blank
Manusia pintar mereka-reka, kayu limbah dibuat barang seni, bahkan di era AI janur kelapa pun bisa direkadaya menjadi sebuah mobil. Foto: Reka SB.ID

blank

HIDUP ini, -termasuk orang ketika menjabat-, ternyata sering “harus” pinter-pintere ngreka-daya agar sukses, tetap survive, bahkan berharap dapat memuluskan kenaikan pangkat atau jabatannya. Atau sekurangya biar dianggap berprestasi. Ada yang berhasil dan membuahkan nama baik, ada yang gagal membuahkan cibiran.

Di antara yang disebut terakhir, ada contoh pangreka-daya yang membuahkan penderitaan di pihak korban maupun pelaku. Seorang penjaja/ penjual minuman di Jakarta, contohnya, menjadi korban ngreka-daya dengan tuduhan bahwa yang dijual itu berbahan busa.

Cilaka mencit, tenan, sebab di samping tuduhan itu tidak benar, penjaja itu trauma, dan petugasnya terkena sanksi dari instansinya. Mengapa petugas itu ngreka-daya dan kurang check-recheck seraya langsung “eksekusi?” Mungkin saja karena tergesa-gesa dalam memaknai minuman itu. Mungkin juga ingin dianggap berprestasi.

Ada juga pangreka-daya yang membuahkan tanda tanya besar bikin bengong: “Mosok ah lembaga sehebat itu, begitu?” Tentang “begitu”-nya itulah juga sudah menarik perhatian. Lihat saja: seorang mantan wakil menteri berkata, lembaga A main tipu-tipu dalam menjadikan saya terdakwa. Kata-kata itulah yang menimbulkan masyarakat bertanya-tanya: Mosok ah?

Baca juga Wong-Wong Dremba

Tetapi di sisi lain, juga ada yang bertanya-tanya, jebul kualitas dia hanya begitu ya. “Buktikan saja di persidangan nanti,” jawab lembaga A. Nah……….. njur sapa sing sejatine ngreka-daya? Salah satu pihak saja, atau memang keduanya melakukan pangreka-daya?

Reka-daya

Contoh pangreka-daya dapat diperpanjang karena memang banyak. Boleh dikatakan, siapa saja dan dalam posisi apa saja sangat mungkin melakukan reka-daya dengan tujuan masing-masing.

Tembung reka mengandung tiga makna, yaitu (1) akal, rerigen, strategi; (2) sarana utawa cara kanggo tumindak, sarana atau pun prasarana serta cara tertentu untuk melakukan (eksekusi) sesuatu. Dan makna (3) ialah pertikel, iguh pertikel, saran, nasihat, atau trik untuk melakukan sesuatu.

Jika ada/terdengar kata-kata direka-reka, itu berarti ada rekayasa. Apa pun jika direkayasa, yahhh…….. pasti maksud utamanya ialah mau mencapai suatu tujuan. Namanya rekayasa, sangat mungkin barang atau kondisi apik (baik) direkayasa menjadi elek (jelek). Bisa juga sebaliknya, barang atau kondisi jelek, diapik-apik sedemikian rupa sampai mengesankan baik. Kalau yang diapik-apik itu seseorang, biasanya lalu dikatakan: Kucing-kucing diraupi.

Dari kata reka, digabunglah dengan daya, sehingga semakin menyangatkan menjadi reka-daya (tembung garba) yang berarti rerigen lan srana amrih tujuane kaleksanan: upaya dan sarana yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Inilah rekayasa.

Dan sebuah rekayasa disebut baik atau jelek ditentukan sedmata-mata pada tujuan yang ingin dicapainya. Jika ngreka-daya itu ditempuh  bawahan untuk cari muka ke atasannya, pastilah tujuan utamanya ialah ABS, asal bapak senang; ABSS, asal bapak senyum-senyum, atau ABM2, asal bapak manggut-manggut. Apakah tujuan agar ABS, ABSS, ABM2 itu jelek? Dapat dipastikan jelek manakala sarana yang dipergunakan/ditempuhnya jelek.

Baca juga  Wong-Wong Kemba

Dari kata reka, dapat juga ada kata baru, yaitu ngreka yang artinya golek akal, golek pertikel; dan juga gawe tetiron, membikin skenario dengan cara merekayasa. Di sinilah rawan terjadi tipu-tipu, trik-trik kasar maupun halus; bahkan mungkin tuduh sana tuduh sini seraya menyebut nama si Polan atau si Bolang terlibat di belakang dsb.

Pada suatu ketika, terjadilah krisis daging di mana-mana. Seorang pedagang memanfaatkan secara licik situasi itu. Ia hanya menggantung sekerat daging saja dan selalu mengatakan persediaan habis.

Seorang pembeli yang tidak kalah cerdik berkata: “Sekerat dagingmu ini berapa harganya?” Pedagang mengatakan seratus ribu, dan tinggal ini saja. “Sayang kalau begitu, saya membutuhkan potongan yang lebih besar, berapa pun harganya,” kata calon pembeli itu seolah-olah mau pergi.

“Tunggu,” kata pedagang itu sambil mengambil sekerat daging itu, memasukkan ke almari es, lalu mengeluarkan lagi daging yang sama itu, katanya: “Ini yang lebih besar, harganya 150 ribu.”

Calon pembeli tak mau kena tipu-tipu trik pedagang, berkata: “Kalau begitu dua-duanya saya beli saja semua, dua ratus lima puluh ribu, kan?” Pedagang terdiam bengong dan calon pembeli berlalu.

Di atas ini contoh menarik, tipu-tipu memang sebaiknya dibalas secara lebih cerdik lagi sampai kecangar, maksudnya dipermalukan. Sayangnya karena levelnya tidak seimbang, -misalnya wong pangreka-daya-nya  lebih “kuat-” yahhhh pasti menanglah.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis masalah Pendidikan dan kebudayaan Jawa tinggal di Ungaran