
BAPAK Presiden, dengan ungkapan Anda “Siapa tidak becus, saya ganti;” menegaskan kepada khalayak, betapa bapak sangat geram menghadapi wong-wong kemba. Izinkan saya mengelaborasi tentang wong-wong kemba itu dalam tulisan ini; siapa tahu dapat menjadi pendorong bagi mereka lalu berubah sedikit demi sedikit menjadi ora kemba maneh.
Alkisah, seorang pria di Asia, setelah menabung beberapa lama memutuskan untuk sekeluarga pergi ke Italia. Sehari sebelum berangkat, ia menyempatkan diri pergi ke tukang cukur, dan biasalah, terjadi percakapan hangat di situ.
Tukang cukur: “Anda sekeluarga akan ke Italia, mau naik apa?”
Pria yang berbunga-bunga itu menjawab: “Italian Airlines.”
Tukang cukur itu segera menyergahnya: “Jangan naik itu, jelek pelayanannya, anda pasti akan bosan.”
Pria itu diam saja tanpa memberi reaksi, tetapi tukang cukur itu segera bertanya lagi: “Di Roma mau apa saja?”
Agak ogah-ogahan pria itu menjawab: “Antara lain mau audiensi dengan Paus.”
Tukang cukur itu tertawa berbahak: “Mau berjumpa Paus? Siapa anda, dan mana mungkin dapat menjumpai orang sesibuk beliau?” Pria itu terdiam saja, meski dalam hatinya berpikir: Orang tidak tahu namun sok tahu; inilah salah satu contohnya.
Dua bulan kemudian, pria itu mendatangi tukang cukur itu lagi; dan percakapan hangat mulai lagi. “Apa kataku, benar kan?” tukang cukur itu mengawali pembicaraan.
Pria itu segera menjawab: “Sama sekali salahhhhh.” Lalu ia berkisah tentang bagusnya dan memuaskannya pelayanan di pesawat. Ia juga berkisah betapa pada hari audiensi dengan Paus tiba. Sekeluarga mereka bisa berfoto-foto dengan Paus, bahkan sempat mencium cincin kepausannya.
“Apa kata bapak Paus kepada Anda?” tanya si tukang cukur.
Pria itu menjawab: “Paus memandangi wajah saya, lalu setengah berbisik berkata: ‘Anda cukur kepada siapa sebelum berangkat? Potongan rambutmu kurang menarik’.” (Frank Mihalic, SVD. 2000: no 27 hal 14-15)
Kemba
Tukang cukur ini adalah contoh sangat nyata tentang wong kemba. Dia merasa sok tahu, bahkan memaksakannya kepada orang lain. Padahal ia sendiri tidak tahu apa-apa, atau kalau pun tahu hanya setengah-setengah.
Kemba, memiliki tiga arti menarik, yakni (1) ora mantep, tidak menunjukkan betapa ia seseorang yang mantap baik kerja maupun perilakunya. Selanjutnya (2) kemba berarti ora mempeng, tidak menunjukkan kesungguhan hati dan kerja, setengah-setengah dan tidak giat bekerja.
Baca juga Wong-Wong Mangro
Bisa jadi ia ora ngerti kudu nyambut gawe, piye; tidak tahu harus bekerja seperti apa. Dan (3) wong kemba itu bagaikan sayur, terasa cemplang, kurang garam, bisa jadi juga kurang gurih atau kurang sedap. Hambar.
Bapak Presiden, rasanya bapak harus benar-benar melihat mereka itu mantap atau setengah-setengah bekerjanya; mereka itu mempeng, yakni giat dan tahu tentang pekerjaannya atau tidak; serta mereka itu hambar gak hasil pekerjaannya.
Jika memang ada di antara mereka tampak ora mantep, ora mempeng, dan cemplang bekerjanya (cara kerja maupun hasilnya), rakyat pasti mendukung mereka dicopot.
Godaan Jabatan
Godaan jabatan yang paling sering muncul ialah tampil sok tahu seperti tukang cukur yang senyatanya belum pernah naik pesawat atau pun bepergian ke suatu tempat tadi. Ora ngerti nanging sok rumangsa wis ngerti; belum tahu namun merasa sudah tahu. Inilah godaan pejabat (baru?). Kurang rendah hati, bergaya menguasai masalah, padahal belum sepenuhnya.
Godaan kedua pasti berkaitan dengan “mudah terperangkap,” entah oleh berbagai laporan, isu atau masalah; sehingga kurang selektif menghadapi berbagai masukan. Kalau modelnya si tukang cukur tadi, dia mung kulakan banjur didol maneh; dia hanya mendengar cerita seseorang, atau bahkan sekedar “jarene…..katanya….” sudah langsung dijual kepada pelanggannya. Seorang Menteri atau kepala Badan jangan begitu dong, kemba namanya jika seperti itu.
Dan godaan ketiga, tergopoh-gopoh dalam banyak hal; terutama dalam menghadapi anggaran. Reaksi atas orang tergopoh-gopoh itu macam-macam: Ada yang gagap, ada yang langsung in-on namun kurang teliti, ada juga yang langsung tembak di tempat, action di tempat.
Baca juga Wong-wong Yutun
Para pembantu Presiden, peringatan “akan dicopot” oleh bapak Presiden hendaknya mendorong anda semua untuk benar-benar menjadi orang yang ora kemba. Hindarkan dirimu dari kemba-wang, yaitu banyak omong saja karena merasa sudah bekerja, merasa masih ada banyak waktu longgar, maka lalu omong sekedar omong. Jangan begitu. Bekerjalah sing mantep, sing mempeng, lan sing mirasa; bekerjalah penuh kemantapan hati dan pikir, giat jasmani dan rohani, serta bisa dirasakan enak bagi masyarakat.
Salam untuk Bapak Presiden.
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng












