masa panen raya yang jatuh pada April dan Juli 2026,” pungkasnya.













