
WARGA masyarakat sudah terhibur senang manakala ada pimpinan, entah di kementerian atau lembaga/badan, yang mengungkapkan niatnya untuk memberantas korupsi.
Contohnya, secara bersemangat pimpinan mengatakan: “Jangan menjadi kapal keruk di instansi. Seumur-umur namamu akan dikenang anak buah sebagai tukang keruk.” Ada juga kata-kata tegas pimpinan yang menyatakan: “Sejumlah BUMN merugi terus, tetapi direksi-direksinya minta tantiem-nya naik terus. nDableg!”
Sekedar kata-kata atau ungkapan seperti itu saja, sekali lagi, masyarakat sudah terhibur senang karena mengharapkan agar ada gerakan dan benar-benar terjadilah pengurangan tindak korupsi oleh siapa pun dan di instansi atau Lembaga mana pun. Mosok mau korupsi terus, gak bosan ta?
Baca juga Wong-Wong Kemba
Karena terucap oleh pimpinan, ungkapan “Jangan jadi kapal keruk,” atau pun “Jangan ndableg” selayaknya dimaknai oleh siapa pun yang merasa dirinya anak buah atau aparat, sebagai peringatan keras. Kalau pun misalnya ungkapan itu disampaikan sebagai bumbu dan seolah-olah guyonan, siapa pun pantas menangkapnya secara cerdas: “Ohhhhhh……. serius nih.”
Kemaruk dan dremba
Inti dari kata-kata “peringatan” pimpinan itu mendalam sekali, yakni jadilah aparatus negara yang baik. Di antara bukti baik itu antara lain jadilah pribadi yang ora/aja kemaruk, ora/aja dremba. Apa itu maksudnya?
Kemaruk, di beberapa tempat terucap maruk, mengungkapkan kondisi wong doyan mangan amarga waras. Orang yang beberapa hari sebelumnya sakit, lalu sembuh dari sakitnya; biasanya berlanjut dengan suka makan (banyak). Kondisi semacam itulah yang disebut dengan kemaruk atau maruk itu. Namun, kondisi ini seharusnya hanyalah berlangsung beberapa saat saja, tidak permanen, dan orang kembali normal pola makannya.
Jika kemaruk itu berlangsung terus seolah menjadi pola makan baru, nah ………… inilah yang disebut dremba. Maknanya, berawal dari kemaruk, yaitu seneng lan kesenengen mangan karena habis sakit; berlarut berlanjut menjadi pancen mangane (tadhahe) akeh. Inilah dremba.
Orang dremba ialah orang yang memang porsi makannya banyak, lebih banyak dari orang pada umumnya. Bisa dibayangkan, ikutan dari suka makan sebanyak-banyaknya seperti itu, ia pasti akan menjadi rakus. Seseorang disebut rakus karena makan apa saja, bahkan makan milik siapa saja.
Dalam konteks korupsi, orang seperti itulah disebut kapal keruk, karena mengeruk apa saja dan milik siapa saja. Seumur-umur, sampai tua pun orang semacam itu pasti akan dikenang dengan sebutan: “Ohhhh…bapak KK beliau” Namanya atau pangkatnya dilupakan orang, sebab yang teringat KK-nya, kapal keruknya.
Mengapa dremba?
Mengapa ada saja pribadi-pribadi yang sebenarnya sudah berpangkat (tinggi), namun justru kelakuannya dremba? Jawaban paling gampang memang terletak pada perubahan pola dan gaya hidup dalam mengukur sukses seseorang.
Baca juga Wong-Wong Mangro
Zaman dulu, seseorang disebut sukses itu ukuran utamanya ialah keluarganya; seperti anak-anaknya “jadi orang,” keluarga itu rukun, keluarga itu banyak berderma dan jiwa sosialnya tinggi.
Jadi, pengukurnya ialah moral-spiritual. Zaman sekarang (entah mulai kapan?), tolok ukur sukses lebih dititik beratkan pada sukses secara materiil kasat mata: tanah, rumah, mobil, tabungan, dan sejenis itu. Maka, jika dremba dapat menjadikan seseorang kaya raya secara materill, ditempuhlah. Tidak harus menunggu pangkat atau jabatannya tinggi, begitu melihat peluang dapat “nyikat,” yahhhhh tidak dilewatkan.
Alasan lain mengapa orang tergiur dremba karena melihat orang lain sudah terlebih dulu dremba dan aman-aman saja. Mungkin awalnya melu-melu, ajar saka liyan, lama-lama menjadi ketagihan: dremba. Perutnya sudah telanjur melar, berkembang; jika makannya hanya sedikit, terasa lapar terus. Jadilah dremba.
Perut
Bicara tentang makan, pasti bicara tentang bagaimana memuaskan perut. Secara umum, perut terasa puas (maksudnya orang merasa puas makan) ketika makanan itu enak, mirasa,; perut kenyang; dan hati senang serta tenang.
Namun, mari mendengarkan nasehat dokter. Ada dokter memberi rumus sehat dikaitkan dengan makan dan perut. Yakni, perut kita masing-masing memiliki kapasitas berbeda. Agar sehat, seyogyanya perut diisi makanan sebanyak sepertiga dari kapasitasnya. Mengapa hanya sepertiganya saja?
Karena, di samping perut ini harus diisi makanan, juga harus diisi air minum yang cukup. Kecukupan air minum bagi setiap orang, gampangnya, sepertiga dari kapasitas perut. Dan……….. untuk apa sepertiganya lagi dari perut ini setelah yang sepertiga untuk makanan dan sepertiga untuk minuman?
Dokter itu secara sederhana berkata: “Anda butuh bernafas, kan? Bahkan setiap detik orang harus bernafas, dan bernafasnya harus lancar dalam arti teratur. Ketersediaan udara untuk bisa bernafas lancar-teratur ada di perut.
Genaplah, sepertiga kapasitas perut ini untuk makanan, sepertiganya lagi untuk minuman/cairan; dan sepertiganya lagi untuk udara. Kalau dremba, bayangkan saja, betapa tidak ada ruang cukup untuk cairan dan udara. Perut terasa mbesesek, kewaregen, kenyang full. Akibatnya, boleh jadi bernafasnya ngos-ngosan. Mau bernafas ngos-ngosan terus?
Simpulannya, dremba itu tidak sehat; dan kalau tidak sehat, bisa sakit-sakitan, bisa ngos-ngosan. Analoginya, korupsi itu identik wong dremba, masa depannya ora sehat. Apa artinya sugih tetapi tidak sehat jasmani rohani? Maka, aja ndableg.
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng













