blank
Pusat Bahasa dan Budaya, Universitas Semarang, Workshop, Industri Kreatif, Keynote Speaker, Rektor USM, Narasumber, suarabaru.id

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM LCC), menggelar workshop bertema ‘Kreatif Menulis pada Era Industri Kreatif’, di Ruang Teleconference, Menara USM, Semarang. Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), pada acara yang berlangsung Kamis (12/3/2026) itu, Rektor USM, Dr Supari ST MT.

Narasumber lain yang hadir, sastrawan Triyanto Triwikromo dan CEO PT Marimas Putra Kencana, yang juga content creator edukatif, Harjanto Kusuma Halim. Workshop dipandu Direktur USM LCC, Adi Ekopriyono, diikuti para mahasiswa dan dosen.

Dalam keterangannya, Supari mengemukakan, menulis sesungguhnya bukan soal merangkai kata, melainkan cara merangkai pikiran. Menulis merupakan proses mendisiplinkan gagasan, latihan kejujuran intelektual. Bahkan lebih dari itu, menulis merupakan latihan keberanian, yakni keberanian untuk memiliki sudut pandang.

BACA JUGA: USM Gelar Pemilihan Mahasiswa Berprestasi 2026

Menurut dia, kreativitas memiliki nilai sosial dan kultural. Tulisan dapat membangun kesadaran, sedangkan narasi dapat mengubah perspektif, dan konten bisa membentuk karakter generasi.

”Mari kita jadikan kegiatan ini, sebagai titik awal membangun budaya menulis. Titik awal membangun keberanian berpikir, titik awal membangun integrasi antara kedalaman akademik dan kelincahan digital. Mari kita membuka pikiran, membuka diri terhadap ide-ide baru, dan berani bereksperimen,” pinta Supari.

Ditambahkannya, pada era industri kreatif ini, mereka yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif. Bukan yang paling cepat, melainkan yang paling kreatif.

BACA JUGA: Dosen Fakultas Ekonomi USM Jadi Asesor Eksternal UKK di SMK Palebon Semarang

blank
Rektor Supari (kedua dari kiri), berfoto bersama Eko Adipriyono (kiri), Triwiyanto Triwikromo (kedua dari kanan) dan Harjanto Halim (kanan). Foto: dok/usm

Sementara itu, Triyanto mengungkapkan, secara teologis menulis merupakan respons manusia terhadap perintah Tuhan, “Bacalah!” Apa yang dibaca? Tentu saja tulisan, tapi ada perintah lain, yaitu “Tulislah!”.

Secara historis, imbuhnya, menulis merupakan tindakan perekaman jejak, upaya untuk melawan lupa, mengekalkan sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi, serta sebagai tindakan menziarahi masa depan. Secara filosofis, menulis merupakan tindakan untuk mengekspresikan diri.

”Aku menulis, karena itu aku meruang dan mewaktu. Aku menulis, karena itu aku kontekstual,” ujarnya.

BACA JUGA: USM LCC Tingkatkan Sinergitas dengan Yayasan Alumni Undip dan Rektorat

Sedangkan narasumber lain, Harjanto Halim menyatakan, ide visualisasi gagasan atau tulisan bisa diperoleh dari pengalaman hidup sehari-hari, di mana pun, kapan pun.

”Sering ide itu muncul pada kondisi kita rileks. Biasanya, saya spontan membuat konten,” tukasnya.

Riyan