GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dampak banjir akibat jebolnya Tanggul Tuntang masih dirasakan para petani di persawahan Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan.
Hingga kini, sejumlah lahan pertanian milik warga belum dapat digarap karena tertutup sedimentasi lumpur yang cukup tebal.
Kondisi persawahan di Desa Tinanding, Godong, Grobogan berubah drastis setelah banjir akibat jebolnya Tanggul Tuntang pada Februari 2026 lalu.
BACA JUGA : Gunakan Besek Bambu, Polres Grobogan Bagikan Ribuan Paket Daging Kurban
Endapan lumpur membuat permukaan sawah meninggi sehingga air irigasi tidak lagi mampu mengaliri lahan secara normal.
Akibat kondisi tersebut, petani kesulitan memulai musim tanam baru. Beberapa area sawah bahkan dibiarkan terbengkalai karena tidak bisa digenangi air seperti sebelumnya.
Keluhan warga terkait dampak jebolnya tanggul itu disampaikan langsung kepada Sekda Jawa Tengah, Sumarno, saat berdialog dengan masyarakat Desa Tinanding pada Rabu (27/5/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung di halaman Masjid Roudlotul Jannah, Desa Tinanding. Warga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan berbagai persoalan pascabanjir, terutama kerusakan sektor pertanian.
Salah satu petani, Sumarsih, mengaku sawah miliknya seluas 1,5 hektare hingga kini belum dapat ditanami akibat tertutup lumpur banjir.
Menurutnya, sedimentasi lumpur membuat kondisi lahan berubah total dibandingkan sebelum tanggul jebol.
Permukaan sawah milik Sumarsih kini lebih tinggi dibandingkan area pertanian lain di sekitarnya. Perbedaan elevasi itu membuat aliran irigasi tidak bisa masuk ke lahannya.
Akibatnya, sawah tersebut tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tanam pada musim ini.
Di hadapan Sekda Jateng, Sumarsih berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar lahannya kembali produktif.
“Saya pingin sawahnya dikeruk saja, supaya bisa ditanam lagi,” ujar Sumarsih saat menyampaikan keluhannya kepada Sekda Jateng di Desa Tinanding.
Mendengar keluhan itu, Sumarno langsung meninjau lokasi sawah milik warga bersama jajaran terkait.
Pemerintah ingin memastikan secara langsung tingkat sedimentasi lumpur yang menutup area pertanian warga pascabanjir Tanggul Tuntang.
BACA JUGA : Jelang Pensiun, Camat Pakis Aji Luncurkan Aplikasi Si – Jampang
Saat tiba di lokasi, Sumarno melihat permukaan sawah memang mengalami peninggian akibat endapan lumpur yang cukup tebal.
Kondisi tersebut membuat lahan tampak berbeda dibandingkan sawah lain yang masih produktif dan dapat ditanami.
Menurut Sumarno, persoalan itu harus segera ditangani karena berkaitan langsung dengan mata pencaharian utama masyarakat setempat.
Mayoritas warga Desa Tinanding selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian sawah.
Sumarno menilai langkah paling memungkinkan untuk dilakukan saat ini ialah pengerukan lahan agar elevasi sawah kembali normal.
“Solusinya memang harus dikeruk supaya elevasinya sama dengan sawah sebelah, sehingga air bisa kembali menggenangi area yang tertimbun,” jelas Sumarno kepada warga.
Kawasan LSD
Selain meninjau sawah terdampak, Sekda Jateng juga menjelaskan bahwa kawasan Desa Tinanding termasuk dalam zona Lahan Sawah Dilindungi atau LSD berdasarkan RTRW Provinsi Jawa Tengah.
Menurutnya, wilayah tersebut memiliki tingkat kesuburan tinggi dan menjadi salah satu kawasan penting penunjang ketahanan pangan daerah.
“Kalau melihat RTRW, wilayah ini pasti masuk LSD karena memang daerahnya subur. Sawah di sekitarnya juga masih hijau dan tetap ditanami,” kata Sumarno.
BACA JUGA : Lansia di Loram Kudus Jadi Korban Perampokan Brutal, Pelaku Gondol Perhiasan Rp100 Juta
Ia juga menyoroti kerusakan saluran induk irigasi akibat banjir yang dipicu jebolnya Tanggul Tuntang. Saluran tersebut dinilai sangat vital bagi kebutuhan pertanian warga Grobogan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun berkomitmen melakukan koordinasi lanjutan bersama pihak terkait guna menentukan langkah teknis penanganan lahan pertanian terdampak.
“Nanti akan kami koordinasikan lebih lanjut. Kami dari tim perencanaan berkomitmen menyelesaikan masalah ini karena menyangkut mata pencaharian warga,” ujar Sumarno.
Warga berharap penanganan dampak banjir di persawahan Desa Tinanding, Godong, Grobogan dapat segera direalisasikan agar lahan kembali produktif dan bisa ditanami pada musim berikutnya.
Selain mengganggu aktivitas pertanian, banjir yang merusak persawahan di Desa Tinanding, Godong, Grobogan juga memukul pendapatan petani.
Warga kini menunggu realisasi pengerukan sawah agar aktivitas pertanian kembali normal dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.
TYA WIDYA













